Idul Fitri dan Fenomena Alienasi

Sabtu, 19 September 2009 | 18:50 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta – Hari Idul Fitri tiba, suatu hari dalam kehidupan kaum muslim yang sering disebut sebagai hari kembali kepada kesucian (‘id al-fitr) atau hari kemenangan (yaum al-fath). Meskipun demikian, kelahiran kembali umat Islam dalam bentuknya yang suci kali ini sesungguhnya menimbulkan banyak renungan dan tanda-tanda. Antara lain, bahwa Idul Fitri kali ini kita rayakan di tengah kecenderungan pada lapisan atau kelompok sosial tertentu ke arah situasi keterasingan atau alienasi.

Fenomena alienasi yang tampil dengan ciri masyarakat yang serba boleh (permissive society) dalam masyarakat modern digambarkan oleh Roderic C. Meredith sebagai “Curse of Western Society”. Permissive society, demikian Roderic melanjutkan, tidak mengakui adanya kebenaran abadi (eternal truth). Sebab, ia didoktrin oleh psikologi permisif yang mengajarkan: “There is no eternal truth, there can be fixed by which we can judge any issue, no way knowing what is right or wrong and certainly, no God to look for guidance” (Tak ada kebenaran abadi, segala persoalan dapat kita pastikan dan putuskan, tak ada jalan untuk mengetahui apa yang benar dan yang salah, dan sudah pasti, tak ada Tuhan untuk mencari bimbingan).

Secara historis, kecenderungan semacam itu memang pernah terjadi dalam masyarakat Arab pra-Islam. Dan tampaknya, kini hadir kembali dalam sejarah masyarakat modern yang menganut paham permisivisme, ultraliberal, dan semacamnya, yang teralienasi dari nilai spiritualitas-religius, tak terkecuali bangsa Indonesia, yang notabene mayoritas muslim.

Betapa tidak? Meski kita telah masuk orbit reformasi, ironisnya, kini kita justru berada dalam kekuasaan para elite politik, bahkan ulama dan intelektual dari negeri seribu etnis ini, yang hanya sibuk berebut kekayaan dan kue-kue kekuasaan dengan cara-cara tribal. Kasus suap dan korupsi yang kian menggurita di semua lini kehidupan adalah bukti konkret bahwa moralitas politik dan ekonomi, bahkan moralitas keagamaan, kini hanya sebatas komoditas politik dan ekonomi yang indah dan manis di bibir, tapi diragukan berfungsi mengontrol perilaku mereka.

Lengkap sudah teror bagi rakyat. Bukan hanya aksi teror Noor Din M. Top dan sekutunya, tapi juga teror mental para elite kita yang kini malah berburu dan berebut kursi lima tahun ke depan. Nafsu dan syahwat kekuasaan, yang mestinya menjadi energi utama demi mewujudkan kesejahteraan rakyat, kini dibelokkan hanya untuk tujuan kemewahan kekuasaan. Lalu, bila ada satu hal yang kiranya dapat berperan secara maksimal untuk meluruskan kembali yang melenceng, memelihara dan meningkatkan moralitas individu, masyarakat, dan bangsa, itu adalah agama. Hari raya Idul Fitri kali ini semestinya memberi momentum untuk memulai hal itu.

Misi agama
Secara substansial, misi utama setiap agama dengan kitab sucinya dimaksudkan untuk mempertemukan kehendak dan kasih Tuhan di satu sisi, dengan kehendak dan perjalanan manusia di sisi lain. Demikian juga agama Islam dan syariat yang dibawa oleh Nabi SAW, termasuk di dalamnya ibadah puasa yang sangat pribadi itu, sejatinya dimaksudkan untuk menyadarkan umat manusia agar mampu melihat realitas lain yang lebih tinggi dan hakiki, yaitu Realitas Ilahi yang Maha Hadir (omnipresent).

Benar bahwa sains dan teknologi telah memperpendek jarak suatu negara dengan negara lain, planet yang satu dengan planet lain. Namun, kedekatan itu tidak berarti menjamin eratnya persahabatan di antara sesama manusia, dan tidak pula berarti bahwa pengalaman dan perjalanan spiritualnya semakin mendalam. Artinya, semakin jauh dan sejauh-jauh pengembaraan manusia dengan sains dan teknologinya, bila tanpa visi keilahian, mereka akan tetap terkungkung dan melingkar-lingkar dalam orbit bumi yang selalu dihadapkan pada jalan buntu dalam upayanya meraih pengetahuan.

Pada saat yang sama, karena terlalu mengagung-agungkan sains dan teknologi, mereka menjadi manusia-manusia yang teralienasi dari nilai spiritualitas-religius, dan membuat mereka menjadi positivist. Pandangan dunia yang dibangun di atas premis positivis-empiris ini pada gilirannya akan membawa implikasi pada penolakan realitas yang berada di luar jangkauan indra dan rasio.

Dalam konteks inilah, visi dan kesadaran spiritualitas yang dibangun melalui ibadah puasa menjadi sangat urgen dan diyakini akan mampu menembus kabut kegelapan yang menghalangi pandangan nurani, karena inti spiritualitas terletak pada wilayah batin (inner life). Maka, sangat relevan jika dimensi spiritualitas itu mampu hadir dalam proses transformasi sosial, yang wilayah operasionalnya terletak pada dataran struktural, atau titik beratnya pada dimensi praksis dari perilaku seseorang dalam jaringan-jaringan institusi masyarakat.

Kesadaran manusia
Dalam perspektif Islam, kesadaran spiritualitas berimpit erat dengan kesadaran manusia. Artinya, semakin tinggi kesadaran keberagamaan seseorang, semestinya semakin tinggi pula kualitas kemanusiaannya, dalam kondisi dan situasi yang bagaimanapun. Ini berarti, nilai kemanusiaan hanya bisa dipahami ketika semua perilaku lahir-batinnya diorientasikan kepada Tuhan, dan dalam waktu yang bersamaan juga membawa implikasi konkret terhadap upaya meningkatkan nilai-nilai kemanusiaan. Pendeknya, manusia tidak bisa dipahami tanpa keterkaitannya dengan Tuhan dan keterkaitannya dengan manusia lainnya dalam kehidupan sosial.

Kiranya benar apa yang dikatakan oleh Imam al-Ghazali dalam karya magnum opus-nya, Ihya’ Ulumuddin, bahwa, “Aktivitas kemanusiaan yang tidak diterangi cahaya Ilahi bagaikan orang yang berjalan di atas lorong setan yang gelap. Dan orang yang sekadar percaya kepada Tuhan, tetapi tidak menumbuhkan sifat-sifat atau nilai-nilai spiritual-religius di dalam dirinya, ia bagaikan iblis yang gentayangan.”

Senada dengan hal itu, W.M. Dixon dalam bukunya The Human Situation mengatakan, agama merupakan dasar yang kuat bagi moral. Lebih lanjut Dixon menulis, “Religion truth or false, which is attendant belief in God and world to come, has been on the whole. If not the only, at least we may belief a stout bulwark of morality” (Agama, salah atau benar, yang mempercayai adanya Tuhan dan dunia mendatang, telah lengkap. Jika tidak satu-satunya, paling tidak kita harus percaya sebagai dasar yang kuat bagi moralitas).

Nah, selama bulan Ramadan, jasmani dan rohani kita telah digodok untuk beribadah dan bermuamalah secara proaktif agar menjadi manusia yang bermoral dan bertakwa. Manusia yang lebih mengenali jati dirinya sebagai manusia yang lemah. Manusia awam yang gampang dikotori oleh debu duniawi. Ini berarti, setelah ber-Idul Fitri, setiap orang semestinya akan mengalami reaktualisasi diri sebagai manusia primordial, sosok manusia baru yang suci. Sinyal ketuhanan dan kemanusiaannya pun tak meredup, bahkan kian kuat meski Ramadan telah lewat.

Tak ada lagi selingkuh kekuasaan serta dusta atas janji-janji politik, karena nafsu liar kekuasaan telah tertundukkan setelah menjalani terapi rohaniah sebulan penuh. Saat itulah berlaku makna simbolik Idul Fitri, yakni kembalinya manusia kepada fitrah kemanusiaan. Sosok manusia yang dekat dengan Tuhan, manusia yang suci, bermoral, bertakwa, serta tidak teralienasi dari nilai-nilai spiritual-religius.

* MAKSUN, Dosen Fakultas Syariah IAIN Walisongo, Semarang

Sumber: tempointeraktif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s