63 tanggapan untuk ““Maaf, Saya Menghormati Orang yang Tidak Puasa””

public.kompasiana.com“>publik.kompasiana.com

1. amril,
— 25 Augustus 2009 jam 4:35 am

kepada non muslim yang tidak berpuasa memang sudah seharus kita hormati.

tetapi kalo ada orang muslim tidak berpuasa, ngapain kita harus hormati.

jadi kalo ada warung yang ditutup, atau diatur jam operasionalnya, itu untuk tidak menghormati orang muslim yang tidak berpuasa.
2. Umar,
— 25 Augustus 2009 jam 4:36 am

Salam,

Tentu saja saya setuju dengan sikap Anda, walau tidak 100%. Apa yang Anda lakukan memang sangat baik. Tetapi, kalau kondisinya memang seperti yang Anda sampaikan, saya akan lebih memilih menghormati teman saya yang sudah berusaha menghormati kita yang sedang berpuasa.

Maksud saya, menghormati itu tidak perlu disuruh-suruh, sebagaimana juga tidak perlu dilarang-larang. Alirkan saja.

Mohon maaf kalau pendapat saya salah, saya mungkin hanya terlalu dalam memikirkan perasaan teman Anda itu. Entah bagaimana tidak nyaman-nya beliau harus merokok, makan dan minum di depan kita yang berpuasa.
Mungkin seperti orang yang hanya memakai celana renang di hadapan orang yang berpakaian lengkap.

wallahu a’lam

Umar
3. amril,
— 25 Augustus 2009 jam 4:39 am

jadi maaf juga… saya tidak menghormati orang muslim yang tidak berpuasa
4. palawija,
— 25 Augustus 2009 jam 4:46 am

menurut saya sebaiknya demikian jangan malah kita minta dihormati karena kita sedang berpuasa, kehormatan itu bukan diminta tapi adalah bagaimana perilaku kita sehingga orang lain pantas menghormati / memberi penghormatan bukan karena teriak2 hormatilah saya
5. Molas,
— 25 Augustus 2009 jam 5:05 am

Pa Abdi, menurut saya, itu masalah etika ” waktu dan tempat”. Sudah dewasa apalagi orang Indonesia, jika makan/minum rokok secara demonstrative didepan yang berpuasa, itu rasanya kurang elok. Kecuali bagi wanita berhalangan. Salam!!
6. syarif ridwan,
— 25 Augustus 2009 jam 5:49 am

Saya khawatir orang yang membaca tulisan anda dan selama ini tidak berpuasa, akan seenaknya makan-minum, merokok dimana saja secara demonstratif, seraya berharap bahwa orang-orang yang sedang berpuasa atau siapa pun yang ada didekatnya dapat memaklumi dan menghormatinya sebagai orang yang tidak berpuasa. Saya justru menghargai sikap kawan anda itu yang telah berusaha menghargai orang yang berpuasa dengan cara mematikan rokoknya. Justru anda yang tampak terlampau berlebihan hingga melewati batas kewajaran!
7. Gurantang,
— 25 Augustus 2009 jam 7:15 am

Bulan Ramadlan yang suci menuntun kita banyak bersabar dan banyak memaafkan… Jika “mereka” tak sudi menghormati kita yang tengah berpuasa, tentu akan sangat mulia kalau justeru kita yang lagi puasa saja yg menghormati mereka…. dan itulah islam !!! sangat luhur dan mulia. Semoga hal itu akan menjadi penyempurna ibadah kita, AAMIIIN !
8. Elfian Zupikar,
— 25 Augustus 2009 jam 7:34 am

Hukum Fisika entah milik siapa (Aksi=reaksi) ternyata tidak melulu bekerja pada area ilmu eksakta. Ilmu sosial juga menyerap konsep dasar hukum tersebut. Jika kita menghormati orang lain, orang lain akan menghormati kita. Jika kita melecehkan orang, kita akan dilecehkan. Orang jelas akan mencari kejelasan, orang tidak jelas tidak mencari jelas. Orang benar membenarkan, orang salah menyalahkan. Hakim menghakimi dan orang kafir mengkafirkan yang lain. Selamat membaca lukisan alam yang sarat makna pesan-pesan Allah SWT.
9. damntia,
— 25 Augustus 2009 jam 7:35 am

Ass. Wah baru ada yang berpikiran seperti sampeyan mas, bukan minta dihormati puasanya tapi justru malah bisa menghormati yang tidak puasa. Salut, saya doakan semoga anda istiqamah dan menjadi golongan orang2 yang Qalbun Salim. Jangan kita mengemis2 pengormatan puasa dari orang yang tidak berpuasa. Mereka memang tidak punya kewajiban itu, dan kita pun mana berhak melarangnya, selama masih dalam batas normal, dan bukan suatu kesengajaan untuk melecehkan orang berpuasa ya kita pun wajib menghormatinya. Cuma sayangnya di Indonesia ini muslimnya gila hormat semua mas, gak sperti sampeyan ini yang berpikiran bijaksana dan mendalam maknanya, ada orang jualan siang2 dibongkar jualannya. Lha mereka kan juga punya tanggung jawab mencari nafkah untuk anak istri dan keluarga, lha kok malah dibongkar paksa ini gimana?Lha kalo memang kuat puasa ya gak pengaruh mau ada segelas es didepannya hgak akan ngaruh.
10. Andy,
— 25 Augustus 2009 jam 7:37 am

Yang menjadi masalah adalah bagi seorang muslim yang tidak puasa tapi malah dengan demonstratif menunjukkan bahwa dia itu tidak puasa.

Hal itu sama saja mempermalukan dirinya sendiri tapi dia tidak sadar.
11. haryo,
— 25 Augustus 2009 jam 7:50 am

Setuju dengan pendapat penulis, tapi kalau merokok mohon maaf kan asapnya saya ikut kebagian (saya yang termasuk mengharamkan rokok..untuk saya sendiri), saya akan lebih menghargai kalau rokoknya dimatikan. Kalau makan atau minum monggo saja karena tidak menganggu secara langsung.
12. Sandy,
— 25 Augustus 2009 jam 7:52 am

Setuju. Biarkan kehidupan yang berada di luar kontrol kita berjalan seperti biasa. Anggap orang2 makan minum di sekitar jadi ujian bagi puasa kita.

Bukan berarti kita menyuruh mereka yang tidak berpuasa (non muslim) untuk makan dan minum di hadapan. Hanya kalau memang terjadi, terimalah sebagai ujian.

Kalau yang muslim tidak berpuasa, nasehati saja. Tidak perlu dengan kekerasan.

Jika semua muslim bisa berpikir seperti itu, pasti damai dunia.
13. piter,
— 25 Augustus 2009 jam 8:00 am

sebenarnya yang mau dipenuhi dalam puasa itu nilai spiritualnya atau sekdar memenuhi hukum atau aturan. ada juga orang yang berpuasa pada bulan lain, selain ramadhan, di sana ia berjumpa dengan begitu banyak orang yang makan dan minum secara berlebihan namun karena niat dan kerinduan memenuhi nilai spiritualnya, dia mampu menahan diri pun tidak mengatakan kepda orang lain ‘awas aku lagi berpuasa loh’.

nilai puasa itu rasanya akan semakin tinggi bilamana ada godaan yang datang bertubi-tubi dan kita mampu melewatinya, di sini kita tak perlu menuntut orang untuk menghormati kita yang lagi berpuasa. biarkan semuanya terjadi, dari pihak kitalah yang dituntut dengan apa yang disebut ‘discernment’.

andaikan saya perokok keras dan niatku adalah tidak merokok, niatku tidak ditantang apa-apa bila yang datang bertamu adalah seorang yang tidak pernah merokok. namun akan jadi beda bila yang datang adalah seorang perokok dengan terus mengepulkan asap….duh pengen bangat merokok ne, namun aku mampu mengendalikan diri. setelah tamuku pulang, akan ada sikap batin yang berbeda, di sana ada kepuasan batin karena mampu bertahan di hadapan kepulan asap rokok yang mengharumkan.

sama halnya dengan puasa makan, puasaku akan berarti(baca ditantang) bila melihat hidangan lezat di hadapanku. namun tak ada tantangan jika ‘lah emang emang di meja kagak ada apa-apa’….

so, dalam puasa tak perlulah kita menuntut untuk dihormati secara berlebihan, apalagi sampai ke tingkat menghancurkan tenda atau warung orang hanya gara-gara dibuka pada saat puasa. puasa akan kehilangan makna spiritualnya dan lebih berumara pada aspek legalistik.

Terima kasih saudara Abdi, selamat berpuasa demi nilai spirtual
14. viant,
— 25 Augustus 2009 jam 8:04 am

kepada saudaraku semuslim, saya pikir hal yang dilakukan penulis adalah biasa, karena apa.. kita kembalikan lagi kepada Al Quran dan Sunnah Rasullulah Muhammad SAW.. itu saja intinya.., karena sudah cukup sangat jelas dikatakan didalam AL Quran dan Sunnah Rasullulah Muhammad SAW hal tersebut yaitu puasa itu bagi siapa sih.. ‘bagi orang2 yang beriman..’, singkat saja kan.. bagi seorang muslim itu yang kita pegang dan utamakan dahulu, memang gak perlu berlebihan dalam mempunyai sikap “oh.. gak apa2 koq..”, kalau memang ada orang lain yang tidak berpuasa tersebut (seperti halnya merokok dalam tulisan diatas) lantas orang tersebut ingin mematikan rokoknya ya gak apa2.. seperti yang saya katakan gak usah berlebihan, kalaupun orang lain itu juga ingin terus melakukan aktifitasnya (seperti merokok) ya kita biarkan saja.., kita nikmati saja senikmat-nikmatnya perintah ALLAH SWT untuk berpuasa ini, karena seperti apa yang dimaksud didalam AL Quran adalah “seorang umatku yang melakukan ibadah adalah untuk dirinya akan tetapi ketika umatku tersebut berpuasa maka itu adalah untuk-Ku”, oleh karena itu kita yang benar-benar beriman dan menjadi muslim mari kita berpuasa dengan sebaik-baiknya dan senikmat-nikmatnya..
15. sis12,
— 25 Augustus 2009 jam 8:04 am

Lanjutkan! Ada tertulis dalam Kitab Suci: Kalau kamu berpuasa, minyakilah rambutmu dan segarkan mukamu serta bersikaplah seperti biasanya, agar orang lain tak tahu kalau kamu sedang berpuasa dan Tuhan yang melihatmu akan melimpahkan berkatnya yang melimpah. Kalau kamu berpuasa untuk mendapatkan pujian, maka sesungguhnya berkatmu telah diberikan oleh orang-orang yang memujimu. Salam, mohon ma’af lahir bathin.
16. ade,
— 25 Augustus 2009 jam 8:09 am

sikap saling menghormati seperti itulah yang mestinya tertanam pada jiwa setiap insan yang mengaku dirinya punya jiwa pancasila dan jg beragama….
tidak melakukan sesuatu (makan/minum) karena memang tidak tersedia bukan puasa namanya…memang ga ada yg dimakan/diminum…bukankah puasa intinya adalah menahan hawa nafsu…dan yang mestinya paling mudah untuk ditahan adalah makan dan minum…itu belum nafsu yang lain loh….ngerumpi, berprasangka buruk sama orang lain, iri dengki dengan yang lebih beruntung, dll….
bayangkan orang yang puasa senin-kamis pasti lebih berat godaannya dibanding dengan puasa ramadan karena saat itu yang lain tak berpuasa…..
17. asrim,
— 25 Augustus 2009 jam 8:12 am

Kepada penulis, saya menghimbau penulis agar jangan menyediakan asbak dirumah, menganjurkan agar tamunya tidak merokok karena merokok itu tidak sehat, kalau anda memang berpuasa sebaiknya menganjurkan kawan non muslim tersebut untuk mulai mencoba berpuasa tidak merokok, ingat ..ingat….merokok itu tidak sehat. Mari mencoba berbuat amal dengan anjura-anjuran yang baik untuk sesama manusia.
wassalam
18. ririn,
— 25 Augustus 2009 jam 8:46 am

Saya setuju sekali dengan piter, puasa jadi semakin “berarti” justru disaat saya berpuasa di tengah orang yang sedang tidak berpuasa. Keimanan dan niat saya untuk berpuasa seakan tengah diuji.

Ada bagian dari diri saya yang kadang justru “menyesal” saat berpuasa di bulan Ramadhan. Bukan karena bulannya yang memang penuh berkah. Tapi saya sedih karena harus melihat orang2 menjadi lemas dan lesu dengan mengatasnamakan puasa. Padahal bukankah seharusnya puasa tidak membatasi aktivitas kita sehari-hari?
19. Hanif,
— 25 Augustus 2009 jam 9:01 am

Pertama saya salut dan berterimakasih pada Anda karena telah menyajikan suatu different point of view yang menyehatkan pola pikir saya.

Maka izinkan saya menyatakan opini saya yaitu respon terhadap opini Anda, sebagai berikut:
1. Masalah puasa dan ibadah lainnya bukanlah masalah hormat-menghormati an sich, tapi lebih jauh kepada penegakan hukum agama bagi pribadi yang bersangkutan dan penyediaan fasilitas serta penyingkiran halangan bagi pelaksanaannya.
2. Jadi, memang umat Islam tidak perlu ‘meminta’ non muslim untuk menghormati mereka yang berpuasa. Dan sebaliknya non muslim pun tidak perlu -misalnya- meminta muslim ‘menghormati’ mereka apabila hendak menjalankan ibadahnya.
3. Problem akan timbul bila pelaksanaan ibadah masing-masing agama ini mulai ‘dikotori’ oleh tindakan-tindakan provokatif yang berlawanan dengan maksud pelaksanaan ibadah tadi, misalnya dengan sengaja membunyikan klakson keras-keras ketika berkendara lewat tempat pelaksanaan ibadah.
4. Tindakan provokatif pada point 3 diatas kemungkinan besar tidak langsung timbul pada skala se-ekstrim itu, tapi didahului dengan perubahan paradigma dari “awas ada orang ibadah jangan diganggu” menjadi “coba kalau diklakson, mungkin mereka -yang menjalankan ibadah- maklum” dan sampai ke “memangnya kenapa, klakson/kendaraan ‘kan punya saya..”
5. Maka seruan untuk ‘menghormati’ pelakasanaan ibadah umat agama lain sebenarnya -menurut saya- adalah bentuk halus dari peringatan agar jangan coba-coba untuk mengganggu pelaksanaan ibadah tersebut.
6. Pada akhirnya, semangat toleransi yang kita harapkan adalah sikap saling hormat tanpa dibuat-buat, tapi tidak juga terlalu seenaknya -”menghormati dengan cara yang dipahami sendiri”- sehingga berpotensi disalahtafsirkan.

Salam
20. mihrodi,
— 25 Augustus 2009 jam 9:28 am

Orang muslim yang tidak puasa juga harus kita hormati mungkin orang muslim tersebut lagi sakit sehingga dia tidak puasa atau orang muslimah tersebut sedang berhalangan atau haid maka dia tidak puasa. Intinya jika kita menghormati manusia kita pun akan dihormati sebagai manusia.
21. wiwid,
— 25 Augustus 2009 jam 9:39 am

Setuju..Saya biasanya tertawa aja melihat warung buka dengan banyak orang makan didalamnya. Itu hak mereka kok..Agama itu urusan pribadi..sangat privasi…Jadi…buat apa ngurus orang ..Mereka punya lasan sendiri..
22. ojodumeh,
— 25 Augustus 2009 jam 9:49 am

Sikap yang dilakukan teman anda yang non muslim itu yang menurut saya sudah tepat karena dia menghormati anda yang sedang menjalankan ibadah puasa tanpa anda meminta dihormati yang dengan kata lain dia sebagai seorang non muslim mempunyai etika moralitas yang baik, dan anda juga harus menghormati orang non muslim yang sedang makan tapi tidak ditempat umum dan terbuka karena hidup ini harus saling hormat menghormati arti kata saling itu yaitu hubungan timbal balik antara beberapa pihak yang terkait satu sama lainnya. apalagi kalau ada sorang muslim yang makan & minum seenaknya ditempat terbuka itu janganlah kita menghormatinya bahkan kalau bisa masukin aja kecomberan yang bau & busuk karena neraka jahannam lebih lebih busuk tempat untuknya. yang wong orang non muslim saja makan dan minum ditempat tertutup masak orang muslim makan & minum ditempat terbuka…..hehhehehe…..maaaf apabila ada yang tersinggung memang lidah ini tidak bertulang. Tapi saya berharap ini dianggap suatu pencerahan dan perbaikan “akhlaqul qarimah”. Amien.
23. embete,
— 25 Augustus 2009 jam 9:56 am

Sama saja seperti memaksakan sebuah wacana yang tak jelas dan tak ada manfaatnya buat orang lain, tapi dipaksakan juga kepada orang yang gak percaya, kan jadi aneh bin ajaib, bikin orang lain terheran-heran dan bingung tujuh keliling.
24. Pandega,
— 25 Augustus 2009 jam 9:59 am

Saya heran sekali. Kenapa hormat-menghormati orang yang berpuasa begitu sangatnya menjadi polemik di masyarakat. Padahal seharusnya hormat-menghormati itu menjadi hal yang sangat wajar dan memang seharusnya seperti itu (hormat-menghormati), apalagi di Indonesia yang kental dengan ketimurannya.

Seperti halnya apabila agama lain menjalankan ibadahnya, antara lain:

Umat Kristiani menjalankan misa nya di gereja, semua orang harus menghormati ===> itu biasa saja.
Umat Hindu Bali menjalankan ibadah Nyepi, semua kegiatan di Bali off semua. tidak boleh ada kegiatan apapun baik oleh orang Hindu maupun yang non Hindu. Dan semua harus mengormatinya ===> itu juga biasa saja.
Atau adat kejawen yang mengadakan ritual labuhan ageng, maka semua orang harus menyingkir dari tempat dimana labuhan ageng dilaksanakan, misal di pantai atau di gunung. Dan semua orang harus menghormati ===> itu juga biasa saja.
Tapi kalau orang berpuasa dan seharusnya memang orang yang tidak berpuasa baik non muslim maupun muslim juga menghormati (hormat-menghormati antara sesama) ===> itu menjadi polemik yang heboh.

Kenapa terjadi seperti itu?
25. Abdi Dharma,
— 25 Augustus 2009 jam 10:28 am

Salam sejahtera teman2 sekalian.
Pada postingan hari ini saya sudah mendapat teman yang jumlahnya pada saat saya membalas komentar ini adalah 1473 orang dengan komentar sebanyak 24 orang

Terima kasih banyak kepada anda yang sudah membaca tulusan ini, terutama kepada anda yang sudah mau menulis komentar, baik pro maupun contra. Semoga komentar anda dapat memperkaya tulisan saya dan dapat menjadi ajang berbagi rasa dan memperluas wawasan di antara para blogger dan komentator.

Tulisan saya hanya menggambarkan salah satu cara dalam menghormtai orang yg tak puasa karena memang berhak untuk tidak puasa seperti non-muslim, muslimah yang sedang mens, dan muslim yg berhalangan karena sakit.

Pembaca tentu punya cara lain yang juga baik dalam menghormati orang yang tidak puasa karena alasan yang wajar tsb.

Saya setuju kalau muslim yg tidak puasa karena tidak taat, tidak perlu dihormati karena berarti dia tidak menghormati dirinya dan agamanya. Orang seperti ini perlu diberi teguran yang dapat menyadarkan dan memotivasi dirinya untuk berpuasa, sekaligus menghormati oang puasa.

Tentu kita perlu memikirkan agar cara kita dalam menghormati orang tidak puasa jangan sampai membuat mereka menjadi tidak menghormati orang puasa. Kepada pihak-pihak tertentu yang memang jelas tidak menghormati orang yang puasa, tentu perlu disikapi dengan tindakan bijak dan tegas yang dapat menyadarkan mereka tapi tidak merusak puasa kita.

Sekali lagi terima kasih kepada anda yang telah membaca dan yang akan membaca setelah saya menulis balasan komentar ini
26. Vandhie,
— 25 Augustus 2009 jam 10:40 am

Saya sangat SALUT dengan pengalaman dan prinsip hidup Anda. Jarang sekali lho ada orang MUSLIM yang berpuasa punya Hati seLUHUR Anda. Jujur, sekali lagi saat baca tulisan Anda, saya langsung berguman, “Nah,.. ini baru penghayat agama dan puasa yang benar”.

Sikap Anda tentu bisa menjadi bahan inspirasi jutaan umat muslim lain dalam melaksanakan ibadah puasa dalam relasi dengan sesama non-muslim. Memang, sesama yang tidak berpuasa, makan, minum, warung, restoran, tempat makan yang lain kiranya justru menjadi tantangan, batu ujian, dan sarana pemurnian hati dan niat yang tulus dalam berpuasa. Hati perlu dikendalikan agar makin sempurna sesuai dengan makna puasa. Justru bila orang mampu mengendalikan diri dari nafsu, amarah, kemurkaan, dan niat menghancurkan sesama saat puasa, dialah orang yang telah berhasil BERJIHAD secara benar.

sekali lagi,.. selamat untuk ANDA. Kalau kita ingin dihormati, mari kita lebih dahulu menata diri dan menghormati orang lain. Bila semua umat muslim sudah mampu hidup seperti Anda, niscaya penghormatan akan datang dengan sendirinya, tidak perlu disuruh-suruh, bahkan dengan kekerasan. Kekerasan dan angkara murka justru akan menghancurkan makna puasa.

Selamat berpuasa kepada Anda dan semuanya!!!
salam kompasiana!
27. vino warsono,
— 25 Augustus 2009 jam 10:50 am

Saya pikir sikap Mas Abdi cukup baik dalam menghormati orang lain yang tidak seagama, tapi saya tidak setuju dengan pendapat Mas Abdi untuk membiarkan orang lain merokok di sekitar kita apalagi di rumah kita, rokok sangatlah tidak sehat dan membodohi akal, dan kitapun akan kebagian asap tidak sehatnya, sekedar sharing jika berkesempatan Mas Abdi dapat melihat artikel ini http://public.kompasiana.com/2009/06/08/perokok-dan-orang-bodoh/ dan http://vino-warsono.blogspot.com/2009/08/jangan-mau-jadi-perokok-pasif.html
terima kasih semoga bermanfaat.
Salam Kompasiana, Salam Ukhuwah Islamiyah…selamat Menuaikan Ibadah Puasa, semoga mendapatkan piala TAQWA. Amin.
28. asrim,
— 25 Augustus 2009 jam 11:58 am

Setuju, dari diskusi diatas memangterlihat bahwa kita memang terlalu banyak retorika soal hormat menghormati bla..bla..bla yang belum tentu langsung berhubungan dengan kesehatan kita, padahal ada poin yang jelas-jelas berhubungan dengan kesehatan kita yaitu membiarkan orang lain merokok didalam rumah kita. marilah dengan semangat puasa ini kita coba menghentikan kebiasaan merokok buktinya banyak rekan yang biasanya harus merokok setiap hari ternyata dapat menahan diri untuk menghindari rokok sehari penuh.
mohon maaf bagi rekan-rekan yang masih berada dalam genggaman r o k o k
salam hormat
29. Alexrifstar,
— 25 Augustus 2009 jam 12:52 pm

Lentur bgt. Kalo kita terlihat lemah gemulai malah mudah terdzalimi. Emang tdk ada paksaan dlm agama. Tp bagaimanapun kita diwajibkan dakwah (mengajak) kita keluarga dan org lain pada sbuah kebaikan. Jangan sok selamat sendiri. SULIT MEMANG HIDUP APA ADANYA DAN SESUAI AJARAN RASUL.
30. ichwan kalimasada,
— 25 Augustus 2009 jam 12:53 pm

maaf hormatilah org yg tdk korupsi,he..he..
31. tuti,
— 25 Augustus 2009 jam 12:59 pm

Kalau bicara tentang alasan kesehatan nampaknya tidak ada yg protes soal menghormati … Kalau semuanya dilakukan sewajarnya dengan penuh sopan santun saling menghargai sebenernya semua tidak ada masalah
32. atria,
— 25 Augustus 2009 jam 1:41 pm

saya tidak setuju dengan sikap anda. kalau anda mau menghormati orang lain, mulailah dari menghormati diri anda sendiri. apabila benar saat itu anda sedang berpuasa, tentunya itikad teman untuk menghormati anda selayaknya diterima sebagai bagian dari proses menghormati diri sendiri. dan kenapa pula anda menyuruh pembantu/orang rumah (yang mungkin pada saat itu sedang berpuasa) menyediakan makan dan minum bagi seseorang yang tidak berpuasa? bagian mana dari tindakan itu yang menghormati orang yang sedang berpuasa yang notabene termasuk diri anda sendiri juga?
33. Andoko Mardjuni,
— 25 Augustus 2009 jam 1:43 pm

Salut untuk anda Pak Abdi…. anda benar benar muslim sejati yang telah menghayati nilai nilai dan intisari ajaran Agama Islam.
34. Bune Laras,
— 25 Augustus 2009 jam 1:58 pm

Tulisan yang brilian. Seandainya semua orang berpikir seperti Anda, pasti semua orang akan berlomba-lomba untuk menghormati bukan dihormati. Dan tidak ada orang yang gila hormat. Terima kasih, Pak Abdi.
35. mulyos,
— 25 Augustus 2009 jam 1:59 pm

Pastingan yang bagus. Saya pernah ke Padang dan Banjarmasin dalam bulan puasa. Wah disana semua warung dan restaurant harus tutup. Saya tanya ke sopir taxi , kalau semua tutup lalu kalau ada musafir, turis non muslim mau cari makan bagaimana ? Ya ndak tau pak jawabnya. Ndak tau apa sampai sekarang masih berlaku perda larangan berjualan di bulan puasa di ke dua kota itu. Mungkin aparat pemdanya bisa baca postingan ini sebagai bahan masukan.

Salam,
36. putri,
— 25 Augustus 2009 jam 2:13 pm

setuju atas tulisan ini… sedih sekali rasanya membaca berita bahwa ada segerombolan orang mengobrak abrik warung nasi yang buka… kan berpuasa bukan berarti berhenti berusaha… kasian sekali pemilik warung nasi itu. saya sbg non-muslim membaca artikel ini merasa sangat senang sekali masih ada orang seperti pak abdi yang menghormati orang yang tidak berpuasa. bravo pak! semoga puasanya lancar dan amal ibadah diterima oleh Allah Swt… seandainya kita semua selalu bisa hidup berdampingan dalam damai…tentunya akan menyenangkan sekali..=)
37. DIHAR,
— 25 Augustus 2009 jam 2:54 pm

Terimakasih atas tulisan yang simple namun begitu menggugah. Saya sebagai orang non-muslim sangat kagum dengan pemikiran saudara. Saya berharap ke depannya semakin banyak orang-orang yang berpikiran seperti saudara. Salam hormat dari saya.
38. trisula,
— 25 Augustus 2009 jam 2:55 pm

Saya pribadi, walaupun sedang berpuasa, tidak masalah ada orang makan di hadapan saya. Sama sekali tidak merasa di lecehkan atau tidak dihormati. Saya puasa untuk Allah, bukan untuk di hormati orang- orang.

Bersikap seperti biasa, saya setuju penulis. Yang puasa, puasa, yang tidak, yah silahkan mau makan, dan lainnya. Godaan datangnya bukan dari luar, tapi dari dalam diri kita sendiri.
39. Andy Syoekryamal,
— 25 Augustus 2009 jam 2:57 pm

Salam kenal mas abdi, yg penting masnya kagak ikut nyicipi untuk menghrmati kawan yg gak puasa, ya gak paapa…, he he he
40. mamamia,
— 25 Augustus 2009 jam 3:44 pm

salam …lain lubuk lain ikannya….jadi berpuasalah dengan pikir dan budi…selamat menjalankan ibadah puasa
41. afan,
— 25 Augustus 2009 jam 4:00 pm

untungnya teman anda masih menghargai anda, dan teman anda masih punya sopan. lagian aneh juga klo ada orang yg minta dihormati alias “banci” hormat. kecuali bagi mereka yg memang gila hormat.

btw, dah 2009 masih merokok? gedubrak!!! klo cuma makanan kecil sih gpp.
42. deltapro,
— 25 Augustus 2009 jam 4:12 pm

puasa itu amalan/ibadah khusus manusia dg tuhannya,hanya allah saja yg bisa menilai seseorang itu puasa atau tidak!!
43. bocahcilik,
— 25 Augustus 2009 jam 4:41 pm

sebagai Orang muslim yg jelas dilarang makan daging babi,
karena hukumnya haram.kalau pada suatu ketika anda tersesat disatu wilayah
yg mayoritas memakan daging babi. apakah anda juga akan ikut makan?
padahal sdh seharian belum makan,yg jelas tidak kan, karena niatnya memang tidak makan, apapun resikonya.kalau puasa takut tergoda?berarti niatnya memang setengah hati dan takut kalah.unt antipasi kekalahan yaitu,orang jualan makanan dibongkar jualannya.buka warung disuruh tutup dgn paksa.selesaikah?!?! sedangkan yg berjualan TA’JIL menjamur dimana2 disemua daerah, pasar dan perkotaan.mengapa ada perlakuan yg berbeda?
apakah karena kata ta’jil?(mengandung bahasa arab jadi sah2 aja).apakah penjual ta’jil hanya diperuntukan bagi orang yg berpuasa? jadi tidak usah ribet masak unt buka puasa.sehingga bagi penjual ta’jil tdk perlu dilarang? apakah tidak ada yg beli dan langsung dimakan ditempat pada saat sebelum waktunya berbuka? bagi non muslim dan muslim yg tidak puasa
tidak boleh beli ta’jil?ATAU karena penjual ta’jil berdagangnya secara berkelompok kalau dilihat ada sekitar ratusan yg berjualan ta’jil. sehingga yg biasa melakukan swiping jadi minder?(personilnya paling puluhan)
atau…!!! maaf mengkopy paste tulisan #9 damntia “Cuma sayangnya di Indonesia ini muslimnya gila hormat semua mas” wallahu a’lam
Salam, mohon ma’af lahir bathin
44. iwan wibawa,
— 25 Augustus 2009 jam 4:43 pm

menurut saya esensi tulisan itu adalah bahwa kalau kita berpuasa jangan lah minta dihormati, karena hormat itu akan datang dengan sendiri, baik dari yang tidak berpuasa dengan berbagai alasannya, maupun sesama muslim yang berpuasa.
hidup dalam rasa rendah hati, tawwadlu dan iklas, jauh dari keconkakan sebagai kaum yang sedang berpuasa.
45. jiwaku,
— 25 Augustus 2009 jam 4:43 pm

Bisa saja untuk menghormati tamu kita, kita batalkan puasa kita…karena ada hukumnya juga sih menghormati tamu itu. setuju gak?
46. Sanjaya,
— 25 Augustus 2009 jam 5:30 pm

Tutup warung nasi!!Tutup jg pasar yg menjadi penyedia kebutuhan makanan!!….Ntar aku buka dan sahur makan apa ya????
47. cindy sagit,
— 25 Augustus 2009 jam 6:06 pm

Toleran atau saling menghargai untuk hal2 yang positif agar tercapai kedamaian bersama diantara perbedaan…
Itu saja…!
48. Sei,
— 25 Augustus 2009 jam 8:48 pm

Maaf tapi muslim memang gila hormat di negara ini.
49. Damianus Gading,
— 25 Augustus 2009 jam 10:12 pm

Lebih daripada sekedar sebuah tradisi dan ketaatan pada aturaan Agama…Berpuasa adalah sebuah Spiritualitas….pencarian akan “Wajah Allah” dalam setiap peristiwa hidup kita.
Berpuasa adalah bentuk “Latihan Rohani” yang sempurna…karena dengan berpuasa kita belajar untuk lepas dari sikap “kelekatan” pada dunia….
Selamat Berpuasa saudara-saudaraku

Salam
50. alfiyandarojat,
— 26 Augustus 2009 jam 1:28 pm

Tampaknya Penulis mempunyai latarbelakang atau peristiwa yang membuat tersampaikannya CURHAT tersebut, dengan niat saling mendoakan dan saling menyayangi, semoga apa yang kita semua lakukan dan rencanakan mendapat ridlo dari ALLAH SWT. Amin…
51. nurkhalis,
— 27 Augustus 2009 jam 1:15 am

Yang Naik mobil menghormati yang naik motor, yang naik motor menghormati yang naik sepeda, yang naik sepeda menghormati yang jalan kaki, yang perut kenyang menghormati yang lagi laper. (JANGAN DIBALIK-BALIK DONG !!!!)
52. hehehe,
— 28 Augustus 2009 jam 10:09 am

Maaf tapi muslim memang gila hormat di negara ini.

@ sei

otak kamu yg gila
53. asof,
— 28 Augustus 2009 jam 10:24 am

Tapi yang naik motor juga jangan sewenang-wenang dong, main serobot, main potong jalan orang seenaknya. itu juga yang mesti dilakukan jika kita ingin mencapai kemenangan yang sesungguhnya dalam puasa kita….

Selamat berpuasa…
54. Anwari Doel Arnowo,
— 28 Augustus 2009 jam 12:56 pm

Silakan membaca tulsan saya: Bulan Suci di:
http://anwariarnowo.blogspot.com/2009/08/tulisan-ini-ditulis-pada-tahun-2004.html
semoga bisa dibuka.
Salam saya, Anwari Doel Arnowo – 28 Agustus, 2009
55. Kang Marto,
— 28 Augustus 2009 jam 2:29 pm

Bravo, pencerahannya, alangkahnya indahnya banyak orang yang toleran. Saya yang tidak berpuasa jika bertemu saudara akan saya katakan “Anda sungguh bijaksana dan berbudi luhur”
56. Lia,
— 28 Augustus 2009 jam 6:50 pm

Saya kagum dengan anda, dengan kelapangan hati anda. Puasa dan tidak puasa adalah hak pribadi setiap orang. Lagipula kalau orang beragama lain puasa apakah orang-orang menutup warung makannya? saya rasa tidak. jadi, marilah kita menghormati orang yang tidak berpuasa. Tuhan memberkati
57. Johan,
— 29 Augustus 2009 jam 4:31 pm

Asyik memang kalau para calon penghuni huni surga dan penghuni neraka saling menghormati, hehehe… Kalau saya mah menghormati kedua-duanya, namanya juga pilihan…
58. muhlutfie,
— 30 Augustus 2009 jam 5:46 pm

begitulah seharusnya, alangkah eloknya kalau puasa itu menyatu dengan kehidupan kita. jadi tidak perlu menyengsarakan orang lain : melarang ini itu, menutup ini itu.
59. sipenatua,
— 31 Augustus 2009 jam 12:03 am

Setuju dengan penulis. Oang yang berpuasa akan menerima ‘hormat’ dan pahala dari Allah SWT sendiri, bukan dari manusia, jadi gak usah lah mengharapkan dihormati orang lain yg tidak berpuasa, justru Allah tidak suka orang yang begitu. Kalau kita sedang berpuasa, malah akan lebih berpahala kalau kita bersikap bugar seolah-olah kita sedang tidak berpuasa, bukannya meminta ‘dihormati’, tolonglah hormati saya karena saya sedang puasa! Kalau kita malah menghormati orang lain yg tidak berpuasa, “silakan makan saja, tidak usah sungkan karena saya berpuasa”. saya yakin Allah SWT akan memberi pahala berlipat ganda! Ini termasuk pemberian zakat fitrah, tidak usahlah kita pamerkan kepada orang lain (apalagi disorot TV), karena kita sedang memberikan apa yang Allah perintahkan dan mengembalikan sebagian dari milikNya yang sudah kita nikmati. Apa yang kamu lakukan dengan tangan kananmu, tidak usahlah tangan kirimu tahu! Biarlah Allah SW yang tahu. Amin
60. Anaxianipar,
— 31 Augustus 2009 jam 9:04 am

Saya kira teman Anda yang tidak berpuasa itu kurang beretika. Masya, sih, dia sudah tahu temannya yang hendak dikunjungi adalah muslim, berarti wajib puasa, lantas dia datang dengan asap rokok ngepul-ngepul. Waktu dia di jalan menuju rumah Anda (kecuali dalam mobil pribadi) dengan asap rokok ngepul-ngepul, itu saja rasanya sudah tidak etis.

Ketika dia di rumah Anda lalu Anda yang tahu teman Anda itu perokok yang tidak berpuasa, bertanya: “Lho, tidak merokok, sobat?”; lalu Anda mempersilakannya merokok bahkan menghidanginya minuman dan cemilan, itu buktinya, selain Anda seorang tuan rumah yang baik, Anda adalah seorang muslim sejati yang terpuji, yang menghormati “saudara” yang tidak berpuasa. Nah! Penghormatan Anda itu seharusnya diimbangi (dibalasnya) dengan penghormatan yang lebih tinggi, yaitu menolak semua yang Anda persilakan baginya dengan alasan (menghormati) Anda yang sedang berpuasa… Kalau si teman itu akhirnya merokok, minum, dan ngemil di rumah temannya yang berpuasa, tentu tidak terpuji, karena seharusnya dia menolak itu semua. Kecuali…, nnnaaahhh…, jangan-jangan Anda sendiri saat itu tidak puasa….???!!! Heh heh… (ketahuan, neh!?).

Contoh kasus dalam tulisan Anda di atas sangat menarik; bagi saya dapat sebagai “parameter khusus” atau model dalam hal merekrut tenaga di suatu organisasi, misalnya. Seandainya saya diberi tugas merekrut seorang dari Anda berdua untuk menduduki kursi strategis di suatu organisasi, sebelum masuk ke penyelidikan kwalifikasi kompetensi, saya sudah memilih Anda lebih dulu. Alasan saya, Anda tahu menghargai orang lain, sangat berjiwa besar dan berlapang dada, mau berkorban demi orang lain, mementingkan kebutuhan orang lain daripada kepentingan sendiri (mungkin dsb…). Sedangkan teman Anda itu kelihatannya kurang beretika, tidak tahu menghargai perbedaan, tidak menghargai teman dekat apa lagi orang lain, dan… menghalalkan semua cara untuk kepuasan dirinya…

Kalau teman Anda itu seorang Kristen, saya juga yang seorang Kristen, Katholik lagi, tidak setuju dengan cara mulut mengunyah-ngunyah (termasuk merokok) ketika mengunjungi teman yang sedang beribadah berpuasa… Tuhan-nya orang Kristen mengajarkan bahwa kebahagiaan kita adalah pelayanan kita kepada orang lain; harta kita adalah kebahagiaan orang lain yang harus kita layani dan layani… Ketika kita melihat penderitaan orang lain maka kita harus melihatnya sebagai penderitaanNya di kayu salib. Jika kita melihat orang lain bahagia dalam hal yang positif, itu kita lihat sebagai keinginan Tuhan agar umatnya bahagia di jalan yang benar, dst….

Jadi, berbahagialah Anda yang mengasihi dan menghormati teman Anda yang perokok itu. Orang-orang seperti Anda sangat dibutuhkan oleh masyarakat dan negeri kita ini untuk membuka wawasan kebersamaan dan pemahaman perbedaan. Upah umat beragama seperti Anda sangat besar di surga (tentu kalau Anda selalu baik…, heh heh…). Sedangkan orang seperti teman Anda itu…, akh… tanya saja sendiri ke dia…, hah hah…

Begitupun, tolong sampaikan salamku kepada teman Anda itu. Saya juga perokok tetapi tidak akan pernah asap rokokku ngepul-ngepul di mulutku ketika mengunjungi temanku yang sedang berpuasa, baik ketika mengunjunginya di mejanya di kantor atau di rumahnya…, karena menurutku begitulah cara melayani sesama dalam kondisi-kondisi tertentu…

Selamat beribadah puasa… Tuhan memberkati Anda…
61. provokator,
— 31 Augustus 2009 jam 10:51 pm

Kok bisa menghormati orang yang tidak puasa???
Islam ini mayoritas bung!!!
Hormatilah kami yang mayoritas…!!!
Adakah di Quran yang menyebutkan kita harus menghormati orang KAFIR?????
62. Gila Hormat,
— 1 September 2009 jam 5:04 am

@ 52# hehehe,

— 28 Augustus 2009 jam 10:09 am
Maaf tapi muslim memang gila hormat di negara ini.

@ sei

otak kamu yg gila

———
Ini dia, petarung gila dan hormat

One thought on “63 tanggapan untuk ““Maaf, Saya Menghormati Orang yang Tidak Puasa””

  1. Maaf sebelumnya,aku mau nanya,barang kali ada yg punya jawabanya. Gimana si hukum/dosa bagi orang yg membiarkan orang lain tinggal dan tidak berpuasa dirumah kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s