“Maaf, Saya Menghormati Orang yang Tidak Puasa”

Oleh Abdi – 25 Augustus 2009 – Dibaca 3857 Kali –

KEDATANGAN TAMU YANG TIDAK PUASA

— Suatu siang di awal puasa ini saya kedatangan tamu. Dia seorang teman dari kalangan non-muslim yang biasa ngobrol dengan saya sambil merokok. Siang itu dia datang dengan rokok yang masih ngebul. Seperti biasa saya menyediakan asbak untuk keperluan merokoknya itu.

— Begitu asbak saya letakkan di atas meja dia menyatakan maaf sambil berniat mematikan rokoknya. Saya katakan agar dia tidak perlu mematikan rokoknya. Santai sajalah seperti biasanya. Tapi dia mengatakan merasa tidak enak karena saya saat itu sedang berpuasa, dan dia harus menghormati orang yang berpuasa.

— Saya katakan sekali lagi kepada teman saya yang non-muslim itu agar santai saja seperti biasa dan tidak perlu mematikan rokoknya. Lalu saya katakan kepadanya bahwa sebagai orang yang berpuasa saya “harus menghormati orang yang tidak puasa.”

— Kontan saja teman saya itu tertawa ngakak seperti Mbah Surip. Dia menyangka saya menyindirnya. Saya tahu tentu dalam pikiran sebagian besar orang, termasuk teman saya yang non-muslim itu, orang yang tidak berpuasa itulah yang harus menghormati orang puasa.

— Saya katakan kepada teman saya itu bahwa orang non-muslim itu berhak untuk tidak puasa dan saya sebagai seorang muslim menghormati haknya. Makanya saya katakan lagi agar dia tidak perlu mematikan rokoknya. Lebih dari itu saya suruh pembantu saya untuk menyediakan minuman dan makanan kecil.

— Selanjutnya terjadi perdebatan kecil, di mana teman saya tetap berkeras ingin mematikan rokoknya karena dia merasa tidak enak merokok di depan saya yang sedang berpuasa. Akhirnya saya katakan kepadanya untuk menghabiskan saja sebatang rokok yang sedang dihisapya. Kemudian seperti biasa kami ngobrol ngalor ngidul.

— Saya tidak lupa untuk mempersilakan teman saya itu untuk minum minuman dan makanan kecil, yang telah disediakan oleh pembantu saya. Lagi-lagi teman saya menyatakan rasa tidak enaknya minum di hadapan orang puasa yang dia hormati. Lagi-lagi saya katakan lagi kepadanya bahwa sebagai orang non-muslim dia berhak untuk makan dan minum dan saya menghormati haknya untuk tidak puasa.

— Akhirnya pada saat mau pulang, barulah teman saya itu makan dan minum dan itupun hanya sedikit dengan didahului kata: “”Sorry ya.” Saya tahu teman saya itu makan dan minum, hanya karena menghormati saya yang telah menghormatinya dengan menyuguhkan minuman.

DARI MANA DATANGNYA SIKAP MENGHORMATI ?

— Pengalaman saya yang tertulis di atas, menunjukkan bahwa sikap hormat dari orang lain akan muncul secara alamiah jika dia dihormati. Sebagai seorang yang berpuasa saya merasa tidak perlu untuk minta dihormati teman saya dengan menyuruhnya mematikan rokok dan melarangnya makan dan minum. Dengan tetap menghormati haknya sebagai non-muslim sikap teman saya justru lebih menghormati saya. Kalau pun misalnya dia tidak menghormati saya, saya juga merasa tidak perlu merusak puasa saya dengan memarahinya.

— Saya merasa nilai puasa saya justru bertambah dengan menghormati orang yang memang punya hak untuk tidak puasa. Selain itu kemampuan saya dalam berpuasa menjadi lebih teruji dengan adanya adegan yang menurut sebagian besar orang yang berpuasa dianggap sebagai godaan dan sikap tidak menghormati.

— Apa manfaat yang kita dapatkan jika kita meminta orang lain menghormati kita sebagai orang yang berpuasa ? Mungkin yang kita dapatkan hanya sikap hormat seperti acting di dalam sinetron, sementara itu orang ybs merasa haknya terganggu.

— Lalu manfaat apa yang kita dapatkan jika saat sedang berpuasa kita marah terhadap orang lain yang kita anggap tidak menghormati kita ? Mungkin saat itu sikap sombong kita muncul dan kita pun telah kehilangan sifat sabar yang seharusnya meningkat dengan berpuasa.

— Belum lama ini saya mendengar berita adanya sekelompok orang yang berpuasa yang mengobrak-abrik sebuah warung nasi yang buka di siang hari. Dengan sikap seperti itu bisakah puasa orang-orang tsb mendapatkan hasil spiritual dalam bentuk sabar, terhindar dari kesombongan, dan mencapai taqwa ?

— Salam dari: Abdi Dharma Group (Jakarta).

Tanggapan dari siapapun yang “berniat baik, logis, dan santun”, akan penulis terima dengan senang hati. Terima kasih.

public.kompasiana.com“>publik.kompasiana.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s