Dihajikan Yang Ghaib

Sahadan di suatu negeri di dekat Tanah Arab sana ada seorang sebutlah si Fulan yang sangat ingin apabila diizinkan oleh Allah SWT untuk melaksanakan ibadah haji. Sehingga bertahun-tahun dia hamba Allah yang sholeh ini mengumpulkan biaya untuk ongkos ibadah tersebut. Alhamdulillah dengan pertolongan Allah juga dengan segala upaya bersusah payah mengumpulkan biaya, akhirnya terkumpullah uang yang cukup untuk biaya melaksanakan ibadah haji.

Sambil bersyukur dengan disertai linangan air mata kemudian dia memasang niat untuk melakakukan ibadah haji pada waktunya disertai dengan syukur atas rizki yang diberikan Tuhan Penguasa Alam Semesta.

Ketika waktunya tiba, musim haji, maka bismilah beserta rombongan sekampungnya dia berangkat menuju tanah suci Makah dan Madinah. Saat itu keberangkatan untuk menunaikan ibadah haji harus dengan berjalan kaki. Maka tidak aneh apabila di perjalanan sering berkemah di tempat-tempat tertentu untuk beristirahat dan bermalam.

Pada suatu ketika saatnya makan malam, yang ia sediakan seadanya, tiba-tiba dia mencium bau makanan yang sedap, tentu rasanya pun akan enak sekali kalu disantap, pikirnya. Dia merasa penasaran siapa tahu bisa membeli atu mungkin bisa memintanya sedikit untuk dimakan. Kemudian bau tersebut dia ikuti dan berahir di rumah gubuk nan reyot.

Karena baunya demikian menarik selera maka dia tidak merasa malu lagi untuk mengetuk pintu seraya mengucapkan “Assalamualaikum”, ternyata yang berada di dalam adalah seorang ibu dengan beberapa anak.

“Assalamualaikum Ibu, kalau diizinkan saya biarkan di luar saja ingin bertanya apakah Ibu memasak sesuatu yang demikian harum baunya mengundang selera?” Tanyanya

“Betul ya musafir jamaah haji, saya baru saja memasak untuk makanan kami. Gerangan apakah maksud Tuan kemari?” Ibu tersebut sudah mafhum karena saat ini adalah sedang musimnya berdatangan jamaah haji.

“Saya jika diizinkan meminta sedikit makanan tersebut untuk makan malam, dan jika Ibu berkenan saya akan menukarnya dengan uang”

“Ya hamba Allah jamaah haji, kami merasa bahagia bila mungkin bisa menjamu atau mengirim makanan kepada Tuan yang akan menjadi tamu Allah, akan tetapi makanan ini halal bagi kami akan tetapi haram bagi Tuan”

“Mengapa begitu? tidak ada makanan yang halal bagi Ibu sekeluarga sementara haram bagi saya. Jika halal bagi Ibu juga halal bagi saya.” heran si calon haji.

“Memang ya haji, demikian keadaannya, jika harus berterus terang kami adalah keluarga miskin yang sudah lama ditinggal suami bapaknya anak-anak. Kami sudah beberapa hari tidak menemukan makanan, dan tadi kami menemukan bangkai binatang kemudian karena dalam keadaan darurat maka kami masak dan sebagian sudah kami makan. Makanan itu halal bagi kami tetapi tidak bagi yang mampu menjalankam ibadah hajji.” jawab si Ibu sambil tenggorokkannya menelan air mata.

Alangkah terkejutnya si Fulan, keadaan keluarga si Ibu yang demikian memilukannya. Kemudian si calon haji tersebut pamitan dan sambil pulang dia berkata sendirian sambil memohon ampunan kepada Allah.

“Ya Allah ampuni hambaMu ini, ternyata masih banyak kaum miskin, kaum dhuafa, malahan anak-anak yatim yang terpaksa makan bangkai karena kelaparan. Lalu aku ini, masih bisa makan, masih bisa berusaha, dan malahan mementingkan ibadah haji yang pahalanya untuk sendiri saja tanpa memberikan manfaat bagi orang lain.

Kemudian dia pulang ke kemah dan diambil seluruh bekal unruk menjalankan ibadah haji dia hanya menyisakan secukupnya untuk ongkos pulang ke kampung halamannya saja. Kemudian bekal tersebut diserahkan kepada keluarga miskin tadi. Dia hanya mengucapkan permohonan maaf atas kelancangannya meminta makanan. Kemudian dia langsung pulang menuju kampung halamannya sambil tak henti-hentrinya melapazkan talbiah:

“Labaik Allahuma labaik, labaikala syarikalaka labaik, inal hamda wani’mata laka walmulk la syarikalak. Labaik..! Ya Allah aku datang memenuhi panggilanMu..” Begitulah dia ucapakan talbiah terus menerus tapi berjalan berlawanan arah dengan jamaah haji.

Jamaah lain tidak ada yang merasa kehilangan si Fulan, tetangga sebelah rumah yang sama-sama naik haji melihat dia sedang wukuf di Arafah, jamaah lain melihatnya sedang sholat di Masjidil Haram, dan yang lain bersama-sama syai dan thawaf.

Yang Maha Ghaib telah menghajikan dia.

catatan: Cerita ini adalah bagian dari khutbah seorang khatib sholat jumat di bulan suci Ramadhan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s