Bulan Ramadhan Peliharalah Nafsu Makan

Quen, Agu 09

Quen, Agu 09

Saya membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia on line mengenai nafsu. Karena tulisan saya lingkupnya kecil saja, jadi mengambil salah satu arti saja dari nafsu. Nafsu adalah selera; gairah atau keinginan akan makan atau konsumsi. Itulah yang aka saya coba tulis dalam beberapa paragraf kaitannya dengan bulan Ramadhan.

Sejak sebulan sebelum datang bulan Ramadhan, berita di TV melaporkan bahwa harga-harga sembako mulai merayap naik. Ini tiada lain karena kebutuhan sembako untuk persediaan bulan Ramadhan meningkat. Mengapa meningkat? karena setiap keluarga sudah maphum dan terbiasa bahwa konsumsi bulan Ramadhan kebutuhan makanan setiap tahun, setiap individu, akan meningkat. Jadi karena sudah berpengalaman setiap keluarga menyediakan sembako melebihi kebiasaan bulan-bulan sebelumnya.

Dengan sendirinya jika kebutuhan akan barang meningkat ini diantisipasi oleh pedagang untuk menyediakan barang secara lebih dari selain bulan Ramadhan. Dan ini otomatis apabila meningkat permintaan, sementara persediaan barang kurang, harga otomatis akan naik. Itu sudah hukum pasar ada atau tidak ada yang mengatur.

Jadi penyebabnya adalah meningkatnya kebutuhan konsumsi yang sedang berpuasa. Seharusnya konsumsi masyarakat berkurang akan sembako, karena apa? karena puasa bukan? makanan atau sembako harusnya lebih sedikit. Tapi mengapa kebutuhan akan barang konsumsi alias sembako demikian meningkat, terbukti dengan meningkatnya harga barang konsumsi?

Ternyata sebagian umat Islam yang berpuasa tidak bisa menahan dari nafsu atau selera atau gairah untuk makan pada saat berbuka puasa, sekalian makan sahurnya tidak terkendali. Terbukti bahwa kita tidak kuat menahan hawa nafsu makan yang berlebihan, kebanyakan kita kuat berpuasa, akan tetapi mengendalikan hawa nafsu untuk memanjakan perut telah gagal total. Terbukti dengan meningkatkan harga sembako bukan?

Entahlah, harus ahli ekonomi yang membahasnya apakah meningkatnya kebutuhan akan sembako di bulan Ramadhan membawa manfaat atau mudarat. Dari segi bergairahnya orang belanja barangkali iya pasar tidak loyo atau menjadi ramai. Tapi bagaimana untuk mereka yang berpenghasilan kecil, dan apalagi si miskin yang serba kekurangan. Dimana kaum dhuafa untuk mendapatkan makan mencarinya dengan mengais-ngaias tong sampah.

Ini yang dilupakan oleh sebagia dari kita umat Islam, melupakan kesejahteraan orang kecil atau si miskin. Boro-boro meningkatkan taraf hidup mereka malahan menambah berat, karena harga menjadi meningkat. Wallohu alam, saya hanya bisa menulis ala kadarnya sambil tidak punya solusi. Bahkan barangkali saya sendiri ikut andil membebani kaum fakir miskin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s