Jangan Bangga dengan Ketidakjujuran

Salah satu perbuatan baik adalah berperilaku jujur. Ajaran agama dan norma yang ada di masyarakat pun jujur adalah sifat yang sangat terpuji. Orang jujur sangat dibutuhkan oleh siapapun. Jadilah bapak yang jujur, ibu jujur, anak jujur, suami jujur, istri jujur, dan banyak lagi yang harus jujur.

Sebaliknya dari jujur adalah tidak jujur alias curang, dalam ajaran agama kita sangat sering mendengar orang munafik senantiasa berhati tidak jujur; tidak lurus hati; tidak adil. Orang curang dijauhi oleh siapapun, tidak pernah ada di kehidupan jang beradab ada yang membutuhkan orang curang.

Saya telah kejauhan menulis, jangan-jangan nanti malahan tidak sampai kepada masalah yang akan dibicarakan. Saya sebetulnya ingin bercerita tentang cerita teman saya yang – menurut saya – telah tidak jujur yaitu telah tidak mengikuti aturan yang berlaku.

Dia, teman saya itu rutin setiap bulan dikontrol kesehatan oleh dokter langganannya. Dokter ini cukup laris, prakteknya saja setiap hari yang dimulai jam 18:00, rata-rata berahir sekitar jam 24:00. Disamping itu sehari hanya menerima pasien 30 orang saja.

Dia meskipun lebih awal datang mendaftar, katanya, selalu mendapatkan nomor urutan besar artinya bisa selesai larut sekitar jam 10-an malam. Tentunya yang ia inginkan adalah nomor urut awal jadi bisa pulang lebih cepat.

Nah, berupaya untuk mendapat panggilan dokter lebih awal meskipun nomor urut yang dipegang adalah nomor buntut. Entah belajar dari mana timbul niat menyuap dengan cara mengirim makanan kepada petugas, tentu dengan maksud agar supaya lain kali kalau dikontrol dokter bisa lebih awal.

Akibat dari pemberian makanan (hanya berupa kue) ini membuat yang diberi merasa kehutangan “budi baik”. Masuk akal (atau tidak masuk akal?) selanjutnya meskipun yang mengantri untuk diperiksa dokter kelihatan banyak, teman saya selalu didahulukan dipanggil. Mungkin tidak ada yang iri karena cara pemanggilannya tidak dengan nomor urut akan tetapi dengan nama.

Pekerjaan yang dilakukan oleh teman saya diceritakan kepada saya dengan bangga, karena merasa telah berhasil mendapatkan suatu jalan untuk dipanggil duluan ketika antri untuk dikontrol oleh dokter. Malahan katanya, meskipun tidak terus-terusan membawa makanan, apabila baru datang di tempat praktek dokter dan sudah kelihatan oleh si petugas, langsung saja ia dipanggil.

Lihat, akibat dari tidak mengikuti aturan yang berlaku, banyak orang yang teraniaya karena kesempatan diperiksa dokter menjadi bergeser kepada nomor yang lebih besar, mengambil hak orang lain sama dengan berbuat zalim. Kedua telah menyeret petugas untuk berlaku curang, karena umumnya masyarakat kita merasa tidak kuat dengan “hutang budi”, dan dengan mendahulukan untuk diperiksa dokter petugas merasa sudah melunasi “hutang budi”-nya.

Untuk melatih diri jangan sampai terjerembab kepada hal-hal yang tidak terpuji, apalagi persoalan hanya urutan diperiksa dokter, yang sebetulnya masih ada upaya lain yang lebih jujur untuk mendapatkan nomor urut awal, seyogianya jauhilah perbuatan curang dan satu lagi stop merasa bangga untuk melakukannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s