Nikah Siri

Nikah siri, nikah di bawah tangan, menjadi populer atau akrab di telinga kita setelah acara infotainmen membahasnya di tayangan televisi. Dan yang banyak dibahas adalah nikah siri yang dilakukan oleh artis atau selebriti, bahkan pejabat.

Penontonnya atau pemirsanya mengartikan nikah siri adalah nikah rahasia atau nikah gelap, juga barangkali banyak mengilhami kita bahwa disamping nikah “terang-terangan” ada juga nikah “gelap-gelapan”. Peran infotainmen yang menjejalkan kepada kita hampir pagi, siang, dan sore telah mampu menambah “wawasan” pemirsanya.

Mengapa melakukan nikah siri (nikah gelap) padahal ada nikah biasa yang – mestinya – sama mudahnya? Para artis (tentu tidak semuanya), eh, kita maphum bahwa nikah siri dilakukan supaya jangan diketahui umum secara meluas – karena keartisannya – menghendaki demikian. Jadi ada faktor x nya atau “ada sesuatu” nya dengan keputusan yang diambilnya untuk nikah siri.

Mengapa saya bisa menarik kesimpulan begitu, karena secara normalnya pernikahan itu adalah peristiwa yang membahagiakan, jadi berbagi kebahagiaan dengan orang lain sangat wajar. Artinya lebih senang milih yang “terang“ dari pada milih yang “gelap”.

Faktor x atau “ada sesuatu” itu misal: takut ketahuan istri yang tua. Atau bagi publik pigur takut popularitasnya menurun, soalnya poligami bagi kebanyakan masyarakat kita adalah aib. Atau semisal daripada jadi istri simpanan yang jelas-jelas berjinah, mendingan nikah siri.

Barangkali perlu diselipkan di sini untuk menambahkan alasan mengapa banyak yang memilih nikah siri, karena kurang mampunya pengendalikan hawa nafsu berahi. Jelasnya kalau ada manajemen qolbu, seyoganya juga ada manajemen sahwat, ini meminjam istilah seorang tokoh perempuan. Karena cinta buta, cinta sesaat, dan sudah kebelet, padahal takut akan perjinahan, lebih jelasnya sekali lagi takut istri tua, maka yang paling mudah adalah kawin siri. Sebetulnya sedang mengakali rukun nikah dan syarat syahnya nikah secara sepihak, yaitu nikah siri.

Nikah siri itu dari kacamata agama Islam, asal rukunnya dilaksanakan yaitu adanya saksi, wali, mahar, ijab kabul, sudah syah. Hanya barangkali “rukun terang-terangan” saja yang belum dijalankan atau dilaksanakan, karena justru itulah mengapa mereka melakukan nikah siri.

Jadi sederhananya nikah biasa juga begitu, hanya nikah biasa harus tercatat di Kantor Urusan Agama (KUA). Nikah biasa mendapatkan surat nikah, nikah siri tidak. Secara hukum negara nikah siri tidak diakui. Sedang nikah biasa diakui, dan berkekuatan hukum jika kelak ada masalah.

Memang pernikahan biasa – bagi yang tidak mampu secara ekonomi – jadi begitu memberatkan dan membebani, karena budaya masyarakat kita telah menambah “rukun pernikaha” dengan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan keabsahan suatu pernikahan. Semisal barang bawaan, mahar yang karena gengsi, mengadakan kenduri yang telah demikian pesat berkembangnya. Sehingga biaya menjadi sedemikian tingginya.

Saya sering menyaksikan perkawinan biasa yang dengan biaya murah bisa terlaksana dengan baik. Yaitu dengan adanya kedua mempelai, wali, dan saksi datang sendiri ke KUA, dan tambah saja ngundang tetangga kiri kanan untuk supaya “diketahui umum”, sudah beres. Bukannya itu menjadi mudah dan murah? Kawin begini syah dimata agama, dan syah pula dimata hukum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s