Umat Islam Dinistakan?

Saat ini teman saya sedang mendapatkan “pencerahan” atau “hidayah” dalam hal keberagamaan Islam. Dia mengikuti suatu majelis tabligh, salah satu kegiatan tarekat ini adalah ke luar rumah – umumnya ke masjid-masjid – untuk berda’wah. Perkumpulan ini lebih mengutamakan ibadah sholat berjamaah dan secara konsisten mengamalkan sunnah Nabi dan da’wah.

Pemikirannya kadang setback ke arah sewaktu Nabi masih hidup, bukan hanya pemikiran akan tetapi juga perilaku dan tatacara berpakaian meniru tradisi di zaman Nabi jumeneng. Jadi meniru tradisi berpakaian dan juga termasuk tata cara makannya. Semisal sengaja memelihara jenggot, berbaju koko dan memakai trubus (tutup kepala)atau kopiah. Meskipun kadang tidak persis seperti berpakaian di Timur Tengah sana, koko dan kopiah sepertinya tidak pernah dipakai orang Arab sana. Koko, kopiah dan sarung adalah lebih berbau tradisi berpakaian orang Islam di Asia Tenggara.

Teman saya – karena memang akrab dengan saya – sering menda’wahkan kepada saya tentang berbagai hal termasuk tradisi berpakaian orang Islam di Indonesia. Menurut dia cara berpakaian pria, ini dulu yang dibicarakan, Islam di Indonesia sudah menyimpang dari sunnah Nabi (sambil kata sunnah sendiri saya tidak tahu persis).

Suatu saat di acara temu kangen para pensiunan, kelihatan dari 200-an yang hadir yang mengenakan kopiah hanya berdua, satu dia sendiri, dan satu lagi seseorang yang kami kenal betul beragama Nasrani. Dia berkomentar: “Tuh Mang (saya tidak tahu persis apakah dia memanggil saya “Mang” singkatan dari mamang; paman, atau “Man” singkatan dari nama saya Eman?) orang Kristen saja berkopiah, mengapa orang Islam tidak mau memakainya?”

Jadi dia berpendapat (setelah ikut jamaah tabligh itu) bahwa orang Islam hendaknya berpakaian “cara” Islam yaitu minimum berkopiah dan mungkin memakai baju koko.

Mungkin kalau mau komplitnya yaitu memakai baju ghamis (nulisnya bagaimana ya?) bertutup kepala dan mungkin berserban (ini malah dugaan saya bahwa maksud teman saya adalah begitu). Mungkin itu pendapat biasa banyak orang Islam (tidak husus jamaah tabligh saja) bahwa berpakaian Islami adalah yang begitu.

Ada yang lebih mengejutkan adalah komentarnya mengenai umat Islam yang sedang dinistakan atau dihinakan atau dipersepsikan sebagai orang yang jahat. Rujukannya kepada “jagal” dari jombang yaitu Ryan dan teroris Amrozi dan Imam Samudra dua terakhir sudah dieksekusi mati. Katanya “Lihat Ryan, Amrozi, dan Imam Samudra ketika ditangkap dan dituduh melanggar tindak pidana pembunuhan berantai dan teroris, pakaiannya umum kan?” (maksudnya tidak memakai ghamis ) Ketika di pengadilan dipakaikan pakaian islami” (maksudnya ghamis lagi). Ini cara Yahudi yang sedang menunjukkan bahwa Islam itu pembunuh dan teroris!”

Saya sampai heran setelah mendengar pendapatnya, bisa-bisanya suatu kejadian dikomentari dengan dipelintir menjadi begitu, setidaknya begitu pikir saya. Pendapat saya mengenai hal mereka berpakaian di depan majelis hakim adalah Ryan berpakaian ghamis dan berpeci putih adalah untuk mengundang simpati umat Islam. Sedangkan Amrozy dan Imam Samudra adalah untuk menunjukkan bahwa mereka adalah penganut Islam yang kaffah (termasuk berpakaian).

Tapi “Umat Islam Dinistakan?” rasa-rasanya kok berlebihan ya!

Wallohu alam bisawab (sambil saya tidak tahu jelas makna dan pasnya kalimat ini diterapkan di mana).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s