Menyusuri Jalan Trotoar

Pada tahun 1963 s/d 1967 saya tinggal di jalan Kiaracondong no. 5 (Sekarang di situ sudah berdiri salah satu super market), wilayahnya termasuk Cicadas, jadi di sekitar pertigaan jalan Ahmad Yani (dulu disebutnya jalan Raya Timur). Waktu itu saya sedang sekolah di Sekolah Menengah di kota Bandung. Jadi umur saya saat itu tahun 1963 baru 17 tahun.

Selama 4 tahun tinggal di sana tentu bagi saya menjadi kenangan dan pengalaman, semuanya terekam dalam ingatan. Sekaligus juga menjadi bagian dari pendidikan hidup saya diawal-awal keremajaan saya.

Trotoar mulai awal jalan Kiaracondong, sekitar pertigaannya dengan Jl Raya Timur juga sekitar pertigaan Jl. Cikutra dan Jl Raya Timur, terus ke timur sampai warung colenak Pak Murdi menjadi tempat bermain saya. Dan saya hapal betul liku-likunya.Masih bersih dan asri, berjalan di trotoar sambil melihat-lihat etalase toko dengan rupa-rupa dagangannya.

Kemarin tanggal 18 Agustus 2008, saat sedang menunggu salah seorang kawan dioperasi, saya melakukan napak tilas yaitu menyusuri trotoar di Cicadas, berjalan kaki mulai dari RS Santo Yusup belok ke arah barat sepanjang trotoar sisi kanan jalan Ahmad Yani. Saya terus berjalan sampai jalan Asep Berlian. Tentu saja selama perjalanan ingatan saya kembali ke waktu 45 tahun yang lalu.

Dimulai dengan pasar yang persis ada di pertigaan Jl. Cikutra dan Jl Raya Timur, dahulu para penjual sayuran ada di dalam lokasi pasar sedangkan persis di pertigaan itu adalah pangkalan kendaraan yang populer saat itu yaitu bemo. Dulu sekitar ini meskipun sama kumuhnya, sama aroma kemiskinannya tapi tidak separah sekarang yang baik para penjual sayuran maupun tukang beca semakin merangsek memenuhi jalan Cikutra. Jadi dari mulai perjalanan napak tilas, saya merasa sangat tidak nyaman karena sempitnya jalan untuk lewat terdesak oleh kaum pedagang kaki lima.

Perjalanan saya dilanjutkan ke arah barat sepanjang trotoar bagian kanan Jl Raya Timur. Trotoar yang dulu nyaman dipakai untuk para pejalan kaki sekarang penuh oleh pedagang kaki lima (PKL). Toko-toko sepanjang trotoar yang saya lewati, sudah tidak kelihatan jelas lagi. Tertutup oleh tenda-tenda sepanjang trotoar. Tenda-tenda yang didirikan berderet menutupi seluruh trotoar inilah yang membuat gelap dan menutupi pandangan untuk melihat toko-toko di pinggir jalan tersebut.

Kalau saya disuruh komentar mengenai keadaan di sini saat ini sungguh menyedihkan, pertama kesan kumuh dan sekali lagi aroma kemiskinan. Tidak ada lagi lahan untuk pejalan kaki, memang iya masih disediakan oleh para PKL tersebut tetapi hanya cukup untuk satu badan barangkali sekitar lebar setengah meteran. Keadaan terowongan gelap dan pengap jauh dari kesegaran dan kenyamanan lazimnya orang yang akan belanja. Malah barangkali bagi PKL nya sendiri, bagi individu pedagangnya sendiri, tentu kepanasan dan kepengapan yang dirasa, malah jangan-jangan kekurangan oksigen.

Jadi trotoar yang menjadi hak pejalan kaki, hak toko-toko yang berada sepanjang trotoar untuk melakukan usaha jualannya dengan leluasa, terus keindahan kota yang asri, telah hilang dirampas secara semena-mena oleh para PKL. Belum lagi lalu lintas kendaraan yang terganggu karena pejalan kaki dan pedagang luber mengambil sebagian badan jalan.

Benar memang kaum PKL adalah orang kecil atau kalau sedang kampanye pilkada atau istilah salah satu partai sering disebut wong cilik. Tapi bukankah pejalan kaki pun kebanyakan wong cilik, dan yang naik kendaraan angkot adalah kebanyakan wong cilik. Dan sekarang ini wong cilik yang satu sedang menzolimi wong cilik yang lainnya.

Untuk membereskan kesemuanya ini dibutuhkan pemimpin khususnya Walikota Bandung yang punya misi dan visi (bukan hanya slogan) yang cerdas, melakukan perubahan-perubahan yang mendasar. Sebab kalau tidak begitu keadaan PKL ini akan dianggap biasa, selanjutnya akan dianggap memang seharusnya begitu. Kemudian keadaan kota semrawut seperti itu sudah dianggap biasa, sewajarnya, dan lumrah. Pak Dada Rosada ayo dong mumpung masih haneut terplih lagi menjadi Walikota, buat gebrakan untuk menata kaum PKL di Cicadas ini.

Sebelum menutup tulisan ini saya ingin memuji toko-toko sepanjang trotoar sampai sekarang masih tetap eksis; tetap ada, dan tetap menjalankan usahanya meskipun dari jalan sudah tidak kelihatan lagi karena tertutup terpal atap para PKL. Jadi kalau saya berjalan sepanjang trotoar yang sempit dan gelap masih kelihatan ada toko sepatu, toko pakaian, toko emas, toko photo, toko alat elektronik, dan juga apotek, masih ada di tempatnya.

Napak tilas yang saya lakukan ternyata tidak mengembalikan kenangan saya ke 45 tahun yang lalu kecuali letak toko-toko itu yang semakin kelihatan kumuh dan gelap. Pak Dada Rosada, kembalikan Cicadasku seperti tahun 1963 ketika saya menginjakan kota Bandung untuk yang pertamakalinya. (Bandung, 20 August 2008 03:39)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s