Burgo ala Bandung

Kejadiannya sepuluh atau lima belas tahun yang lalu ketika kami sekeluarga masih tinggal di Bontang, Pak Zaini, wong Plembang nian, mengundang saya dan istri untuk makan makanan khas Palembang namanya burgo. Rasanya tiada duanya, enak sekali, gurih sekali, dan sekarang ini sangat ingin menyantapnya.

Meskipun di Bontang saat itu banyak yang menjual makanan khas Palembang seperti mpekmpek, tekwan, kapal selam, dan sebagainya, akan tetapi burgo jarang yang membuatnya.

Sekarang kami sudah tinggal di Bandung, kemudian, kemarin istri saya – karena sudah lama saya ingin merasakan kembali enaknya burgo – terlaksana membuatnya. Akan tetapi – tidak seperti mpekmpek dan tekwan – burgo ini istri saya belum pernah membuatnya.

Jadi, inilah aktivitas istri saya dalam membuat makanan burgo tersebut. Mula-mula sekali saya mencari resepnya dengan cara Googling, dan dengan permisi copy paste dari blognya Rogan, inilah respnya:

Bahan:
250 gr tepung beras50 gr tepug sagu1 sdm kapur sirih250 ml air mendidih500 ml air biasagaram secukupnya500 ml santan250 gr ikan gabus, direbus, disuwir halus3 lembar daun salambawang goreng secukupnya[Photo] Haluskan: 1/2 sdm ketumbar2 sdm lengkuas2 sdm kencur1 sdm irisan bawang putih1/2 sdm garam50 gr kelapa parut

Cara Membuat : Seduh sebagian tepung beras dengan 250 ml air mendidih. Aduk merata. Tambahkan sisa tepung beras sedikit demi sedikit, lalu sagu, garam, dan air kapur sirih serta air biasa. Aduk hingga menjadi adonan. Buat dadar tipis-tipis dari adonan tadi, angkat lalu digulung. Potong-potong, sisihkan

Rebus bumbu yang telah dihaluskan dengan santan bersama daun salam.Masukkan daging ikan yang sudah disuwir halus. Setelah mendidih, angkat

Hidangkan burgo dengan potongan dadar, lalu disiram dengan kuah ikan. Taburi bawang goreng

Mengapa disebut ala Bandung, pertama karena istri saya belum pernah membuatnya, jadi mungkin dilakukan beberapa modifikasi. Keduanya he, he, he, kan dibuatnya di Bandung.

Tapi soal rasa, jangan tanya, persis seperti apa yang disuguhkan Pak Zaini sepuluh atau lima belas tahun yang lalu di Bontang.

Serasa sambil mendengarkan lagu gending Sriwijaya dan menonton tari tanggay, saya menikmati burgo untuk porsi ketiga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s