Etika Timbal Balik

Ini saya dapatkan dari Wikipedia: Do unto others as you would have others do unto you kemudian bahasa Indonesianya adalah “Lakukan kepada orang lain seperti apa yang anda inginkan orang lain perbuat kepada diri anda”.

Ini sangat meresap kedalam hati saya, tapi perlu berbesar hati untuk menerimanya karena belum apa-apa sudah dinyatakan bahwa “Frase ini dapat ditemukan di Matius 7:12” dari Bible bukan? Tentu saja iya, dan ini adalah kitab sucinya umat Nasrani. Inilah hubungannya dengan berbesar hati tersebut. Bukankah kita hususnya umat Islam sangat alergi tentang Nasrani, Yahudi, atau agama lain apapun selain Islam.

Kalau kita yakin bahwa dalam keimanan kita salahsatunya adalah beriman kepada kitab-kitab Allah, inilah untuk membuktikan keimanan kita. Jika Anda menyatakan bahwa mereka telah merubah sebagian ayat-ayat Bible, kontrol saja kebenarannya dengan ayat-ayat Al Quranul karim, berlawanan tidak? kalau tidak berlawanan harus diterima. Begitulah kata Kang Jalal atau ustad Jalaludin Rahmat.

Setelah menerima, mari kita kembangkan “Lakukan kepada orang lain seperti apa yang anda inginkan orang lain perbuat kepada diri anda”. “Lakukan kepada orang lain” artinya melakukan sesuatu kepada orang lain maksudnya semuanya jangan dibeda-beda, dan juga artinya manusia selain dari kita. Disini hubungannya dengan multi etnis dan multi cultural, lintas suku, agama, ras, bahwa semuanya adalah mahluk buatan Allah yang tentu tidak dipilih kasihkan oleh Allah tersebut.

Terus “seperti apa yang anda inginkan orang lain perbuat kepada diri anda”, jelas bukan karena kita mengharapkan orang lainpun harus berbuat baik seperti yang anda inginkan. Ingat ini bukan seperti menjilat jadi harus penuh dengan kejujuran, tidak licik, tidak pamrih, tidak bermaksud biar ada lebihnya orang lain berbaik kepada kita.

Kita ingin lebih mendalam mencoba dibalik “Jangan lakukan kepada orang lain seperti apa yang tidak anda inginkan orang lain berbuat kepada diri anda”. Jangan menyakiti hati orang lain jika kita tidak ingin orang lain menyakiti hati kita. Jangan mengganggu jika tidak ingin diganggu. Masih banyak contoh lainnya.

Tapi coba kembangkan bagaimana mengukur omongan kita menyakiti orang lain atau tidak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s