Dyah Pitaloka dan Rieke “Oneng”

Dyah Pitaloka adalah putri Sunda yang tewas di Bubat tahun 1357, itulah yang tercantum pada buku “Dyah Pitaloka, Senja di langit Majapahit” sebuah novel sejarah karya Hermawan Aksan. Buku ini, telah dua kali dicetak – setidaknya itu yang saya tahu – cetakan pertama judulnya “Dyah Pitaloka, Senja di langit Majapahit” bulan Desember 2005. Sedangkan Juli 2007 cetakan kedua dibuat dengan judul “Dyah Pitaloka, Korban Ambisi Politik Gajah Mada”

Pada resensi buku yang ditulis oleh H Tanzil di blognya yang beralamat bukuygkubaca.blogspot.com. Tanzil menulis bahwa dalam novel tersebut “Dyah Pitaloka dideskripsikan sebagai seorang putri yang cantik yang haus akan ilmu dan gemar membaca kitab-kitab sastra dan mempelajari ilmu kanarugan. Dyah juga sangat peduli tentang nasib kaum perempuan di negeri Sunda dan memiliki pandangan yang jauh kedepan mengenai peran seorang putri yang dibesarkan dalam lingkungan kerajaan.” dan Tanzil berkomentar bahwa “Karena berada dalam area fiksi deskripsi ini mungkin sah-sah saja, namun mungkin akan menimbulkan tanda tanya bagi pembacanya, apakah mungkin seorang putri yang hidup di abad 13 telah memiliki pandangan yang jauh kedepan terutama dalam hal-hal emansipasi?”

Bisa saja komentar Tanzil begitu, tapi dalam rangka membandingkan antara “Oneng” dan Dyah Pitaloka adalah rada-rada mirip, setidaknya begitu menurut pendapat saja. Entah apa maksud orang tua Rieke melengkapi namanya dengan Dyah Pitaloka, tapi nama adalah doa dan harapan pemberinya. Legenda atau sejarah putri cantik Dyah Pitaloka adalah cerita tentang kegamangan psikologis antara suku Sunda dengan suku Jawa. Inilah misalnya di puseur kota Bandung tidak ada nama Majapahit, Hayam Wuruk, apalagi Gajah Mada. Sementara kota lain berlomba ingin memberi nama jalan dengan salah satu nama seperti tersebut, kota Bandung malahan mungkin di seluruh provinsii Jawa Barat, nggak tuh!

“Oneng” Ryeke Diah Pitaloka hampir mirip dengan Putri Dyah Pitaloka, syukur kalau rupanya mirip seperti yang ditulis Hemawan Aksan adalah putri cantik. Ditambahkan bahwa Putri Dyah Pitaloka adalah haus akan ilmu dan gemar membaca kitab-kitab sastra dan mempelajari ilmu kanarugan. Putri Dyah juga sangat peduli tentang nasib kaum perempuan di negeri Sunda dan memiliki pandangan yang jauh kedepan mengenai peran seorang putri yang dibesarkan dalam lingkungan kerajaan. “Oneng” juga memiliki sifat itu, dia pintar lulusan S2 (koreksi saya kalau salah), menggemari sastra (sering membuat puisi), juga peduli dengan bangsanya, dia kalau tak salah menjadi salah satu caleg. Belum diperoleh keterangan apakah Rike juga belajar ilmu kanuragan (bela diri)?

Dan “Oneng” juga sangat bangga menjadi orang Sunda, seperti yang dituturkan kepada koran harian PR 13 Maret 2009. Konsistensi bangga menjadi orang Sunda adalah dengan memberi nama anaknya sangat berbau Sunda yaitu Sagara Kawani Adiansyah seperti katanya “ Sagara itu bahasa Sunda artinya laut, sedangkan Kawani adalah keberanian, kalau Adiansyah diambil dari keturunan suami saya dari Ternate. Saya memang ingin anak ini kelak menjadi seorang pemberani, namnya Sunda banget kan. Saya bangga menjadi orang Sunda, anak juga namanya berbau Sunda.”

Buat Rieke Diah Pitaloka “Oneng” dan suami diucapkan selamat atas kelahiran putranya yang pertama bernama Sagara Kawani Adiansyah, semoga menjadi anak yang sesuai dengan harapan kedua orangtuanya Lautan Keberanian, berani memperjuangkan untuk kemajuan bangsanya yakni bangsa Indonesia ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s