Warung Nasi Ampera

Kalau tidak salah istilah Ampera yaitu Amanat penderitaan Rakyat sudah ada sejak jaman presiden Soekarno, tetapi kalau Warung Nasi Ampera justru populer sejak tahun 1966, saat sedang banyaknya demonstrasi menumbangkan orde lama Soekarno yang presiden itu.Biar saja soal politik nanti kalau ada waktu diceritakan lagi.

Kalau mau makan nasi dengan segala lauk-pauknya khas masakan Sunda di pinggir jalan semacam “warteg”nya sekarang, dari dulu juga ada. Tempat makan sembarang waktu dan untuk mereka yang kantongnya pas-pasan, atau ngirit, atau asal perut tidak keroncongan, juga banyak.

Tahun 1970an warung nasi “warteg” langganan saya berada di depan RS Immanuel Situsaeur atawa di jalan Kopo, namanya warung nasi Apih dan Amih, sesuai panggilan untuk pemiliknya suami istri. Nasi sepiring penuh dan dibanjur sayur kacang merah yang masih panas mendidih seharga Rp 25,- , kalau mau ditambah tahu atau goreng tempe bisa menjadi Rp 30,-. Kalau merasa bertanya dalam hati masa murah amat? Bandingkan dengan istri saya belanja ke pasar Cihaurgeulis untuk sehari dia membawa Rp 200,-

Warung Nasi Ampera dibuka pertama kali di Kebonkalapa di stanplat oplet Bandung tahun 1966. Sama murahnya dengan warung lain sejenis warteg tapi lebih meriah dan lebih bervariasi lauk pauknya. Pelanggan yang makan di sini dari berbagai lapisan termasuk pelajar, mahasiswa, pegawai, tukang beca, tukang gali tanah, supir sekalian kernetnya.

Saya terus-terusan tak putus menjadi pelanggan tetap, maksudnya kalau ada kesempatan mau makan di pinggir jalan ya di sini di Warung Nasi Ampera. Meski sudah jauh bekerja di Kalimantan Timur, kalau ada cuti atau ada kesempatan ke Bandung, selalu singgah di Warung Nasi Ampera Kebon Kalapa ini.

Sejak tahun 2001 waktu saya mulai MPP dan tinggal kembali di Bandung jika mau makan di luar pilihan utamanya ya Warung Nasi Ampera, tapi sekarang sudah tidak hanya di Kebonkalapa tapi ada di beberapa tempat. Warung Nasi Ampera sekarang sudah jauh berbeda dengan semasa di Kebon Kalapa, sekarang mereka yang tongpes, perboden ke sini, karena di cabang-cabangnya sudah merupakan rumah makan modern dan elit, jadi bukan warung nasi amanat penderitaan rakyat lagi, bukan sejenis warteg lagi, tapi sudah restoran. Yang datang pelanggannya yang bermobil itu kelas menengah ke atas.
Mungkin kalau dari segi harga makanan relatif tidak mahal, akan tetapi mana kuat tukang beca, tukang gali tanah, pegawai rendahan, sopir angkot dan kernetnya ke sana.

Lihat saja di Warung Nasi Ampera cabang jalan Soekarno Hatta (Metro) Bandung telah berdiri restorannya gedong sigrong, artinya kan kalau hanya punya Rp 50.000 makan berdua nampaknya harus mikir dua kali. Agak unik Warung Nasi Ampera cabang Metro ini, di kiri kanan Jalan Soekarno-Hatta berseberangan ada Warung Nasi Ampera, maksudnya biar yang naik mobil baik dari arah barat maupun timur mau makan di Warung Nasi Ampera sama-sama tinggal belok kiri berhenti, tidak usah mutar dulu.

Dahulu sewaktu Warung Nasi Ampera masih di Kebon kalapa, pembeli yang mau makan langsung duduk menghadapi lauk pauk beraneka macam, pelayannya langsung berhadapan dengan pembeli. Begitu duduk langsung didepan kita disuguhkan satu piring nasi, satu pisin sambal, dan satu gelas minum air teh hangat tawar dan tak lupa kobokan berisisi air untuk mencuci tangan. Kemudian lauk pauknya tinggal mengambil sendiri, demikian juga lalapannya tinggal ngarongkongan ngambil sendiri. Biasanya saya saking ponyo-nya nasi dan sambal bisa tambah berkali-kali.
Kalau sudah kenyang dan mau bayar tinggal tanya sabarahaeun? sambil menunjuk apa yang telah kita makan. Kalau tak salah dulu nasi itu gratis, tapi beberapa warung nasi pinggir jalan saat itu kalau mau makan nasinya sekenyangnya gratis. Tentu saja jangan coba-coba cuma makan nasi tambah sambal tambah lalapan, meski itu semua gratis tapi ditanggung dicemberuti pemiliknya, setidaknya kalau kita tidak terus terang tak punya duit pasti dibilang: “sugan nu gelo!”.

Ada sedikit catatan, dahulu sambal terasinya agak encer dan cukup pedas, dan cara menyajikannya dijatah. Sekarang sambalnya agak kental dan tidak pedas, tapi memang disediakan rendos cabe rawit, yang pedas banget. Cara menyajikannya sambalnya sekarang bebas mengambil dalam coet imut-imut, sekaligus satu meja dengan lalapan yang juga bebas nengambil alias gratis.

Lalapannya variasi, orang Sunda bisa lupa daratan kalau makan ada sambal dan lalapan segar dan mentah coba saja, ada terung bulat, kacang panjang, mentimun, selada air, pohpohan, dan sawi keriting. Lalapan dan dedaunan yang oleh mereka yang tidak biasa, kelihatannya seperti rumput untuk kambing, cara makannya harus dipintal-pintal dulu dengan tangan – dua tangan dong! – lalu di-coel-kan pada sambal langsun dimakan, tapi di mulut harus sudah ada nasi dulu, sebab tanpa nasi akan terasa pengar di lidah.

Jika ingin memperkirakan harga makanan saat ini, saya dan istri baru saja makan siang di Warung Nasi Ampera cabang Metro tersebut, yang dimakan berdua adalah nasi 2 porsi Rp 5.000, ayam goreng Rp 8.000, ayam panggang Rp 8.000, gepuk Rp 6.000, tempe goreng Rp 2.000, pepes tahu Rp 2.000, perkedel jagung Rp 2.000, sayur asem Rp 3.000, semuanya seharga Rp 36.000. Murah bukan?

Sedikit catatan mengenai sayur asem agak beda rasanya dengan dahulu baik rasa maupun warna, dulu sayur asem itu terasa asamnya – pakai asam jawa sih – dan kuahnya bening. Kalau sayur asam sekarang keruh warna kuning kemerahan dan rasanya tidak begitu asam dan ada rasa pedas. Kata istri saya itu memakai kemiri dan cabe.

Cara penyajiannya sekarang pembeli ngantri, sambil membawa keranjang kecil tempat lauk pauk yang kita ambil sesuai dengan selera, nanti oleh pelayannya dihitung dan yang perlu digoreng ya digoreng dulu, terus diberi nomor meja nanti duduknya kita memilih sendiri yang nyaman. Kemudian nasi disuguhkan dalam tempat bernama boboko, piring, mangkok berisi air untuk mencuci tangan juga air minum teh panas tawar. Lauk pauknya nanti menyusul sebab kalau yang perlu digoreng dan dipanggang harus dikerjakan dulu biar panas-panas kan sedap.

4 thoughts on “Warung Nasi Ampera

  1. Fany, ini Fany ya? Oom lagi belajar nge-blog dan menulis, terima kasih komennya, mari kita ke Ampera seperti dahulu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s