Turut Senang Kalau Orang Lain Menang

Seorang Kiai pernah memberikan ceramah disekitar sikap dan sifat muslim yang terpuji, salah satunya adalah senang kalau orang lain menang. Jangan sebaliknya sedih kalau orang lain senang, atau senang kalau orang lain susah.

Berempati juga adalah sikap yang terpuji empati adalah mengerti atau merasakan perasaan atau penderitaan orang lain, lengkapnya dari Encarta Dictionaries 2007 “kemampuan untuk mengetahui dengan penuh pengertian terhadap orang lain akan perasaan atau kesulitannya” Sangat baik dan sangat terpuji punya perilaku empati ini, tapi banyak orang yang tidak bisa berempati, malah gagal berempati.

Yang paling sulit tapi sekaligus yang paling terpuji adalah bukan hanya bahagia kalau orang lain senang, tetapi mengakui keunggulan “lawan” – bisa saja lawan politik – atau lingkup kecilnya “lawan” itu adalah tetangga sebelah rumah. Kata Kiai tersebut jangan menjadi panas dingin ketika tetangga membeli mobil baru.

Salah satu TV swasta akhir-akhir ini sering menyelenggarakan acara “debat” dengan berbagai topik, sengaja ditampilkan wakil-wakil dari kubu yang berseberangan, lengkap dengan kelompok pendukungnya masimg-masing. Ditampilkan oleh para politisi kita atau wakil-wakil dari kubu yang berseberangan suatu sikap yang simpatik, roman muka yang tenang, pandai memilih kata-kata bijak, dengan mengemukakan argument masing-masing. Sungguh suatu pendidikan politik bagi masyarakat Indonesia yang sedang merangkak belajar berdemokrasi.

Pada saat Pilkada Kota Bandung tanggal 10 Agustus 2008 adalah Pilkada yang aman, tenteram, rukun, dan damai sangat menjadi kebanggaan warganya. Malah semoga menjadi contoh bagi pilkada-pilkada lain di seluruh Indonesia.

Hasil dari Pilkada Kota Bandung tersebut dimenangkan oleh pasangan Dada Rosada dan Ayi Vivananda dengan perolehan suara 60% lebih. Diurutan kedua pasangan Taufikurahman dan Abu Syauqi, kemudian ketiga adalah pasangan Hudaya Prawira dan Nahadi.

Pasangan Taufikurahman dan Abu Syauqi di kolom iklan meminta maaf kepada para pemilih dan pendukungnya, itu sudah baik dan terpuji. Tapi ada yang lebih terpuji adalah mengucapkan selamat kepada pemenang, bersedia untuk bekerja sama, dan malahan mengajak para pemilihnya untuk mari bersama sama membantu Walikota baru dalam menyejahterakan warganya.

Saya merasa lega ketika membaca di “Tribun Jabar” terbitan 16 Agustus 2008 bahwa “Calon wali kota Bandung Taufikurahman dan Hudaya mengucapkan selamat dan melakukan cium pipi kanan dan pipi kiri kepada Dada Rosada dan Ayi Vivananda”.

Karena apa saya merasa lega, karena kalau para calon sudah mengakui keunggulan lawan dengan mengucapkan selamat, pasti para pemilih di akar rumput akan bersikap legawa. Dan ini adalah cara menanamkan pendidikan demokrasi kepada rakyat Indonesia. Semoga sekali lagi Pilkada-Pilkada di daerah lain akan meniru sejuk dan kondusifnya Pilkada Kota Bandung.

Demikian juga pasangan Dada Rosada dan Ayi Vivananda, seyogianya tidak mendabik dada, karena mabuk kemenangan, tapi dengan rendah hati mengajak seluruh warga Bandung untuk mari bersama-sama membangun dan mendukung program-program dan janji-janji politiknya. Sekaligus Pak Dada melapangkan dadanya berempati kepada yang kebetulan kalah suara. Semoga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s