Pemandangan Alam Sepanjang Jalan Curug Cinulang

Meskipun aku sudah tua, sudah menjadi  aki-aki dan demikian pula istri sudah nini-nini, tapi kalau ada yang mengajak piknik atau bepergian keluar kota Bandung selalu oke saja. Mendadak segala pegal-pegal dan linu-linu hilang seketika. Jadi anda yang masih muda jangan heran kalau di tempat darmawisata banyak ditemukan rombengan maksudnya rombongan rambut beruban dan membawa tongkat itu adalah kawan-kawanku bagian dari anggota “laskar tak berguna”. Tapi yang paling berbahagia adalah jika perginya disertai keluarga dan di dalamnya ada anak cucu.

Berbicara tentang bepergian dengan keluarga karena peserta bepergiannya variatif sekali usianya dari mulai umur 3 tahun sampai umur 70 tahun, tentu saja keinginannya juga sangat beraneka ragam. Kalau aki-aki ingin yang sepi melihat pemandangan yang indah baik di pegunungan nan hijau atau pantai yang resik dengan laut yang biru. Sementara anak-anak ingin yang meriah seperti di mal, ada kolam renang, ada playing fox, ada arung jeram, ada naik kuda. Demikian juga makanan mana ada anak-anak mau makan nasi timbel dengan segala lalapan hijau lengkap dengan sambal terasi dan jangan lupa pepes ikan bibit.Anak-anak lebih banyak memilih kentucky fried chicken, pizza hut, atau hoka-hoka bento. Kalau tidak dipaksa disuapi ibunya anak-anak ada yang kuat tidak makan nasi seharian.

Meskipun rencananya sudah dimulai seminggu sebelumnya tapi pada kenyataannya menjelang hari keberangkatan belum ada kepastian kemana arah yang dituju, ya itulah syaratnya aki dan nini happy, anak-anak suka, remaja bisa berbahagia. Terus ada syarat lainnya perjalanan sehari saja jangan terlalu jauh, karena anak-anak yang hanya liburan hari Minggu saja harus cukup istirahat biar besok hari Senin pergi ke sekolah tidak rungsing alias rewel.

Rencana semakin mengerucut dari berbagai pilihan maka jatuh ke “Pondok Wisata Aki & Enin” terus rencananya dilanjut ke Curug Cinulang. Mengapa memilih itu karena menurut sedikit informasi baik bertanya kepada Google atau juga informasi dari tetangga. Kira-kira informasi singkatnya jarak dari Bandung kurang lebih 30 km, jadi bisa perjalanan sehari, kemudian ada kolam renang dan tempat bermain lainnya untuk anak-anak. Dan letaknya di dataran tingginya Bandung, bisa makan nasi timbel dan bisa leyeh-leyeh di saung yang ditambah angin semilir, para kakek bisa tertidur sementar anak-anak recet di kolam renang.

Pertengahan November 2012 baru-baru ini kami sudah berada di dalam 2 buah kendaraan, yang penumpangnya yaitu dari mulai orok sampai kakek dan nenek. Meskipun tujuan sudah pasti yaitu “Pondok Wisata Aki & Enin” dan ke Curug Cinulang, tapi tidak ada seorang pun yang pernah ke sana. Meskipun begitu pede saja pokoknya dari Bandung ke arah timur, ke arah Rancaekek dan ke arah Cicalengka, selanjutnya tinggal bertanya saja di jalan.

Bepergian keluar Bandung pada hari Minggu harus punya semangat yang membaja untuk menaklukan macetnya jalan, karena begitu keluar rumah pun sudah dimulai kemacetan itu, pasar pagi dadakan di kompleks perumahan, terus kemacetan lain di depan perusahaan tekstil pedagang kaki lima tumpah ke jalan besar. Pedagang kaki lima merasa wong cilik yang tertindas menunutut lahan usaha, lalu pengguna jalan yang juga sama-sama bukan wong gede merasa terhambat perjalanannya oleh serbuan pasar tumpah. Penguasa daerah yang berwenang, harus membuat regulasi yang baik, terapkan di lapangan, lakukan tindakan tegas kepada pelanggar.

Setelah menembus belantara kota dengan segala kemacetannya di beberapa tempat, mulailah kami memasuki jalan Curug Cinulang mesli jalan sempit pas-pasan kendaraan dua arah jika bertemu tidak saling bersenggolan. Kemacetan dan kelelahan “menyumpahi” keadaan di jalan ternyata,  yang entah kapan berubahnya, terobati oleh pemandangan yang mulai menanjak dan udara mulai dingin. Pemandangan ke dataran rendahnya Kabupaten Bandung sangatlah mempesona hamparan sawah yang menghijau terbentang luas mulai dari perbukitan bahkan pegunungan sampai ke bawah disambung dengan pilemburan khas Priangan.

Pemandangan antara Cicalengka – Cinulang

Pemandangan antara Cicalengka – Cinulang

Pemandangan antara Cicalengka – Cinulang

Pemandangan antara Cicalengka – Cinulang

Tengah hari menjelang zuhur kami sudah berada di “Pondok Wisata Aki dan Enin”. Pondok ini ada di bagian atasnya pesawahan, jadi hamparan sawah dataran tinggi yang kelihatan, fasilitas yang ada di lokasi yakni podok-pondok penginapan, kolam renang, permainan anak, dan terapi ikan. Ada saung-saung untuk botram dan istirahat. Masuk ke kompleks bayar Rp 10.000 per orang, kalau mau karaoke juga bayar Rp 25.000 per jam. Makan dengan variasi lauk pauk khas sunda tersedia tinggal keberanian kantongnya saja. Tapi memang tarifnya relatif murah. Di bawah ini foto-foto “Pondok Wisata Aki dan Enin”

Pondok Wisata Aki & Enin

Pondok Wisata Aki & Enin

Pondok Wisata Aki & Enin

Pondok Wisata Aki & Enin

Pondok Wisata Aki & Enin

Pondok Wisata Aki & Enin

Berada di kompleks “Pondok Wisata Aki dan Enin” selama 3 jam sudah puas, bahkan para aki sempat tiduran di saung peristirahatan itu, kemudian makan, keliling kompleks yang tidak terlalu luas, ada yang memancing, dan panjat tebing untuk anak.

Karena jarak ke Curug Cinulang sudah dekat yakni 2,5 km saja dari “Pondok Wisata Aki dan Enin”, maka dengan kekenyangan, segera kami menuju curug tersebut. Curug adalah air terjun, seperti curug-curug lainnya yang ada beberapa tempat di Bandung seperti Curug Dago, Curug Cisarua, Curug Cilayung, dan ini Curug Cinulang.

Curug Cinulang adalah air terjun mungkin tingginya sekitar 30 m, terus karena jalan kendaraan berada di atas, maka jika mau ke dasar jatuhnya air harus berjuang menuruni tebing, yang kebetulan aku masih kuat menuruninya karena dimotivasi oleh cucu, biar cucu bangga akan kakeknya, walau nafas sudah senin kamis. Indah juga curug yang masih orisinil dan berada di hutan yang lebat. Sayang pemeliharaannya oleh dinas pariwisata kabupaten kurang maksimal, masih seadanya saja. Demikian juga di pintu masuk banyak dikerumuni “petugas” yang tidak jelas, dan juga tempat parkir kendaraan yang tidak tertib pembayarannya, nagih seenaknya alias sadaekna.

Curug Cinulang

Curug Cinulang

Demikian wisata keluarga dengan segala kekurangan dan kelebihannya asal pandai-pandai bersyukur,  kami cukup puas, menjelang maghrib sudah berada di rumah masing-masing dengan perasaan puas dan tentu saja bagi aki-aki segera tertidur kelelahan.

Catatan:  Ucapan terima kasih untuk keluarga bang Iwan