Bukit-Bukit di Bukittinggi

Memberi nama suatu wilayah tentu tidak sembarangan. Bukit yang tinggi beda dengan dataran yang rendah. Ini sudah bukit ditambah tinggi lagi, kenyataan geografisnya memang begitu. Kata-kata yang sepadan dengan itu yang membicarakan suatu wilayah dataran tinggi adalah lembah, tebing, curam, ngarai, air terjun, telaga, sejuk, embun, lereng, miring, tanjakan, turunan, kelokan, dan tangga atau jenjang atau janjang.

Dan bro, istimewanya di Bukittnggi kota dengan letak geografis yang jauh dari dataran atau pedataran, kota itu sim salabim didirikan atau berdiri. Satu lagi sobat, Kota Bukittinggi yang tidak begitu luas letak kawasan wisatanya salieuk breh kata orang Sunda, maksudnya melihat ke kanan nampak Ngarai Sianok, melirik ke kiri berdiri Jam Gadang, lurus ke tengah ada Benteng Fort De Kock. Misal saja ketika saya olah raga lari pagi, tidak sampai satu jam ketiga lokasi sudah bisa dikunjungi.

Dahulu ata zaman baheula, zaman Walanda, Bukittinggi digelari Paris van Sumatera, yang bergelar seperti itu juga Medan. Paris van Java adalah sebutan untuk kota Bandung. Kota Bandung dan Kota Bukittinggi sama-sama dataran tinggi jadi sama-sama kota sejuk. Bedanya Bandung adalah cekungan bekas danau purba sedangkan Bukittinggi sudah disebut dataran tinggi yang berbukit-bukit.

Cerita orang kata “bukit” berasal dari bahasa Polinesia “puke”, menjadi “phuket” sesampai di Thailand, dan menjadi “buket” di Malysia, he he he yang enak tetap “bukit” yang menjadi bahasa Indonesia.

Saya ingin memperlihatkan foto-foto yang mendukung bahwa di Bukittinggi banyak jalan naik dan turun, banyak tangga atau janjang. bahkan Pasar Lereng dibiarkan apa adanya miring, biar kalau menuju ke RM Kapau cepat sampai, tapi balik setelah makan berat oleh tanjakan, sudah itu perut kekenyangan lagi.

Ini jalan yang lumayan curam, he he he teknik memotonya payah..

Ini jalan yang lumayan curam, he he he teknik memotonya payah..

Foto di atas itu menunjukkan turunan jalan yang cukup tajam, dan jam 07:30 pagi masih kelihatan halimun, dan ini ditengah kota. Kalau terus berjalan akan sampai di Ngarai Sianok.

Banyak ditemukan janjang atau tangga

Ini gapura ke Janjang Pesanggrahan

Ini gapura ke Janjang Pesanggrahan

Di bawah ini ke Janjang Gudang

Ke Janjang Gudang

Ke Janjang Gudang

Jangan tertukar ada Janjang Gudang dan ada Janjang Empat Puluh seperti di bawah ini:

Janjang Gadang

Janjang Gadang ampe puluah

Mau mencoba menghitung 40 tangga?

Jumlah tangga betul 40

Jumlah tangga betul 40

Di bawah sana ada kelok menuju Ngarai Sianok, kelokan adalah lumrah jika membuat jalan kendaraan di pegunungan

Nun di bawah kelokan ke arah Ngarai Sianok

Nun di bawah kelokan ke arah Ngarai Sianok

Sekian dahulu

Bahan Bacaan: Buku Toponimi Kota Bandung oleh T Bachtiar dkk.

Makan-Makan Makanan Minang

Cerita tentang makanan Padang tidak akan ada selesainya, demikian juga di dunia maya banyak telah ditulis orang tentang makanan yang sedap nian ini. Saya ingin menulis pengalaman sendiri dan pandangan saya sendiri dalam hal menikmati kuliner Tanah Minang ini.

Kami datang ke Tanah Minang dalam rangka meresmikan tali kasih anak kami dalam sebuah pernikahan di Bukittinggi. Pengantin putra dari Jawa Barat sedang anak daronya dari Sumatra Barat asli Bukittinggi.

Datang ke Bukittinggi termasuk sambil menyelam minum air, yang fardunya menikahkan tambahannya wisata ke tempat-tempat yang menarik dan juga jangan lupa menikmati hidangan makanan Padang. Khusus mengenai kuliner makanan Sumatra Barat dari beberapa informasi dalam hal ini Bukittinggi adalah juaranya.

Kami rombongan dari Bandung mula-mula berjumlah 15 orang kemudian karena berdatangan sanak saudara akhirnya berjumlah 25 orang. Karena kami juga berada disana selama 5 hari jadi so pasti ukuran perut menjadi masalah yang diutamakan he he he. Jika di Bandung paling-paling datang ke rumah makan Padang tidak sampai sebulan sekali, tapi pada lawatan ke Bukittinggi pada bulan Agustus 2013 ini makan hidangan Padang hampir setiap hari.

Pemanasan makan makanan Padang

Pemanasan makan makanan Padang

Mendarat di Bandara Internasional Minangkabau dari Jakarta pada jam 13.00 tentu saja perut sudah menagih untuk diisi, tapi seperti tidak ada kesempatan karena kendaraan sudah siap untuk membawa kami ke Bukittinggi, jadi perjalanan belum lama sepakat untuk berhenti di Padang Panjang langsung masuk rumah makan, dan sikaaat makanan Padang pemanasan.

Pemanasan makan di sini lumayan lama, makanan yang saya nikmati adalah gulai kepala ikan tapi nampaknya kepala ikan tongkol besar. Karena ikannya masih segar jadi dagingnya yang putih dan bumbunya yang meresap, cukup membuat saya lupa daratan.

Perjalanan dilanjutkan dengan guyuran hujan, dan biasa terjadi iring-iringan mobil sehingga perjalanan terpaksa merayap, sehingga air terjun lembah Anai hanya dilihat dari mobil saja. Dengan perut kenyang mobil terus meluncur, sekitar jam 17.00 sampailah ke kota tujuan Bukittinggi.

Hidangan ditata di tempat duduk lesehan

Hidangan ditata di tempat duduk lesehan

Malam hari kami diundang makan oleh calon besan, dan yang luar biasa cara menghidangkan lauk pauk yang dimasak ala Bukittinggi sebagaimana umumnya masakan Padang. Puluhan piring berisi lauk pauk dan teman nasi lainnya ditata diatas karpet dimana kami duduk lesehan. Setelah beberapa patah kata selamat datang kami dipersilakan makan. Dan.. masya allah nikmatnya makan dengan lauk pauk yang sangat mengundang selera. Dan malam itu setelah mengucapkan terima kasih kami pulang ke hotel dengan perut kenyang. Undangan makan serupa masih kami terima yaitu saat selesai akad nikah dan sewaktu pamitan kala segala acara telah selesai.

Ikan bilis dalam karung Jangan menangis dan jangan bingung

Ikan bilis dalam karung
Jangan menangis dan jangan bingung

Jangan lupa garingnya goreng ikan bilis atau bilih, ikan kecil ini didapat dari danau. Ketika saya jalan-jalan pagi saya pertama menemukannya di pasar pagi dadakan di jalan ke arah Ngarai Sianok, dipajang begitu saja dalam karung plastik harga perkilonya Rp 60.000,- Ternyata banyak yang sudah dikemas dan tinggal dimakan ditambul bisa, dengan nasi hangat apalagi enak. Ada berita bahwa ikan bilis ini hanya hidup di Danau Singkarak akan tetapi ada juga di Danau Maninjau, bahkan katanya dibudidayakan di Danau Toba.

Ikan bilis dalam kemasan Jangan menangis kan ada yang merindukan

Ikan bilis dalam kemasan
Jangan menangis kan ada yang merindukan

Ikan bilis dijual juga dalam kemasan plastic, demikian juga daging rendang dijual dalam kemasan yang tahan lama, sangat cocok untuk oleh-oleh.

Tidak cukup hanya itu, kami mencoba hidangan nasi kapau di Pasar Lereng dekat Jam Gadang, mencoba sate mak Sakur sewaktu pulang dari Bukittinggi ke Padang, makan ikan bakar di Rumah makan Fujo di kota Padang.

 

Hidangan nasi kapau di Pasar Lereng

Hidangan nasi kapau di Pasar Lereng

Sate Mak Syakur, uih enaknya

Sate Mak Syakur, uih enaknya

 

Gulai kepala ikan kakap, enak sekali, dihangatkan sesampai di bandung

Gulai kepala ikan kakap, enak sekali, dihangatkan sesampai di bandung

Dan oleh seorang kawan anak saya yang sangat baik karena demikian perhatian terhadap kami selama kami di Sumbar, bahkan sebelum naik pesawat dioleh-olehi gulai kepala ikan kakap, yang ketika sampai di Bandung dihangatkan betul-betul lamak bana.

Nuhun ka Kang Gungun dan istri.

Sekian dahulu….

Wisata Bersama Bocah di Sumatra Barat

Sewaktu masih muda umurku sekitar 32 tahun, he he sekarang 67 tahun, tua banget dan cerita lama banget… saya beserta keluarga karena pekerjaan merantau ke Kalimantan Timur, padahal saya orang Bandung. Tahun 1978 orang tua saya bilang: “Mau mencari apa jauh-jauh amat?”. Saat itu ungkapan mangan ora mangan ngumpul, meskipun berbahasa Jawa berlaku juga buat orang Sunda yang artinya “makan tidak makan yang penting berkumpul”. Saya, karena pekerjaan sekali lagi, maksa. Menyedihkan memang saat kedua orang tua meninggal, saya selalu datang terlambat hanya melihat pusara dengan tanah yang masih merah.

Oh, saya melantur kalau cerita bisa kesana kemari, dan untuk itu istri saya selalu protes, karena pertama melantur itu, dan keduanya mulainya terlalu jauh seperti permulaan cerita ini. Nah, jika cuti tahunan dari pekerjaan, kebetulan dibelikan tiket pesawat pp, dan juga bekal uang cuti, kami tidak langsung ke Bandung, tapi berwisata dahulu di tanah air, membawa anak-anak yang kala itu masih usia sekolah SD. maksudnya agar anak-anak banyak pengetahuan dan pengalaman. Dan saat ini tahun 2013, anak saya yang kala itu masih sekolah di SD, telah dewasa telah menikah dan telah memberikan cucu-cucu kepada saya.

Itu peristiwa wisata keluarga 30 tahunan yang lalu, saat ini bulan Agustus 2013 terulang kembali, tapi anggota keluarga bukan hanya 5 orang sekarang sudah menjadi 11 orang, karena ditambah mantu dan cucu, bahkan sudah jadi 12 orang karena tambah mantu satu lagi. Tujuan yang akan saya ceritakan adalah wisata ke Bukittinggi dan Padang, dalam rangka pernikahan anak bungsu saya.

Kata orang jika ingin kebebasan berwisata yang sesungguhnya adalah bepergian sendirian, kemana pergi mengikuti kemauan kaki melangkah, tidak ada yang protes, tidak ada yang mengeluh, tidak ada yang rewel berbeda kemauan. Sepertinya iya begitu tetapi bagi saya kalau boleh memilih enakan rame-rame dengan keluarga, sambil menerapkan pendidikan ke anak cucu, contoh-contoh mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang boleh dan mana yang tidak. Soal direcokin cucu itu biasa, dan he he he kan ada kedua orang tuanya.

Wisata keluarga kali ini selama lima hari itu juga harus punya persiapan yang matang utamanya disesuaikan dengan kebutuhan bocah-bocah itu dari pakaian, makanan, penginapan, dan juga tempat rekreasi harus ditambahkan dan disesuaikan dengan selera anak-anak. Malahan akhirnya wisata orang tua nebeng kepada pikniknya anak-anak. Dunia piknik anak-anak harus dilengkapi dengan kolam renang, arena bermain anak, dan ke mall. Demikian juga makanan jangan lupa KFC, Pizza, McD, ice cream, dan jajanan warung kesukaannya, anak-anak mana suka makanan RM Padang yang serba pedas yang sebaliknya dengan orang tua menyukai sambal hijau dan merah dengan daun singkong, ayam pop, dan daging rendang mana boleh terlewat.

Demikian namanya juga anak-anak, ketika sudah matang merencanakan pergi melihat-lihat Jam Gadang dan Ngarai Sianok, malahan pagi-pagi sukar bangun dan apabila sudah bangun ngotot ingin main game dahulu. Orang tua mau melihat danau Maninjau anak-anak mogok ingin membeli mainan sekitar jam Gadang, wah kalau tidak pandai-pandai merayunya bakalan banyak acara wisata terlewat. Melihat itu saya senyum sendiri, karena ketika anak saya kecil dahulu perilakunya tidak jauh berbeda dengan cucuku saat ini.

Ketika segala urusan telah kelar, liburan telah lekasan, sampailah saatnya pulang, badan terasa sudah loyo, mata mengantuk, tulang-tulang terasa remuk redam, dan pegal segala persendian, baru juga terlelap sesaat di pesawat, karena cucu saya senang sekali bertanya yang aneh-aneh, sebagai kakek gengsi dong kalau tidak tahu seluk beluk pesawat terbang. Terdengar sorakan cucu bahwa pesawat akan mendarat di Cengkareng.

Sekian dahulu…

Meresmikan Tali Kasih di Bukittinggi

Sampai usia pensiun yakni 55 tahun saya belum pernah menginjak tanah Sumatra, padahal cita-citanya sebelum tua renta, selagi masih kuat dan sehat, sangat ingin datang ke sana. Suatu kali pernah akan diajak anak cikal ke Palembang diajak menikmati makanan khasnya pekmpek, tapi ternyata tidak terlaksana. Demikian juga mantu pernah mengajak ke seberang saja ke kota Lampung, sekedar ada cerita pernah datang ke Pulau Andalas, eh gagal juga. Akhirnya hampir putus asa (padahal jangan berputus asa, sebab putus asa adalah dosa!) karena usia terus merayap sampai berumur 67 tahun belum juga ada kesempatan ke sana.

Milik teu pahili-hili, bagja teu paala-ala, demikian peribahasa Sunda menyebutkan bahwa artinya rizki tidak akan tertukar, kalau sudah kepastiannya begitu, ya terjadilah. Asal mulanya anak bungsu lelaki saya yang masih bujangan tertarik kepada seorang gadis asal Bukittinggi. Demikian kuatnya rasa cinta, tingginya tarikan kasih, sampai kepada keinginan membuktikan tali kasih itu menjadi sebuah tali pernikahan. Seiring berjalannya waktu ternyata jalan ke arah perkawinan semakin mendekati kenyataan. Kami sebagai orang tua setelah melihat bahwa anak saya demikian menyayangi dan mencintai anak daro dari rantau, anak Minang, dan sekali lagi putri dari Bukittinggi. Akhirnya kedua orang tua sepakat untuk menikahkannya di Sumatra Barat, di Ranah Minang, di pangkuan bundo kanduang, di tingginya perbukitan Bukittinggi.

Dan… akhirnya, tariknya jodoh yang dicanangkan oleh yang empunya penentu nasib, dua insan, satu lelaki dari tanah Sunda dan satu lagi anak daro cantik asal Bukittinggi ketemu di akad nikah, bersanding di pelaminan. Kami sadulur dari Bandung, dan pihak besan serta ninik mamak dari Ranah Minang turut bersyukur dan berbahagia atas pernikahan anak-anak kami tersebut.

Saya beserta istri ditambah anak dan mantu, ditambah lagi cucu empat total sebelas orang dari jauh sebelumnya telah booking tiket pesawat dari JKT – PDG pp. Kemudian peserta menjadi bertambah banyak karena beberapa saudara dan juga keluarga besan dari si cikal turut serta, sehingga total jendral 25 orang. Saya sangat terharu karena mereka termasuk keluarga anak-anak saya datang dengan mengeluarkan biaya sendiri. Tak disangka penerimaan besan di Bukittinggi juga demikian senang atas kedatangan kami. “Serasa banyak yang menyetujui dan banyak yang merestui” kata pihak besan, ketika saya memohon maaf atas banyaknya anggota yang datang, karena batin saya pribumi akan kerepotan karena ternyata pribumi sering sekali menjamu makan, maklum lima hari begitu…

Kami pihak pria telah menyerahkan segala acara yang akan dilalui sepanjang akad dan resepsinya kepada pemangku hajat yaitu pihak wanita. Ciri sabumi cara sadesa, yang artinya setiap tempat punya tradisi sendiri, atau dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Tentu memang masing-masing mempunyai budaya sendiri-sendiri. Tapi insya allah mereka terutama pengantin baru dapat membina rumah tangga yang diridhai Allah SWT penuh dengan kebahagiaan. Kebahagiaan harus dicari dan diperjuangkan, bahkan mungkin pengorbanan perasaan dan ego masing-masing, insya allah sekali lagi kebahagiaan akan datang.

So… saya aki-aki tujuh mulud hejo cokor badag sambel, pasti banyak yang tidak mengerti artinya, tentu saja saya juga tidak begitu faham maksudnya. Hanya akhirnya sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui, saya dengan bangga memproklamirkan bahwa saya telah pernah menginjakan kaki di Pulau Sumatra, dan bukan main-main di tanah sejuk nan paginya berembun, tanah berbukit dan bertebing, tanah elok tak terperi di Bukuttinggi.

Sekian dahulu…

Aki-Aki Piknik Ke Bali, Yang Unik Yang Menarik

Sebetulnya aku sudah dua kali menginjakkan kaki di Pulau Seribu Puri ini, pertama sendirian tahun 1982 naik bus dari Surabaya ke Denpasar, tak masalah menyusuri jalan darat karena usia masih muda umur 36 tahun. Keduanya tahun 1987 datang lagi ke Pulau Dewata berlima bersama keluarga saat itu anak-anak masih kecil. Dan ketiga kalinya mudah-mudahan jangan yang terakhir, kemarin tanggal 19 sampai 23 Januari 2013 saat Jakarta hampir tenggelam oleh banjir.

Brosur Wisata, sejak dari Airport

Brosur Wisata, sejak dari Airport

Inilah wisata keluarga, meskipun tidak keluarga besar anak cucuku, kami berenam terlaksana mengunjungi Pulau Bali. Perjalanan kami dari mulai Cengkareng – Ngurah Rai – Kuta – Nusa Dua – Belanja oleh-oleh di Sukawati – Jimbaran – Pura Luhur Tanah Lot – Garuda Wisnu Kencana – Belanja oleh-oleh di “Krisna” – sampai kembali ke Bandara Soekarno Hatta Cengkareng Jakarta.

Bali dari kacamata seorang kakek selalu menarik, apalagi selama 12 tahun terakhir aku kurung batok seperti katak dalam tempurung tinggal di Bandung. Memang iya meskipun Bandung punya daya tarik sendiri atas wisata belanja, kuliner, dan wisata bangunan peninggalan budaya khususnya peninggalan zaman kolonial Belanda, tapi Bandung tetap beda dengan Badung dan umumnya Pulau Bali itu.

Entah apa sebab atau asal muasalnya, beberapa kata dalam bahasa Sunda sama artinya dengan kata dalam bahasa Bali diantaranya:  jelema berarti manusia,  polo berarti otak, panganggo – pakaian, uyah – garam, baraya – keluarga, kuren – kawin, lami – lama, pisan – amat, linyok – ingkar janji atau bohong,  kiwa – kiri, kirang – kurang, jalma – manusia, pireng – dengar, alit – kecil, panggih – jumpa, sareng – turut. dan beberapa lagi, didapat dari buku “Istilah Indonesia – Bali” oleh I Nengah Tinggen. Bisa jadi atau mungkin saja kata-kata tersebut sama berasal dari bahasa Jawa dimana sejarah leluhurnya suku bangsa Bali berasal dari P. Jawa.

Sebagaimana penutur bahasa Sunda di tanah Sunda Parahyangan demikian juga percakapan dalam bahasa Bali di tanah Para Dewata sangat kental dipergunakan ditengah penduduknya. Para sasterawan Bali giat menulis dalam bahasa Bali. Itulah sebabnya Hadiah Sastra Rancage (arti Rancage adalah cakap atau pandai) adalah penghargaan yang diberikan kepada orang-orang yang dianggap telah berjasa bagi pengembangan bahasa dan sastra daerah. Penghargaan ini diberikan oleh Yayasan Kebudayaan Rancage, yang didirikan oleh budayawan Ajip Rosidi, Erry Riyana Harjapamekas, Edi S, dan beberapa tokoh lainnya. Dimana mulai tahun 1998 hadiah Rancage juga diberikan kepada sastra Bali.

Misal Hadiah Rancage untuk dua tahun terakhir, tahun 2011 Sastra Sunda Karya: Us Tiarsa untuk kumpulan cerpen Halis Pasir. Sastra Jawa Karya: Herwanto untuk kumpulan cerpen Pulo Asu. Sastra Bali karya IDK Raka Kusuma untuk kumpulan sajak Sang Lelana. Tahun 2012 sastra Sunda karya Acep Zamzam Noor untuk kumpulan sajak Paguneman, Sastra Jawa karya Yusuf Susilo Hartono untuk kumpulan sajak Ombak Wengi. Sastra Bali karya Komang Adnyana untuk kumpulan cerpen Metek Bintang (dari Wikipedia)

Berjenis bunga untuk sesajen

Berjenis bunga untuk sesajen

Sejak mula turun di Bandara Ngurah Rai, sudah tercium bau harum dupa, semilir angin wangi bunga yang ditaroh di beberapa sudut dalam wadah berupa sesajen. Orang bali berbicara bahasa Bali yang dengan logatnya yang kental. Juga sudah mulai kelihatan para pendatang berpakaian sebagaimana layaknya para turis pakaian praktis manis dan sekaligus minimalis.

Karena Pulau Dewata ini juga sudah terbiasa menerima para turis baik asing maupun domestik mereka sudah berpengalaman menanganinya, cepat, ramah, dan memuaskan. Para pekerja sektor pariwisata di Bali ini sepertinya sudah terbiasa berbicara tiga bahasa yaitu bahasa Bali, Indonesia, dan Inggris.

Demikian juga para pekerja itu tidak piduit atau mata duitan, membayar sesuai apa yang disepakati sebelumnya. Mungkin hanya pengalaman aku beberapa kali di tempat parkir pemberian uang ditolak. Demikian juga baik dalam belanja maupun misalnya salah satu contoh dalam penyewaan mobil merasa tidak ada unsur penipuan, nampaknya orang Bali mengutamakan kejujuran.

Tempat persembahan sesajian di depan galery Seni Sukawati

Tempat persembahan sesajian di depan galery Seni Sukawati

Penduduknya juga kelihatan begitu sholeh dalam ibadah ritual, ketika aku menunggu kaum ibu belanja di Sukawati, tak hentinya orang yang beribadat membawa sesajen di Pura kecil di depan Pasar Seni Sukawati tersebut. Kelihatan kesemuanya dilakukan oleh perempuan, mungkin laki-laki dalam ibadah lain.

Satu lagi, meskipun banyak yang berpakaian minim tapi tidak berbau mesum atau asusila, dan aku juga tidak menemukan preman atau semacam jawara, sekali lagi itu dari kacamata aku. Dan ada lagi Pulau Bali ini, karena aku terkonsentrasi di P. Bali bagian selatan terus sebelah barat, timur, maupun selatan nampak pantai yang indah bersih dan asri yang bisa melihat sunset dan sunrise yang dipenuhi para turis asing yang berjemur, terpaksa sebagai seorang Aki harus meungpeun carang alias pura-pura menutup mata.

Kebanyakan orang Bali adalah seniman, memang asal muasalnya dahulu menurut cerita adalah para raja dan tentu beserta para bangsawan dari P. Jawa yang eksodus, bedol desa,  membawa para seniman, budayawan, cerdik pandai, sehingga keturunannya terlihat sampai sekarang. Pulau yang indah terus dikelola oleh tangan terampil yang mempunyai selera dan cita rasa seni yang tinggi. Tak heran di setiap sudut terlihat patung yang mengagumkan, dan di setiap tempat ada pertunjukan berbagai macam tarian

Hampir di setiap rumah punya pura, kelihatan dari tingkat 3 hotel Bakungsari. Mungkin seperti mushola di rumah muslim

Hampir di setiap rumah punya pura, kelihatan dari tingkat 3 hotel Bakungsari. Mungkin seperti mushola di rumah muslim

Memang iya agak mengalami kendala ketika aku sebagai muslim jika saatnya waktu sholat tiba, jarang sekali ditemukan mushala atau masjid, masuk akal di Bandung juga mungkin tidak akan ditemukan Pura. Tapi kan bagi yang bepergian jauh bisa diatasi dengan keringanan yaitu dengan sholat dijama. Satu lagi makanan agak susah, tapi kalau dicari kerap ketemu makanan Jawa, Madura, bahkan makanan Sunda yang halal.

Masjid Al Fattah di jl Danau Bratan kawasan Nusa Dua Bali

Masjid Al Fattah di jl Danau Bratan kawasan Nusa Dua Bali

Dan akhirnya aku menemukan masjid tak jauh dari rumah sewa. Lihat ornamen atap dan gapuranya. Betul-betul ciri sabumi cara sadesa, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.

Aki-Aki Piknik Ke Bali, Cita-Cita Terlaksana

Karena Anda masih muda, dan tentu belum merasakan seperti pengalamanku, saat ini usiaku 67, istri 60, jadi sudah menjadi kakek dan nenek dari empat cucu. Aku ingin bercerita tentang penantian untuk melakukan wisata keluarga bersama ke Bali . Karena meskipun sudah aki-aki kalau ada yang mengajak piknik selalu mau saja. Alasannya sederhana sesuai dengan hak azasi kakek untuk ikut atau tidak ikut berwisata, keduanya kakek-kakek juga mausia…, maksa ya.

Liburan di Bali Tahun 1987, anak sulungku masih 14 tahun

Liburan di Bali Tahun 1987, anak sulungku masih 14 tahun

Dahulu ketika masih muda usia sekitar 40 tahunan, ketika saat-saat mendidik dan membesarkan anak-anak, kalau mendapatkan cuti dari pekerjaan dan biasanya cutinya disamakan dengan liburan anak-anak aku selalu mengajak keluarga pulang kampung dari Kalimantan Timur ke Bandung. Nah biasanya sebelum sampai ke tujuan, kami berwisata dulu, kala itu tahun 1987 kami pergi ke Bali. Waktu itu di Bali hanya 3 hari, jadi baik aku maupun anak-anak sepakat bahwa suatu saat ingin kembali mengunjungi Bali, terus terang belum puas.

Tapi rencana tinggal rencana, cita-cita hanya mimpi belaka, pergi ke Bali hanya sampai dijanji, lamaaaa belum juga terlaksana. Banyak alasan mengapa piknik ke Bali tidak terjadi, misal masalah waktu, diantara anggota keluarga tidak selalu mempunyai libur  yang bersamaan, terus dana juga kadang memprioritaskan  yang penting dulu, dan berikutnya dengan rentang waktu yang demikian panjang anak-anak setamat SD terus ke SMP terus ke SMA lanjut ke PT, dan itu sudah pada melanjutkan sekolah di Bandung sementara aku dan istri tetap tinggal di Kalimantan Timur menyelesaikan tugas sampai usia pensiun datang.

Kesempatan untuk berdarmawisata bersama ke Bali ada titik terang ketika aku sudah pension dari pekerjaan dan kembali bertempat tinggal di Bandung. Tetapi anak-anak sudah semakin dewasa, sudah selesai sekolah, dan sudah muai bekerja,  dan bahkan akhirnya satu demi satu mulai membina hidup berumah tangga. Ya itulah, dari dua anak masing-masing sudah memberikan cucu kepada diriku.

Harapan untuk piknik bersama ke Bali semakin menipis karena melihat kondisi keuangan dimana aku sudah pensiun. Tapi di hati kecil masih ada harapan untuk melaksanakan itu. Hingga suatu saat anak sulungku merceritakan bahwa ada rencana akan mengikuti semacam kursus atas biaya perusahaan tempatnya bekerja, tempatnya di Bali. Dan satu lagi anak sulungku itu mengajak untuk sekalian aku dan istri untuk piknik ke Bali bersama dengan keluarganya. Belum apa-apa istriku sudah mau dan menyetujuinya.

Anak sulungku dan dua orang anaknya saat piknik ke Bali 2013

Anak sulungku dan dua orang anaknya saat piknik ke Bali 2013

Maka kalau Tuhan menghendaki meski 26 tahun kemudian sejak ke Bali tahun 1987 itu, akhirnya aku menginjakan kaki  kembali di Pulau Bali. Pada pelaksanaannya karena aku dan istri tinggal di Bandung sementara keluarga anakku di Jakarta, jadi agar gabung bersama aku harus ke Jakarta dahulu. Meskipun saat itu Jakarta sedang kebanjiran dan untuk sampai ke Bandara Cengkareng penuh was-was akhirnya tembus juga dan betul-betul aku jadi terbang ke Bali. Memang iya tidak pergi se keluarga besar anak-anakku akan tetapi hanya keluarga anak sulungku empat orang kemudian aku dan istri jadi kami berwisata berenam.

Dalam pesawat citilink dari Bandara Soekarno Hatta Jakarta menuju  Bandara Ngurah Rai Denpasar, pertama aku baru merasakan lagi naik pesawat setelah 11 tahun absen, kemudian aku melihat anakku sibuk mengurus segalanya disamping mengurus keluarganya juga ditambah menjaga dua manula yang tentu merepotkanya. Aku teringat 26 tahun yang lalu saat itu aku yang mengurus anak-anak ketika anak sulungku masih ber umur 14 tahun kemudian dua adiknya usia 12 dan 3 tahun.

Demikian dengan perasaan lega dan puas aku dan istri pulang duluan ke Jakarta dan anakku masih melanjutkan training sampai satu minggu. Masih ada cerita mengenai wisata di pulau seribu pura ini, nanti disambung tapi aku bersyukur kepada Tuhan masih diberi kesempatan untuk melakukan wisata keluarga ke pulau dewata itu.

Naik Spoor Mundur…

Aku tinggal di Bandung, adik sekeluarga berdomisili di Cirebon, dan adik bungsuku itu merencanakan mengawinkan anak laki-lakinya di Semarang. Terus dengan sangat, meminta agar aku sebagai sesepuh yang menyerahkan calon pengantin pria kepada keluarga calon besan, itu dilakukan sehari sebelum hari pernikahan dalam acara seserahan. Maka tidak ada pilihan lain aku dan istri harus datang ke Semarang pada waktunya. Kalau bepergian, sepanjang tidak ada aral melintang aku selalu ok saja, asal badan sehat, dan satu lagi ada bekalnya…

Posisi duduk di kelas eksekutif KA Harina

Posisi duduk di kelas eksekutif KA Harina

Adapun jadual kereta api Bandung – Semarang adalah dari Bandung berangkat malam jam 20:30 dan sampai di Semarang pukul 05:06 (8.5 jam) keesokan harinya. Demikian juga dari Semarang ke Bandung berangkat pukul 20:30 dan sampai di Bandung keesokan harinya jam 04:58.

Tarifnya kalau pemberangkatan hari-hari week end yakni Sabtu dan Minggu lebih mahal ketimbang hari-hari week day. Misal aku dan istri berangkat hari Kamis di bulan September 2012 tarifnya kelas eksekutif Rp 155.000, kelas bisnis dewasa Rp 110.000 dan bisnis anak Rp 88.000. Sementara untuk Semarang – Bandung pada hari Sabtu tiketnya adalah kelas eksekutif Rp 185.000, kelas bisnis dewasa 140.000 dan anak-anak Rp 118.000.

Yang aku dan istri tumpangi adalah kereta api Harina kereta api eksekutif  yang melayani Bandung – Semarang Tawang. Nama Harina konon diambil dari bahasa Sanskerta yang artinya adalah kijang. Rute yang dilewati cukup unik, dari Bandung tidak ke arah timur melainkan ke arah barat dulu menuju Cikampek, sampai Cikampek kemudian lokomotifnya diputar dan terus berbalik ke arah timur melewati Cirebon, Tegal, Pekalongan, sampai Semarang Tawang.

Spoorweg, Peta rel KA masa dibuat dahulu

Spoorweg, Peta rel KA masa dibuat dahulu

Ceritanya aku dan istri sudah ada di atas kereta api Harina tersebut, pikiranku melayang ke belakang, meskipun aku tidak mengalami, tapi dari buku yang aku baca yaitu buku “Wajah Bandoeng Tempo Doeloe” oleh Haryoto Kunto bahwa pemasangan rel kereta api dari Batavia ke Bandung, lewat Bogor dan Cianjur, diresmikan pada tanggal 17 Mei 1884.

Berikutnya Staats Spoor yaitu Perusahaan Kereta Api Negara saat zaman kolonial Belanda, juga membuat rel kereta pada tanggal 23 Februari 1918 yaitu jalur  K.A. :  Bandung – Rancaekek – Jatinangor – Tanjungsari – Citali (kesemuanya ada di sekitar Bandung). Sebetulnya direncanakan terus ke Sumedang, namun tak pernah menjadi kenyataan.

Lima puluh tahun kemudian sejak sambungan dari Batavia ke Bandung lewat Bogor, pada tanggal 1 November 1934 diresmikan  jalan baru melalui Cikampek Purwakarta.

Jalur K.A. :  Bandung – Rancaekek – Jatinangor – Tanjungsari – Citali,  yang sebetulnya direncanakan terus ke Sumedang, tidak pernah menjadi kenyataan, bahkan jika saja Bandung – Sumedang rampung, maka ada kemungkinan dibuat rel kereta apai Sumedang – Cirebon.

Karena jalan Bandung – Cirebon dengan kereta api jalannya tidak dibuat oleh Staatsspoor, maka pertama KA Harina harus ke utara barat dahulu sejauh 75 km, keduanya penumpang naik kereta Harina dari Cikampek ke Semarang Tawang terus-terusan sejauh 466 km-an dalam posisi mundur.

Meskipun jalan KA harina mundur, karena kursi tidak bisa diputar, kecuali kesepakatan bersama penumpang lain, tidak masalah, apalagi perjalanan malam hari dimana penglihatan ke luar gelap gulita, atau gelap-gulita karena kebanyakan tidur ya?

Naik KA Harina Bandung – Semarang atau sebaliknya Semarang Bandung secara umum relatif memuaskan, apalagi di Stasiun lebih tertib, bersih, dan nyaman pertama tidak ada calo, kedua aman karena tidak sembarangan orang bisa masuk Stasiun, terus juga pedagang, termasuk pedagang asongan sudah tidak ada.

KA Harina saat pulang dari Stasiun Semarang Tawang menuju Bandung

KA Harina saat pulang dari Stasiun Semarang Tawang menuju Bandung

Demikian perjalanan Bandung – Semarang pp dengan KA Harina berjalan dengan lancar dan cukup memuaskan. Demikian juga dengan acara pernikahan keponakan di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Semarang berjalan dengan sukses.

Saat pulang ke Bandung harus posisi mundur lagi yaitu dari Cikampek ke Bandung sejauh 75 Km, tak masalah karena tidur lagi…