Bangunan Cagar Budaya Di Kota Bandung, Jalan Asia Afrika

No. : 25, Nama Bangunan: Kantor Pos Besar, Lokasi: Jl Asia Afrika 47, Fungsi: Posten Telegraf Kantor, Arsitek: J. Van Gent, Tahun: 1928-1931, Kelas : A. Bagian Samping Kantor Pos Bandung. Foto koleksi Aki Eman 2011

No. : 26, Nama Bangunan: Bank Mandiri, Lokasi: Jl Asia Afrika 51, Fungsi: Kantor Bank, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1915, Kelas: A. Foto koleksi Aki Eman 2011

No. : 27, Nama Bangunan: P.T. Asuransi Jiwasraya, Lokasi: Jl Asia Afrika 53, Fungsi: Kantor Asuransi, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1917-1920, Kelas: A. Foto koleksi Aki Eman 2011

No. : 28, Nama Bangunan: Bank Mandiri, Lokasi: Jl Asia Afrika 61, Fungsi: Kantor Bank, Arsitek: Edward Cuypers,Tahun: 1912, Kelas: A. Foto Koleksi Aki Eman 2011

No. : 29, Nama Bangunan: Perusahaan Listrik Negara, Lokasi: Jl Asia Afrika 63, Fungsi: Gebeo, Arsitek: C.P Wolff Schoemaker, Tahun: 1933, Kelas: A. Foto koleksi Aki Eman 2011

No. : 30, Nama Bangunan: Gedung Merdeka, Lokasi: Jl Asia Afrika, Fungsi: Societeit Concordia, Arsitek: C.P Wolff Schoemaker, Tahun: 1902, Kelas: A. Foto koleksi Aki Eman 2011

No. : 31, Nama Bangunan: Kantor Pikiran Rakyat, Lokasi: Jl Asia Afrika 77, Fungsi: Kantor, Arsitek: C.P Wolff Schoemaker, Tahun: 1925, Kelas: A. Foto koleksi Aki Eman 2011

No. : 32, Nama Bangunan: Hotel Preanger, Lokasi: Jl Asia Afrika 81, Fungsi: Grand Hotel Preanger, Arsitek: C.P.Wolf Schoemaker,Tahun: 1929, Kelas: A. Foto koleksi Aki Eman 2011

No. : 33, Nama Bangunan: Gedung Punten, Lokasi: Jl Asia Afrika 90, Fungsi: Toko Lido ( Mebel Erisa), Arsitek: belum diketahui, Tahun: 1930, Kelas: A. Foto koleksi Aki Eman 2011

No. : 36, Nama Bangunan: Savoy Homann Heritage Hotel, Lokasi: Jl Asia Afrika 112, Fungsi: Hotel, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1939, Kelas: A. Foto koleksi Aki Eman 2011

No. : 39, Nama Bangunan: Vigano, Lokasi: Jl Asia Afrika 188, Fungsi: Pertokoan, Arsitek: Edward Cuypers, Tahun: 1910, Kelas: A. Foto koleksi Aki Eman 2011

Sumber: Hasil Inventarisasai Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung (Bandung Heritage) Tahun 1997  (bandungheritage.org)

Perda Pengelolaan Kawasan dan Bangunan Cagar Budaya di Kota Bandung

Written by DR. Harastoeti DH.   16 December 2009

Kriteria Kawasan dan Bangunan Cagar Budaya
   Mengingat bahwa kegiatan pelestarian kawasan dan bangunan cagar budaya telah dilakukan jauh sebelum dibentuknya Peraturan Daerah ini, Bandung Heritage telah mencoba untuk melakukan studi mengenai kriteria yang dapat dijadikan sebagai ukuran dalam mencari, memilih dan menentukan kawasan maupun bangunan yang layak untuk (atau bahkan harus) dilestarikan. Setelah melalui argumentasi panjang, maka lahirlah kriteria yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah ini, dengan merujuk pada Undang-Undang Republik Indonesia no.5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, yaitu:
(1) Nilai Sejarah
Hal-hal yang berkaitan dengan peristiwa atau sejarah politik (perjuangan), sejarah ilmu pengetahuan, sejarah budaya termasuk di dalamnya sejarah kawasan maupun bangunan (yang lekat dengan hati masyarakatnya), tokoh penting baik pada tingkat lokal (Bandung atau Jawa barat), nasional (Indonesia) maupun internasional;
(2) Nilai Arsitektur
Berkaitan dengan wajah bangunan (komposisi elemen-elemen dalam tatanan lingkungan) dan gaya tertentu (wakil dari periode gaya tertentu) serta keteknikan. Termasuk di dalam nilai arsitektur adalah fasad, layout dan bentuk bangunan, warna serta ornamen yang dimiliki oleh bangunan. Juga berkaitan dengan perkembangan ilmu pengetahuan atau menunjang ilmu pengetahuan, misalnya, bangunan yang dibangun dengan teknologi tertentu atau teknologi baru (termasuk di dalamnya penggunaan konstruksi dan material khusus). Bangunan yang merupakan perkembangan tipologi tertentu.
(3) nilai ilmu pengetahuan
Mencakup bangunan-bangunan yang memiliki peran dalam pengembangan ilmu pengetahuan, misalnya ITB, UPI, Museum Geologi.
(4) nilai sosial budaya (collective memory)
Berkaitan dengan hubungan antara masyarakat dengan locusnya.
(5) umur
Berkaitan dengan umur kawasan atau bangunan cagar budaya. Umur yang ditetapkan adalah sekurang-kurangnya  50 tahun. Semakin tua bangunan, semakin tinggi nilai ke-‘tuaannya’.

Buku-Buku Tentang Bandung

Sampai saat ini sudah banyak buku tentang Bandung telah ditulis, jika Anda ingin mengetahui isi perutnya Kota Bandung, ada baiknya membaca dulu tentang Bandung lewat buku-buku tersebut. Buku-buku itu ada di toko buku, perpustakaan, atau di tempat penjualan buku-buku bekas yang berada di Kota Bandung.

Gambar cover 19 buah buku tersebut saya pajang di bawah ini dari berbagai sumber, mengapa diposting di sini, alasannya biar berkumpul menjadi satu, dan dengan harapan agar mudah mencarinya karena sudah melihat foto covernya.

Seharusnya iya memang buku-buku tersebut dibuat keterangannya lebih jelas,  apalagi jika oleh saya dibaca terus dibuat sinopsis atau resensinya, akan tetapi pertama itu baru cita-cita, keduanya dari sebagian buku-buku tersebut,  saya belum pernah menyentuhnya apalagi memilikinya.

1) Semerbak Bunga di Bandung Raya Oleh: Haryoto Kunto

2) Wajah Bandoeng Tempo Doeloe

3) Braga Jantung Parijs Van Java

4) Bandung Dalam Hitam Putih

5) Balai Agung di Kota Bandung

6) Album Bandung Tempo Doeloe

7) 200 Ikon Bandung, Ieu Bandung Lur!, Pikiran Rakyat

8) Where To Go Bandung

9) Jendela Bandung Perjalanan Bersama Kompas

10) Peta 100 Tempat Jajan Dan Makan Legendaris di Bandung

11) Jajanan Kaki Lima Khas Bandung

12) Ayo Ke Bandung, Peta Kuliner dan Wisata

13) 100 Bangunan Cagar Budaya Di Bandung

14) Oud Bandoeng Dalam Kartu Pos oleh: Sudarsono Katam

15) Pada Suatu Hari oleh: Alinafiah Lubis

16) Made in Bandung

17) Wisata Parijs van Java oleh: Her Suganda

18) Ciri Perancangan Kota Bandung

19) Ramadhan di Priangan Tempo Dulu oleh: Haryoto Kunto

Memotret Gedung Lama di Bandung

Selagi muda saya sama sekali tidak menunjukan minat ke dalam dunia fotografi, jadinya mengenai pembuatan gambar dengan kamera hampir nol besar. Demikian juga dengan hobi mengumpulkan foto, juga tidak punya. Menyesalnya kini ketika masa tua minat saya timbul akan hal-hal yang berbau masa lalu, sebutlah foto-foto bangunan lama dengan sejarahnya.

Kalau saja saya rajin sejak masih muda mengumpulkan foto-foto lama, memail dokumen-dokumen, termasuk mengumpulkan  ijazah atau juga rapor sekolah zaman dahulu, mungkin kalau ada niat menulis atau posting di blog tentang sesuatu yang wis lawas tidak serepot ini. Belakangan ini saya sangat ingin melihat ijazahnya puny kakak saya yang sudah almarhum ketika dahulu lulus AMS Bandoeng.

Tapi, itu semua tak perlu disesali, karena sudah berlalu, dan itu tidak akan kembali, lebih baik apa yang ada dan bisa dilakukan saat ini dalam menjalani hobi atau minat baru yakni berburu foto gedung lama di Bandung. Maksud saya pertama semampunya seorang aki-aki, sekuatnya seorang lansia, seadanya peralatan yakni hanya kamera saku yang sederhana, bahkan hanya menggunakan kamera yang built in dengan HP. Tiada rotan akar pun berguna.

Seyogianya saya bersyukur untuk menunjang hobi baru ini saya mempunyai keuntungan yakni tinggal di Kota Bandung yang tentunya tidak terlalu membutuhkan dana khusus. Hanya dengan naik bus Damri dalam kota, berkendaraan  angkot yang tersedia ke berbagai arah lokasi, terus bahkan dengan cara berjalan kaki sekalian berolah raga dari satu lokasi ke lokasi lain yang berdekatan.

Berburu atau hunting foto gedung lama harus punya waktu, niat, kesempatan, bahkan he he he kesehatan bukan? Dan, menurut saya harus sendirian, waktunya khusus untuk itu, jadi jangan sambilan, jangan sambil belanja misalnya. Nah, kesempatan itu ternyata datang juga hampir dua hari berturut-turut yakni pada pertengahan bulan November 2011 ini.

Dari mana atau dari lokasi mana mulai berburu fotonya sampai kebingungan saking antusiasnya untuk mengawali pemotretan. Akhirnya saya mulai dengan kawasan seputar Alun-alun, dilanjutkan ke  jln Braga, Stasiun KA Bandung, jln Perintis Kemerdekaan, jln Watukencana, jln Merdeka, jln Sumatra,  jln Aceh,  jln Diponegoro,  dan beberapa tempat lagi.

Saat di lokasi pemotretan ternyata ada beberapa kendala misal tenyata memotret gedung yang berlokasi di tepi jalan sulit sekali karena demikian padatnya lalu-lintas kendaraan, padahal memotret gedung yang utuh perlu lahan yang luas dan itu didapat  umumnya diambil dari seberang jalan. Kendala berikut adalah gedung-gedung lawas tersebut ternyata sebagian besar dipagar, dan bahkan ada bangunan yang tertutup oleh rindangnya daun pepohonan, jadi cukup kebingungan dari sudut mana potret harus diambil. Ketiganya gedung-gedung banyak yang digunakan oleh instansi dinas seperti misal instansi militer, kepolisian, departemen, dan juga sekolah. Tentu ada penjaganya, ada piketnya, dan ada sekuritinya. Saya juga tidak begitu mengerti apakah kalau memotret  bangunan gedung perlu minta izin kepada yang jaga atau tidak? Mestinya iya memang harus, adab yang baik meskipun tidak tertulis seyogianya harus meminta izin.

Tapi karena saya cuma tukang foto amatiran, kemudian kalau minta izin rasanya terlalu berlebihan, apalagi harus melalui birokrasi permintaan permohonan tertulis. Akhirnya diambil kebijaksanaan sendiri, pertama selama masih bisa memotret lokasi dengan diam-diam ya.. dijepret saja. Atau keliling-keliling dahulu,  istirahat dahulu supaya jangan dicurigai orang, begitu ada kesempatan ya begitu saja,  jepret lagi. Jika ada sekuriti di situ dan saya hanya mengandalkan “ketuaan” , ditandai dengan uban, dan dengan gaya “segala kepolosan dan ketidak tahuan”, memohon dengan segala hormat untuk memoto gedung. Entah kasihan atau memaklumi seorang lansia maka selama ini tidak mengalami kesulitan, lancar saja tuh!

Dan dari begitu banyak lokasi atau gedung yang dianggap cagar budaya saya sudah berhasil memotret sekitar 50 lokasi/Gedung. Padahal dalam buku keluaran baru  “100 Bangunan Cagar Budaya di Bandung” oleh Harastoeti DH,  baru 100 gedung yang dijadikan cagar budaya, dan masih banyak lagi.

Setelah dua hari berburu foto gedung lama di Kota Bandung, maka saya sudah berhasil mengumpulkan gambar-gambar sebagai berikut:

  1. Grand Hotel Preanger, jln Asia Afrika
  2. Savoy Homann, jln Asia Afrika
  3. Apotik Kimia Farma, jln Asia Afrika
  4. Gedung De Vriest, jln Asia Afrika
  5. Gedung Merdeka, jln Asia Afrika
  6. Gedung PLN, jln Asia Afrika
  7. Eskomto bank, jln Asia Afrika
  8. Kantor Pos Bandung, jln Asia Afrika
  9. Yayasan Kebudayaan, jln Naripan
  10. Centre Point, jln Braga
  11. Landmark, jln Braga
  12. Gedung Bank BJB, jln Braga
  13. Bank Indonesia, jln  Braga
  14. Gereja Bethel, Wastu Kancana
  15. Polrestabes Bandung, jln Merdeka
  16. Gereja, jln Merdeka
  17. SDN Banjarsari, Jln Merdeka
  18. SMPN 5 Bandung, jln Sumatra
  19. Kantor Pusat PT KA Indonesia
  20. Indonesia Menggugat, jln Perintis Kemerdekaan

Sekian 20 lokasi gambar dahulu nanti disambung lagi.

Sebagai contoh di bawah ini:

Hotel Savoy Homann Kini, koleksi Aki Eman

 

Hotel Savoy Homann dulu. (1947), koleksi Nederlands fotomuseum

He he he malah bagusan foto tempo dulunya ya..

Harapan saya semoga kelak satu persatu dari bangunan lawas di Kota Bandung ini akan menjadi  bahan untuk postingan.

Kandang Hewan Qurban di Tengah Kota

Hari Minggu depan tanggal 6 November 2011 jika Allah menghendaki maka akan sampai kepada hari raya Iedul Adha atau hari Raya Qurban. Seperti dalam Al Quranul Karim surat : Ash-Shaaffat Ayat : 107 yang berbunyi : Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.

Sesudah nyata kesabaran dan keta’atan Ibrahim dan Ismail a.s. maka Allah melarang menyembelih Ismail dan untuk meneruskan korban, Allah menggantinya dengan seekor sembelihan (kambing). Peristiwa ini menjadi dasar disyariatkannya Qurban yang dilakukan pada hari Raya Haji.

Tidak aneh banyak kaum muslimin yang mampu untuk melaksanakan qurban mengikuti syariat ibadah ritual dan sekaligus melakukan ibadah sosial dengan membagikan daging qurban kepada merekayang membutuhkannya, pemerataan protein hewani kepada kaum dhuafa.

Beberapa tahun belakangan ini setiap menjelang hari raya Qurban dibeberapa titik di Kota  Bandung banyak bermunculan “showroom” dadakan hewan qurban, biar para muqorib bisa memilih hewan qurbannya yang baik khususnya yang sesuai dengan syariat. Mereka yang memilih khewan qurban bak memilih mobil yang akan dibeli lebih santai, lebih leluasa, dan lebih bersih sekalian mengajak keluarga.

Kandang hewan di tengah kota 1

Kandang hewan qurban di tengah kota 2

Kandang hewan qurban di tengah kota 3

Dengan adanya showroom dadakan yang lebih sehat diharapkan menunjukkan adanya kemajuan dalam memperlakukan hewan khususnya hewan qurban. Tempatnya lebih besar, persediaan makanannya terpenuhi, tidak begitu saja digelar dilapangan seadanya dimana hewan diperlakukan sebagai barang jualan semata, makanan, kesehatan tidak terurus bahkan menderita karena hujan dan kepanasan.

Saya kira kita harus mulai untuk memperlakukan mahluk Allah SWT yang lain yakni binatang lebih “hewani”. Mungkin ke depan akan lebih maju bagaimana penyembelihan yang lebih baik dan tidak lebih menyakiti hewan qurban sendiri. Bahkan juga umumnya cara penyembelihan hewan yang lebih baik di pejagalan atau di rumah pemotongan hewan. Semoga

Trotoar Masih Untuk Pejalan Kaki Bukan?

Bangunan diatas trotoar

Seingat saya trotoar dibuat atau disediakan untuk pejalan kaki. Oleh karena itu jika tiba-tiba ada bangunan di lahan atau diatas trotoar, manusia yang akan lewat terhalangi bukan? dan harus lewat mana?

Di salah satu sudut Kota Bandung ada bangunan baru persis diatas trotoar, dan menurut saya menghalangi orang lewat.

Kalau sedang lowong memang turun saja ke jalan yang disediakan untuk kendaraan, tapi kalau lalu-lintas lagi padat? Terpaksa menerobos lewat bangunan itu saja sambil kalau kebetulan sedang “sholeh” lewat sambil berucap kepada yang lagi duduk berbaris menunggu bis “permisi numpang lewat!”

Lahan usaha diatas trotoar

Masih di sudut Kota Bandung juga kelihatan ada yang membuka usaha tambal ban kendaraan, itu  juga persis diatas trotoar dan jelas menghalangi yang lewat.

Oleh karena itu saya ingin bertannya: ” Trotoar Masih Untuk Pejalan Kaki Bukan?”

 

 

 

Sisa Sawah Di Tengah Kota

Menggarap sisa sawah di tengah kota

Jika berjalan-jalan seputar kota Bandung sekarang ini akan ditemukan di beberapa tempat yaitu pesawahan yang masih digarap.Akan tetapi keberadaan sawah di tengah kota ini tinggal menunggu waktu saja. Hanya dalam hitungan satu atau dua tahun bahkan dalam hitungan bulan pesawahan akan hilang. Biasanya mulai sawah itu tidak digarap, kemudian dikeringkan, terus diuruk brangkal, jadi saja pelataran kering, dan berikutnya berdiri rumah-rumah pemukiman.

Dengan berubahnya lahan sawah menjadi kawasan pemukiman, maka para petani yang mengais rezeki dari keberadaan sawah semakin terpinggirkan. Bukan hanya petani yang menggarap tanaman padi akan tetapi juga akan kehilangan mata pencaharian bagi pencari tutut atau keong sawah, pencari belut, pencari genjer, bahkan peternak bebek pada kehilangan mata pencaharian.

Kandang bebek dibawah menara sutet

Ini cerita peternak kecil bebek yang sempat ngobrol tentang bagaimana usaha beternak bebek di sawah.

Dia membuat kandang bebek dibawah menara sutet (saluran udara tegangan ekstra tinggi). Pengangon bebek itu baru saja membongkar kandang bebek untuk dipindah ke tempat lain.

Cara ngangon atau memelihara bebek mencari makan dengan lahan sawah semakin sempit, semakin sulit dan biayanya menjadi tinggi. Dahulu katanya, kalau menggembala bebek di sawah tinggal menggiring bebek dari satu lokasi sawah ke lokasi sawah yang baru saja selesai dipanen. Tapi sekarang karena sawahnya semakin sempit dan berada di beberapa tempat yang berbeda maka jika bebek-bebek itu akan dipindah ke lokasi lain dan itu harus diangkut menggunakan kendaraan dan itu perlu ongkos transportasi bukan?

Dan ini ada kisah yang dia ceritakan, bahwa sekarang ini kandang bebek di tengah sawah itu harus selalu diawasi siang malam. Mengapa? Karena sejak masakan goreng bebek semakin populer dan disenangi banyak orang, sekaligus harga bebek menjadi naik per ekornya, kalau tidak diawasi sering kejadian kehilangan beberapa  ekor bebek dicuri orang.

Yah, demikian  secuil cerita tentang mereka yang mencari rezeki di pesawahan dimana hanya tinggal menunggu waktu saja, sim salabim! besoknya sudah berubah jadi kompleks perumahan.

Kelapa Muda

Kelapa muda

Untuk kelapa muda orang Sunda menyebutnya duwegan. Dongengnya begini ada beberapa orang kulit putih (tidak biasa memanggil “bule” karena sebutan panggilan itu hanya untuk kerbau yang tak berpigmen saja atau munding bule).

Nah, ceritanya salah seorang Walanda (Belanda) itu ingin makan buah kelapa muda, terus temannya memerintah “Do by gun!” maksudnya biar buahnya jatuh, ya ditembak saja, he he he bahasa Belanda atau Inggris dasar  dongeng!

Tapi kedengaran oleh telinga orang Sunda “Do by gun!” menjadi duwegan..

Sebetulnya saya ingin cerita tentang udara di kota Bandung sebulan belakangan ini terasa panas karena tidak turun-turun hujan. Padahal biasanya kotaBandung lumayan dingin. Saat ini udara terasa panas dan gerah, matahari dipagi hari sekitar jam 08:00 sudah terasa panas, padahal biasanya jam-jam segitu berjemur. Siang hari udara terasa terik terus sampai sore hari, malam hari yang biasanya berselimut tebal sekarang ini malahan selimut dijauhkan.

Enaknya mandi berlama-lama atau berendam di kolam air dingin, dan ditengah hari minum es kelapa muda, uih segarnya!!!

Semoga hujan segera turun membasahi bumi biar tidak gersang tempat kaki berpijak.

Toko Serba Ada “De Vries” di Bandoeng Tempo Doeloe

Toko De Vries. Koleksi Tropenmuseum

Ada baiknya diceritakan bahwa pada masa itu yaitu saat di penghujung abad ke-19, penduduk golongan Eropa jumlahnya sudah mencapai ribuan orang. Pada tahun 1884 kereta api sudah singgah di kota Bandung. Sedangkan pemerintah Kabupaten Bandung di bawah pimpinan Bupati RAA Martanagara (1893-1918).

Dari dahulu selalu saja ada orang yang jeli melihat peluang usaha tersebutlah Tuan M. Klass de Vries adalah seorang wiraswastawan Belanda yang berani mengadu nasib di kota mungil Bandung pada tahun 1890-an.

Kemudian de Vries membuka toko kecil di Posweg yang tentu saja pada saat itu jalan raya Pos sudah ada. Adapun lokasi toko tersebut persis tempatnya di gedung BRI sekarang. Tapi kemudian pindah  menyewa bangunan di sebelah barat Hotel Homann (ujung selatan JI, Braga).

Tentu saja lokasi tersebut pada saat itu sangat strategis karena berada di jantung kota Bandung, dan sekitarnya sudah ada beberapa bangunan diantaranya di seberangnya ada Societeit Concordia, demikin juga sudah disebutkan bahwa sebelah timur sudah berdiri hotel Homann.

Toko De Vries yang dibuka oleh Klaas de Vries pada tahun 1895 berjualan  makanan dan minuman (P & D), alat dapur (pecah belah), kain cita, sepatu, alat tulis dan buku, juga obat‑obatan ‑ tergolong “toko serba ada” pertama di Bandung.

Tuan-tuan tanah dan orang Belanda yang memiliki perkebunan di Bandung Selatan di kawasan Pangalengan kalau mencari hiburan akan turun ke kota  Bandung, dan selanjutnya pasti shoping di toko De Vries ini.

Bagi orang Belanda (orang Sunda sering menyebutnyabangsa Walanda) De Vries adalah toko tempat membeli minuman beralkohol. Dahulu orang Sunda kalau ada orang marah-marah tanpa sebab sering disebut Walanda mabok, mungkin karena dulu Walanda perkebunan sering minum berlebihan dan kelihatan oleh orang Sunda dalam keadaan mabok dan membentak-bentak.

Ada cerita yang langsung saya ambil dari buku “Semerbak Bunga Di Bandung Raya karya Haryoto Kunto:

“Sekali tempo di malam Minggu, pintu toko terkunci rapat tanpa penjaga. Vries sekeluarga pergi pesta. Besok paginya pintu toko didapati terbongkar kuncinya. Botol‑botol minuman keras licin tandas dari etalage dan rak di gudang. Segepok uang melebihi harga minuman yang hilang, tergeletak di meja kasir. Siapa lagi pelakunya, kalau bukan para tuan kebon slebor berkantong tebal yang jadi langganan De Vries. Begitulah kelakuan para Preangerplanters, haus dan gersang seperti cowboy turun ke saloon.”

Demikian sedikit cerita mengenai Toko De Vries tempo doeloe.

Bahan bacaan: Semerbak Bunga di bandung Raya oleh: Haryoto Kunto, Jabar Tribun, Pikiran Rakyat, Djawatempodoeloe.multiply.com.

Bekas Toko Serba Ada “De Vries” di Bandung Kini

Memotret Gedung panjang dengan seutuhnya dari lahan pengambilan gambar yang sempit memang agak sulit dilakukan, apalagi dengan kamera seadanya seperti yang saya miliki. Terpaksa dipajang sepotong-sepotong,  gambar yang agak utuh dari Toko De Vries sekarang adalah seperti di bawah ini:

Toko De Vries dilihat dari sebelah barat

Dan dari sebelah timur:

Toko De Vries. Dokumen PRLM

Kemudian saya sangat ingin tahu tulisan yang tertera di dinding depan Toko De Vries yang telah menjadi hak milik/hak guna bangunan bank OCBC NISP. Terpaksa fotonya dipotong-potong seperti di bawah ini:

Tulisan di dinding Toko De Vries 1

Tulisan di dinding Toko De Vries 2

Tulisan di dinding Toko De Vries 3

Tulisan di dinding Toko De Vries 4

Tulisan di dinding Toko De Vries 5

Kalau disatukan ternyata lengkapnya adalah:

“LANDBOUW  BENOODIGDHEBEN IMPORT  COMMISSIONAIRS VENDUHOUDERS  WARENHUIS  DE  VRIES  EXPORT  KUNST  BOEK -  PAPER  HANDEL”

Menurut Priambodo Prayitno di situsnya (Djawa Tempo Doeloe) maksudnya adalah: Bahwa J.R. de Vries & Co tidak mengusahakan toko sendiri. Mereka adalah “comissionairs” yang memiliki gedung dan menyewakan tempat penjualan kepada para “concessionairs” yang bereksplotasi toko-toko di gedungnya

Saya melihat di terjemahan oleh google walah.. terjemahannya tak karu-karuan.

Juga di dinding ujung gedung ada tulisan sebagai berikut:

Tulisan di ujung gedung De Vries

Tulisannya: “ALLEN VERKOOP VOOR WEST-JAVA VAN RUBEROID DAKBEDEKKING“. Sama saja maksudnya belum bisa dijelaskan, kalau ada yang mengerti dipersilakan untuk memberi informasi.

Ternyata pada pertengahan tahun 2010, bangunan ini kembali dilakukan pemugaran dengan arsitek Ir. David Bambang Soediono. Pemugaran ini menggunakan konsep rekonstruksi semi-restorasi karena ingin mengembalikan tampilan bangunan pada tahun 1955. Bangunan ini, kelak akan dipakai oleh salah satu bank, yakni Bank OCBC NISP. ( “PR”)

Tribun Jabar menulis bahwa Ketua Bandung Heritage, Harastuti Dibyo Hartono, menyambut baik pemugaran bangunan Toko De Vries. Menurutnya, pemugaran yang sekarang sudah sesuai dengan wajah Toko De Vries pada tahun 1955 yang merupakan tahun bersejarah bagi Kota Bandung.

“Saya kira ini bisa menjadi contoh pemugaran-pemugaran terhadap gedung bersejarah. pemugaran De Vries dilakukan dengan tidak mengubah atau mengurangi nilai sejarah di dalamnya. Konsep bangunan yang paling unik dari bangunan ini juga masih dipertahankan,” katanya.

Selamat kepada mereka yang berupaya untuk melindungi warisan budaya kota Bandung!