Bangunan Cagar Budaya Di Bandung, jln Ahmad Yani

Hasil Inventarisasai Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung (Bandung Heritage) Tahun 1997

No. : 11, Nama Bangunan: Bengkel Motor, Lokasi: Jl Ahmad Yani 216, Fungsi: Toko, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1900, Kelas: A

No. : 12, Nama Bangunan: Gudang, Lokasi: Jl Ahmad Yani 220-222, Fungsi: Gudang, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1905, Kelas: A

No. : 13, Nama Bangunan: Dinas Kebakaran, Lokasi: Jl Ahmad Yani, Fungsi: Kantor, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1925, Kelas: A

No. : 14, Nama Bangunan: Pabrik Tekstil, Lokasi: Jl Ahmad Yani 16, Fungsi: Pabrik Tekstil, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1930, Kelas: A

Sumber: bandungheritage.org

Bangunan Cagar Budaya di Bandung, jln ABC

Hasil Inventarisasai Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung (Bandung Heritage) Tahun 1997

No. : 1, Nama Bangunan: Pertokoan Kodros, Lokasi: Jl. ABC 1,3,5,7,9, Fungsi: Pertokoan Ruko Gandeng, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1910, Kelas: A

No. : 2, Nama Bangunan: Toko “Bandung Baru”, Lokasi: Jl. ABC 50,52,54, Fungsi: Pertokoan, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1910-1920, Kelas: A

Sumber: bandungheritage.org

Bangunan Cagar Budaya Di Bandung, jln Aceh

No. : 3, Nama Bangunan: Kantor kotamadya DT II Bandung, Lokasi: Jl. Aceh 1, Fungsi: Kantor Pemerintah, Arsitek: E.H. de Roo,Tahun: 1929, Kelas: A

No. : 4, Nama Bangunan: Toko, Lokasi: Jl. Aceh 38, Fungsi: Rumah, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1915, Kelas: A

No. : 5, Nama Bangunan: Rumah Tinggal, Lokasi: Jl. Aceh 40, Fungsi: Rumah, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1920, Kelas: A

No. : 6, Nama Bangunan: Pendidikan Guru Olahraga, Lokasi: Jl. Aceh 43, Fungsi: Sekolah, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1925, Kelas: A

No. : 7, Nama Bangunan: Perpustakaan UNPAR, Lokasi: Jl. Aceh 47, Fungsi: Perpustakaan, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1930, Kelas: A

No. : 8, Nama Bangunan: Kologdam, Lokasi: Jl. Aceh 50, Fungsi: Jaarbeurs.(Trade Center), Arsitek: C.P Wolff Schoemaker,Tahun: 1920, Kelas: A

No. : 9, Nama Bangunan: Kodam III Siliwangi, Lokasi: Jl. Aceh 59, Fungsi: Kantor Staf Militer, Arsitek: R.L.A & C.P Schoemaker,Tahun: 1918, Kelas: A

No. : 10, Nama Bangunan: Kawasan Kodam III Siliwangi, Lokasi: Jl. Aceh 59, Fungsi: Kantor Komandan Militer, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1900, Kelas: A

Sumber: bandungheritage.org

Bangunan Cagar Budaya Di Bandung, jln Ambon, Anggrek, Arjuna, Aruna

Niat semula postingan ini akan dipajang disertai gambarnya atau keadaan bangunannya pada saat ini, tapi ternyata memotret bangunan sampai upload di sini tidak selalu berhasil. Mungkin ke depan kalau sudah memungkinkan. Sementara ini saja dulu.

Hasil Inventarisasai Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung (Bandung Heritage) Tahun 1997

No. : 15, Nama Bangunan: Villa, Lokasi: Jl Ambon 3, Fungsi: Villa Militer, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1925, Kelas: A

No. : 16, Nama Bangunan: Providentia, Lokasi: Jl Anggrek 60, Fungsi: Asrama Putri, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1935, Kelas: A

No. : 17, Nama Bangunan: Rumah Potong Hewan, Lokasi: Jl Arjuna 45, Fungsi: Varkenslachtuis, Arsitek: Gemeente Bandung,Tahun: 1935, Kelas: A

No. : 18, Nama Bangunan: Pabrik Tekstil, Lokasi: Jl Aruna 53, Fungsi: Pabrik Tekstil, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1935, Kelas: A

No. : 19, Nama Bangunan: Sharp Building, Lokasi: Jl Aruna 57, Fungsi: Pabrik, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1925, Kelas: A

No. : 20, Nama Bangunan: Rumah Tinggal , Lokasi: Jl Arjuna 95,97,99,101,103,105,107,109,111, Fungsi: Rumah Tinggal, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1930, Kelas: B

No. : 21, Nama Bangunan: Rumah Tinggal, Lokasi: Jl Aruna 111, Fungsi: Rumah Tinggal, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1930, Kelas: B

Sumber: bandungheritage.org

Hujan Turun Di Bandung

Seingat saya dahulu tahun 50-an di salah satu tempat di Ciamis bagian utara jika datang kemarau panjang, dan hujan sangat diharapkan datang, ada tradisi memandikan kucing. Kucing yang cadu alias pantang mandi, beberapa ekor diarak oleh warga dibawa ke sungai kemudian dimandikan, meski kucing meronta, tetap saja harus mandi. Upacara ritual memandikan kucing dilaksanakan sederhana saja asal kucing mandi basah. Konon itu akan menyebabkan turun hujan yang diharapkan. Meski hujan datang karena sudah waktunya, tapi warga merasa puas karena telah berusaha dan berupaya.

Ternyata di daerah perkotaan, yang mata pencaharian warganya bukan hanya bercocok tanam, cuek saja akan datangnya musim penghujan. Bahkan pedagang kaki lima sangat berharap hujan tidak turun, bagaimana mungkin barang dagangan sudah ditebar, meski menghalangi yang lewat, kemudian cur hujan turun. Memandikan kucing peliharaan sering dilakukan tapi sama sekali tidak ada hubungannya dengan hujan, jadi meski sedang hujan besar jika mau memandikan kucing ya lakukan saja.

Tidak usah mengadakan ritual memandikan kucing, kemarin Kota Bandung yang sedang panas hareudang alias gerah diguyur hujan besar dan cukup lama, terasa udara kota lumayan sejuk. Breg hujan sing gede, tapi peupeujeuh ulah jadi mamala banjir

Roti Walanda…

image

Zaman dahulu zaman serba susah makanan dan pakaian. Memang bagi yang berduit masalah pangan sandang tidak menjadi persoalan. Tahun 50-an khususnya masyarakat Jawa Barat keamanannya diganggu oleh gerombolan DI/TII pimpinan Kartosuwiryo. Terus tahun 1965 terjadi peristiwa g-30-s, jadi selain dihajar oleh kolonial Belanda juga gangguan oleh sebagian dari bangsa kita sendiri. Sudah dikatakan bahwa kekurangan kebutuhan hidup paling utama yakni makanan terjadi di mana-mana, bahkan wabah kelaparan.

Mulai tahun 70-an khususnya di Bandung mulai kelihatan berbagai kemajuan, pakaian mulai mampu dibeli oleh rakyat kebanyakan. Juga, yang akan diceritakan adalah masalah makanan, misalnya mulai kelihatan atau dirasakan sektor pangan adalah melimpahnya telur dan daging ayam. Masyarakat kebanyakan mampu mengkonsumsi protein yang relatif terjangkau. Di Pasar malam Cicadas misalnya banyak ditemukan penjual goreng ayam dan roti bumbu. Jadi oleh-oleh yang dibawa ke rumah bisa agak berkualitas.

Roti dahulu tahun sebelum 60-an tidak begitu populer di masyarakat kebanyakan, Hanya golongan atas dan mampu yang biasa mengenyamnya. Nah, di tahun 70-an mulainya wong cilik makan roti. Roti yang paling populer adalah roti bumbu. Roti tawar biasa atau roti “kasino” diiris dibelah memanjang terus dibumbui mentega, kacang pindekas, selai nanas, dan ditaburi serbuk coklat, rasanya apalagi dibakar saat itu enaaaak sekali. Penjualnya pun ada yang mangkal tepi jalan atau didorong dengan memakai roda keliling.

Lama kelamaan roti bumbu seperti kehilangan pamor tak begitu kelihatan di kota Bandung, kalau mencari yang seperti dahulu agak susah. Biasa popularitas roti bumbu menurun. Makanan lain yang serentak datang dan juga menghilang di kota Bandung adalah goreng singkong kiju, saat ini jarang ditemukan, tidak seperti ketika muli banyak penggemarnya awal tahun 200-an.

Sesekali ingin rasanya makanan jang rasanya zadul yaitu roti bumbu, baru-baru ini saya masih menemukan ada di Pasar Kosambi Bandung yaitu toko roti bernama “Cari Rasa”. Rasanya memang tidak mengecewakan, enak.

Saling Menzalimi…

Pedagang kaki lima adalah pencari nafkah hidup untuk diri dan keluarganya adalah pekerjaan halal yang tentu saja baik. Akan tetapi jika tempat memasang lapaknya atau ngampar dagangannya di trotoar dimana trotoar adalah haknya pejalan kaki, maka pkl tersebut telah merebut hak orang lain, dan merebut hak orang lain adalah zalim, atau menzalimi orang lain. Dalam KBBI disebutkan menzalimi adalah menindas; menganiaya; berbuat sewenang-wenang terhadap… Berbuat zalim adalah perbuatan tercela dan ajaran agama melarang keras perbuatan itu.

Bukan hanya di trotoar haknya pejalan kaki yang pkl tidak boleh berjualan akan tetapi di tepi jalanan yang bahkan tidak dibuatkan trotoarnya, pkl tetap tidak boleh berjualan. Berjualan di jalanan kompleks perumahan juga tidak boleh, ini bukan hanya hak kendaraan yang lewat akan tetapi juga warga ketiban pulung, lingkungan yang tadinya asri dan nyaman menjadi kumuh, ramai, macet lalu lintas, bahkan untuk lewat hanya membawa badan sekali pun harus berdesakan. Dan meskipun warga sudah menolaknya, pkl tetap berjualan bahkan semakin panjang, semakin ramai, dan warga tanpa bisa berbuat apa-apa merasa dizalimi sudah lebih dari 15 tahun.

Menzalimi hak pejalan kaki bukan hanya pkl akan tetapi juga trotoar dijadikan tempat parkir liar. Ada lagi karena jalan haknya kendaraan penuh sesak alias macet yang disebabkan oleh kaum pkl yang berjualan di sembarang tempat maka kendaraan motor roda dua loncat ke trotoar. Artinya pengendara sepeda motor telah terzalimi pkl kemudian menzalimi hak pejalan kaki.

Akibat dari pkl yang berjualan di tempat yang bukan peruntukannya semisal di tepi jalan itu, yang paling terasa adalah kemacetan lalu lintas. Hak pengendara mobil dan motor telah terzalimi karena terampas oleh kaum pkl dan pembelinya. Akibat dari kemacetan lalu lintas berbagai dampak terjadi, yang sederhana pengguna kendaraan menjadi stres karena berbagai jadwal tidak terpenuhi. Walikota Bandung menyebutkan ada 600.000 orang warga yang menderita stres. Katanya tandanya stres yang paling kelihatan adalah tidak lagi menaruh perhatian atau simpati kepada orang lain, apalagi merasa empati.

Saya belum puas soal pkl ini di Bandung ada contoh abadi penzaliman terjadi akibat pkl ini. Lihat di kawasan Cicadas Bandung daerah paling kumuh dimana pkl mendominasi jalan trotoar dan yang terzalimi hak pejalan kaki dan pemilik toko, dan itu terjadi sudah 20 tahunan. Kalau masih kurang ada satu lagi penzaliman yang terjadi lebih dari 20 tahunan kemacetan lalu lintas akibat pkl dan pekerja yang keluar masuk di wilayah Rancaekek Bandung.

Perdanya untuk memberi hak penertiban oleh aparat sudah ada. Tapi mengapa kita saling menzalimi, dan mengapa melihat semua itu kita menjadi banyak yang impoten.

Lyceum Dago Riwayatmu Kini

SMAK Dagi 1 tahun 2011

Dua tahun yang lalu yaitu tahun 2011 saya membuat postingan mengenai Lyceum di jalan Dago Bandung kalau mau melihat klik disini. Kemudian karena kota khususnya Kota Bandung dinamis tentu mengalami perubahan, ada baiknya beberapa tulisan diupdate supaya pembaca mengetahui bagaimana keadaan saat ini.

Pada bulan Juli 2013 saya sengaja naik lagi ke jembatan penyebrangan, tragis jembatan penyebrangan di jalan Dago ini jarang digunakan oleh penyebrang. Perlu diberi acungan jempol karena jembatan ini paling artistik dan sekarang ada pegangan tangganya, tidak seperti dahulu sampai merasa takut terjerembab.

Ada juga yang tidak patut diberi jempol yakni bangunan Lyceum yang bersejarah dan merupakan penanda jalan Dago Bandung itu kini sudah rata dengan tanah, seperti gambar di bawah ini.

Lyceum nasibmu kini

Lyceum nasibmu kini

Mnyedihkan memang.

Indische Restaurant atawa Rumah Makan Naga Mas di Bandoeng

Sejak zaman dahoeloe Bandoeng terkenal dengan sebutan kota kuliner, bahkan sampai sekarang ini apalagi setelah ada jalan tol Jakarta – Bandung yang dengan kendaraan roda empat bisa dicapai dalam waktu 2,5 jam saja. Nah karena salah satu sebab yaitu jajanan makanan alias menikmati kuliner di Bandung inilah orang Jakarta banyak berduyun-duyun datang ke Bandung.

 Jenis makanan sangat variatif misalkan saja yang padatnya ada nasi timbel, nasi bakar, bahkan nasi edan. Diantara berbagai jajanan yang paling banyak adalah yang terbuat dari tahu, mi, bakso, dan sejenisnya. Sedangkan jajanan khas Bandung lain adalah batagor, siomay, dan cireng. Batagornya ada batagor “Riri” dan batagor “Kingsley”. Sedikit lagi, kupat tahu, surabi, dan bubur ayam Mang Oyo. Wah masih banyak lagi sampai lupa untuk menyebutkannya satu per satu.

 Nah, rumah makan Tionghoa jangan dilupakan, umumnya orang Cina jago masak membuat makanan yang lezat-lezat sampai ada semboyan koki Cina berbunyi:

Semua yang berkaki empat, melata di muka bumi kecuali meja

Semua yang bisa terbang di awang-awang, kecuali layangan

Semuanya bisa dimasak, dihidangka,  dan dimakan

Urang Bandung biasanya tidak menyebut “bule” kepada bangsa kulit putih, sebab sebutan “bule” bukan untuk manusia tetapi untuk kerbau yang bule. Zaman kolonial Belanda menyebut orang kulit putih itu dengan sebutan bangsa Walanda. Makanan untuk bangsa Walanda, disebut makanan Eropa atau menu Eropa.

Adapun restoran beken Bandung baheula yang menghidangkan masakan Eropa diantaranya “Moison Bogerijen” di jl Braga, “Moison Boin” di jl Naripan, “Moison Smith” di jl Merdeka, “Rumah Makan Capitol” di jl Braga, “Paradise Restaurant” di Pasar Baru, dan , “Indisch Restaurant” di Aloen-Aloen Bandoeng.

Indisch Restaurant inilah yang akan saya beri keterangan, ada sebabnya, asal mulanya ada permintaan dari sahabat saya Nane yang menulis komentar pada tulisan saya berjudul …….. isi komentarnya adalah: “Numpang tanya… Mungkin anda punya informasi, tentang sebuah restauran jaman dulu. Namanya : Rumah Makan Naga Mas atau Indische Restaurant. Menurut orang tua kami, letaknya persis di bangunan BRI Tower sekarang”.

Keterangan yang diperoleh dari beberapa buku bacaan di rumah tentang Bandoeng tempo doeloe disebutkan, sekali lagi, bahwa Indisch Restaurant atau betul belakangan namanya menjadi Rumah Makan Naga Mas adalah rumah makan kelas berduit yang menyediakan selain makanan Cina juga menu makanan Eropa, maklum pada saat itu banyak orang Belanda dan Eropa lainnya yang perlu dipenuhi selera makannya. Selain bagi orang Eropa warga kota Bandung, juga bagi para Preanger planters alias para petani kaya yang turun gunung dari sekitar Bandung selatan yaitu petani teh dan kina.

Saat ini bangunan itu sudah tidak ada lagi akan tetapi di lokasi bekas Indisch Restaurant itu berdiri mahiwal alias berbeda dengan bangunan kiri kanannya yang antik, sebuah bangunan menjulang tinggi 16 tingkat bernama BRI Tower, tempatnya Bank Rakyat Indonesia usaha dan berkantor. Alamat jelasnya Jl. Asia Afrika No. 57-59.

 Sepertinya kalau mau nyukcruk sejarahnya bangunan itu, yaitu asal mula sebuah toko bernama Toko de Vries, Toko de Vries di Grote Postweg, sekarang Jln Asia Afrika, merupakan toko serba ada yang mulai dibuka pada awal tahun 1900-an. Pendirinya adalah Klaas de Vries. Toko de Vries berasal mula dari warung kecil  Klaas de vries di utara Aloen-Aloen dimana lokasinya di BRI Tower sekarang ini berdiri sekitar tahun 1986. Sepertinya dari bekas toko Klaas de Vries ini kemudian menjadi Indisch Restaurant.

Seni bangunan dari “Indisch Restaurant” masa dulu, yang banyak menggunakan konstruksi balok kayu adalah perpaduan dari bentuk  sebuah Pendopo (seperti Kabupaten) dengan gaya arsitektur barat dan Cina. Maklumlah, para anemer dan pekerja bangunan tempo dulu pada umumnya Cina, sehingga kreasi jamahan tangan mereka masih terlihat membekas. Yang seumuran dengan Restoran itu adalah bangunan kabupaten Bandung dan Mesjid Agung tempo dulu yang atapnya susun tiga berbau Hindu Jawa.

Yang paling sering disebutkan di tulisan-tulisan, jika kita browsing di internet, yaitu bahwa Indische Restaurant berperan dalam peristiwa heroik Bandung Lautan Api, ceritanya adalah: Pada siang tanggal 24 Maret 1946, TRI (Tentara Rakyat Indonesia) dan masyarakat mulai mengosongkan Bandung Selatan dan mengungsi ke selatan kota. Pembakaran dimulai pada pukul 21:00 di Indisch Restaurant di utara Alun-alun (BRI Tower sekarang).

Mengapa para pejuang membumi hanguskan Bandung karena gedung-gedung strategis yang kemungkinan akan digunakan Belanda. TRI  merencanakan peledakan dimulai pukul 24.00 di Gedung Regentsweg, selatan alun-alun Bandung yaitu gedung Indische Restaurant (sekarang Gedung BRI)  sebagai aba-aba untuk meledakkan semua gedung. Tapi mengapa rencana peledakkan mulai jam 24.00 tapi jam 21.00 sudah mulai? Kemungkinan karena kesalahan teknis, maklum zaman dahoeloe, sebab pada jam 21.00 sudah kedengaran ada ledakan entah dari mana, maka dimulailah pembumihangusan Bandung pada jam itu.

Demikian cerita Indische Restaurant yang tinggal waasna atau tinggal kenangan.

Sumber bacaan: Semerbak Bunga di Bandung Raya oleh Haryoto Kunto, Album Bandoeng Tempo Doeloe oleh Sudarsono Katam & Lulus Abadi, Wajah Bandung Tempo Doeloe oleh Haryoto Kunto, Wajah Bandoeng Tempo Doeloe oleh Haryoto Kunto.

Bangunan Berumur Sepanjang Jalan Pasteur Bandung

Jika Anda memasuki Kota Bandung dari pintu tol Pasteur akan segera sampai ke jalan Dr Junjunan, kemudian jika terus lurus akan menemui jembatan layang Pasupati. Jika sudah kelihatan tangara dayeuh atau landmark seperti gambar di bawah ini Anda pasti tidak akan katalimbung alias lost orientation, yakinlah bahwa Anda sudah berada di Kota Bandung.

Jembatan Layang Pasupati Menjadi Landmark Kota Bandung

Jembatan Layang Pasupati Menjadi Landmark Kota Bandung

Jembatan layang Pasupati (dari nama jl Pasteur dan jl Surapati) diuji coba tanggal 26 Juni 2005, sebagian sekira sepanjang 720 meter persis berada di atas jalan Pasteur. Nah, di jalan Pasteur yang ada di bawah jembatan layang itu terdapat bangunan lama, yang jika Anda tetap berada di jalan layang Pasupati dan naik kendaraan, tentu atau bisa dipastikan bangunan lama itu tidak akan kelihatan. Baru bisa melihat dan memotret bangunan lama itu jika Anda berjalan kaki lalu melongok ke tepi jalan layang tersebut. Foto-foto yang aku pajang di sini adalah hasil foto dimana aku sendiri masuk dan berjalan kaki sepanjang jalan layang Pasupati itu.

Cerita jalan Pasteur ditahun 60-an, dan barangkali beberapa tahun kemudian atau sebelum dibangun jalan layang Pasupati, sangatlah lengang dan asri, di kiri kanan jalan ditanami pohon palm yang menjulang tinggi.

Di sekitar jalan Pasteur ini adalah kompleks kesehatan, pertama akan ditemukan nama-nama jalan yang diambil dari nama-nama dokter terkemuka dalam sejarah Nasional seperti Van der Hoopweg  = Jl. Abdulrachman Saleh, Tirionweg = Jl. Dokter Abdul Rivai, Vosmaerweg = Jl. Dokter Gunawan, Rotgansweg = Jl Dokter  Otten, Rotgansplein = Taman Dr. Otten, Helmersweg = Jl. Dokter Radjiman, Tesselschadeweg =  Jl. Dokter Rubini, Potgieterweg = Jl. Dokter Rum dan seterusnys.

Terus akan ditemukan gedung-gedung pendidikan seperti Sekolah Analis (Laboratorium Kesehatan), Sekolah Pengatur Rawat, dan Sekolah Asisten Apoteker. Tenaga kesehatan prakteknya di RS Hasan Sadikin, yang juga tempatnya para coas mahasiswa Fakultas Kedokteran Unpad berpraktek. Jangan lupa di seberang RS Rancabadak ada sekolah dan sekaligus asrama bidan.

Eh.., padahal aku lagi cerita bangunan lama. Lagian cerita pendidikan kesehatan tahun 60-an itu sekarang tinggal bekasnya, sekolahnya sudah tidak ada lagi diganti dengan jenjang akademi yang entah dimana tempatnya.

Bangunan lama tersebut adalah Het Algemeene Bandoengche Ziekenhuis yang dibangun Walanda pada tahun 1920, kemudian hari menjadi Rumah Sakit Rantjabadak atau RS Hasan Sadikin. Gambar lokasi dahulu seperti di bawah ini

Bangunan Lama RS Rantjabadak atau RS Hasan Sadikin Bandung

Bangunan Lama RS Rantjabadak atau RS Hasan Sadikin Bandung

Saat ini Rumah Sakit itu sebagian sedang dibongkar menjadi bangunan baru yang tinggi menjulang dibangun sesuai dengan tuntutan kebutuhan dan tuntutan zaman.

Bangunan Lama Sebelah Kanan akan segera habis

Bangunan Lama Sebelah Kanan akan segera habis (jl Sukajadi)

Sisa Bangunan Lama RS Rantjabadak (Jl Pasirkaliki)

Sisa Bangunan Lama RS Rantjabadak (Jl Sukajadi)

Hanya demi menghargai bangunan warisan budaya disisakan di bagian mukanya.

Bagian depan RS Rantjabadak dibiarkan tetap utuh

Bagian depan RS Rantjabadak dibiarkan tetap utuh

Jika terus ke sebelah timurnya akan bertemu dengan kompleks Landskoepok Inrichting en Instituut Pasteur juga dibangun Belanda pada tahun 1923, sekarang namanya menjadi Bio Farma.

Institut Pasteur Th 1930

Institut Pasteur Th 1930

Bangunan Lama Pasteur Institute sebelah kanan Bisakah Bertahan?

Bangunan Lama Pasteur Institute sebelah kanan Bisakah Bertahan?

Bangunan lama masih dipertahankan, dengan lapangan rumput yang luas di depannya, indah bukan?

Bangunan lama masih dipertahankan, dengan lapangan rumput yang luas di depannya, indah bukan?

Menurut aku masih ada bangunan lama terletak di jalan Pasteur ini yaitu bangunan gapura masuk ke jalan Dr Slamet, sejarah bangunan ini belum ketemu raratannya.

Gapura Jl Dr Slamet

Gapura Jl Dr Slamet

Sumber:

1. Album Bandung Tempo Doeloe Oleh Sudarsono Katam & Lulus Abadi

2. Komunitas “Aleut”