Perjalanan Antara Malang – Bandung

Dengan KA Malabar saya datang ke Kota Malang untuk tujuan utamanya adalah menghadiri acara akad dan resepsi pernikahan keponakan. Hari ini tanggal 13 November 2011 saya sudah siap lagi untuk kembali ke Bandung. Perjalanan Bandung – Malang, sight seeing di  Kota Malang, membeli oleh-oleh berbagai kripik dan dodol buah-buahan, lalu acara intinya yaitu akad dan resepsi pernikahan telah dilalui dengan lancar tidak kurang satu apapun.

Pulang ke Bandung dari Malang segala sesuatunya sudah dipersiapkan dengan baik, maklum mempunyai waktu yang leluasa, kereta  yang akan berangkat jam 15:30 sudah okey dan status tiket sudah dikonfirmasi sejak pemberangkatan dari Bandung, apa lagi?  everything is OK.

Karena tidak punya acara lagi di Malang maka selanjutnya pada  jam 14:00 saya dan istri (kakak melanjutkan perjalanan ke Pasuruan) berdua sudah berada di Stasiun Malang. Tinggal menunggu rangkaian kereta apinya yang pada jam segitu masih diparkir di sana.

Stasiun Kereta Api Malang

Cari-cari makanan di Stasiun Malang yang khas Malang sepertinya tidak menemui, eh tahu-tahu ada pedagang roti didorong di gerobak kecil tertulis nama rotinya “roti Maryam”, ternyata hangat dan lumayan enak. Meski dari Malang tapi saya ternyata belum membeli apel Malang yang terkenal itu. Terpaksa istri saya mencari di stasiun dan kebetulan masih ada yang jualan tinggal satu kantung, memang apel yang berwarna hijau itu cukup manis.

Tepat jam 15:30 rangkaian KA Malabar datang, dan para calon penumpang segera saja tanpa dikomando naik, setelah semuanya beres kemudian kereta diberangkatkan. Kereta ini terus berjalan dari Malang – Blitar – Kediri, sampai di Kediri sudah gelap biasa di luar tidak kelihatan apa-apa. Setelah sholat dan makan seadanya maka kami sudah “tewas” padahal kereta terus berjalan melewati Kertosono – Madiun – Yogyakarta (jam 24:00) – Banjar – Tasikmalaya (jam 05:30) dan itu sudah terang di luar. Kereta terus berjalan sambil memasuki daerah Priangan yang oleh Pramudya Ananta Toer dalam bukunya “Jalan Raya Jalan Daendels” disebut Priangan si Jelita.

Sebutan si jelita mungkin karena pemandangannya yang elok dan hijau sejauh mata memandang. Kebetulan pagi itu saat kereta api memasuki wilayah Priangan udara sedang cerah dan langit membiru dihiasi awan putih yang bergerombol menambah indahnya pemandangan. Kelihatan di kejauhan gunung-gunung yang membiru, terus hamparan pesawahan yang menghijau, juga ada hamparan kuning dari padi yang sebentar lagi  menunggu untuk dipanen.

Kalau Pramudya Ananta Toer masuk Priangan dari arah barat, sebaliknya kereta api ini datang ke Priangan dari wilayah timur. Inilah pemandangan yang coba saya foto selagi kereta api berjalan agak pelan sehubungan dengan jalan yang berkelok-kelok mengikuti pinggiran gunung dan bukit.

Pemandangan kala kereta memasuki Priangan 1

Pemandangan kala kereta memasuki Priangan 2

Pemandangan kala kereta memasuki Priangan 3

Pemandangan kala kereta memasuki Priangan 4

Selanjutnya Pramudya menuliskan mengenai Priangan:

“Meninggalkan Bogor berarti memasuki daerah Priangan Si Jelita. Priangan lain dari Jawa Tengah. Penduduknya, etnis Sunda, bila bicara laksana menyanyi. Tidak mengherankan bila kesenia rakyat di sini hidup, berkembang, kreatif, dan lebih dari itu: komunikatif. Sebelum VOC mengacak di pedalaman Jawa, orang Sunda mereka namai Jawa Gunung. Dan etnis Sunda memang menduduki tanah pegunungan dan puncak‑puncaknya bertebaran seperti sedang melakukan rapat abadi. Kehidupan damai membuat Priangan seakan membuat penduduknya tidak pernah beranjak dari gunung-gunungnya. Mereka tidak menyukai kekerasan. Raja‑raja memerintah di sini tidak bertarung satu‑sama lain untuk memperebutkan tempat nomor satu “di atas dunia”. Mereka beruni, nemecahkan kesulitan bersama melalui dialog dan persetujuan bersama. Dalam zaman satria, feodal, yang biasa menulis sejarahnya dengan peperangan. Tidak demikian di Priangan. “

Karena asik melihat pemandangan di luar sana, ternyata kereta sudah sampai di Stasiun Kiaracondong dan itu artinya Stasiun Bandung sudah di depan mata tinggal beberapa saat lagi. Dan, Alhamdulillah sampailah kami di Kota Bandung.

Tamat.

About these ads

2 responses to “Perjalanan Antara Malang – Bandung

  1. Foto pemandangan gunung dengan sawah berlereng-lereng ini sangat mengagumkan Pak. Betapa cantiknya Indonesia

  2. Iya Bu saya sepakat, tentunya di Sumatera dalam bentuk ngarai, lembah, pegunungan, dan danau pasti lebih indah lagi. Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s