Kota Tua Batavia, Bahasa Indonesia Tempo Doeloe

Sebagai jeda atau hanya sekedar intermeso dalam menulis “Kota Tua Batavia” saya berpikir pasti saat tempo dulu itu bahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi tidak seperti bahasa Indonesia yang sudah berkembang seperti zaman sekarang ini. Bahasa yang dimaksud adalah bahasa yang dipergunakan di kota kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dsb. Kalau di perkampungan pasti mempergunakan bahasa daerah seperti Jawa, Sunda, Madura, Minang, Batak, dsb.

Saya punya satu buku bernama “Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia” Jilid 1, cetakan KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2000.

Coba bayangkan sudah bahasa Melajoe tempo doeloe terus Kesustraan Melajoe Tionghoa lagi, meskipun saya agak heran mengapa di buku ini tidak didapat ejaan “oe” untuk “u”, “dj” untuk “j”, dan “tj” untuk “c”.

Inilah beberapa cuplikan yang ada dalam buku tersebut:

CERITA

SIE PO GIOK

Atawa Peruntungannya

Satu Anak Piatu

(1912)

Oleh Tio Ie Soei

 Tatkala cerita ini terjadi, kota Batavia atawa Betawi suda berdiri duaratus tigapulu taon lebi. Di itu tempo keadaan di ini negri blon begitu santausa dan rame seperti sekarang. Di tempat-tempat yang sekarang ini ada rame seperti pasar, dimana orang bole berniaga dengen merasa tiada kwatir satu apa lantaran keamanannya..

Atau di lain cerita oleh Tio Ie Soei ada Pendahuluan ceritanya:

 PENDULUAN

Saya rasa tiada lebi dari pantes, bila dari ini buku saya bikin sedikit penduluan.

Sebetulnya suda lama sekali saya ada mempunyai angen-angen buat terbitken “Riwayatnya satu bokser Tionghoa” dan lama saya menimbang, riwayat siapa lebi dulu baek diterbitken.

Ini maksud jadi tertunda, juga sebab saya masi blon bisa dapet..

Atau yang ini,

 Cerita yang betul suda kejadian di pulo Jawa dari halnya satu tuan tana dan pachter opium di Res. Benawan, bernama

Lo Fen Koei

(1903)

Oleh Gouw Peng Liang

 MATAHARI ampir silem dan bulan suda keliatan di udara, sebagai biasanya diwaktu sore di tanggal 9 bulan Cina tetapi blom kluar betul cahayanya, kerna masi ketutup sinarnya mata hari yang masi keliatan pada tepi langit di sebla Barat.

.. ada satu nona Cina lagi sirem kebon sayur dan puhun-puhun kembang, sambil menyanyi pelahan-pelahan. Namanya ini nona Tan An Nio, umurnya 17 taon. Perawakannya kecil tapi bukan kurus, pinggangnya ramping, air mukanya terang dan kulitnya alus, pada pipinya yang puti dan licin ada suwijennya (1), kalau ia tersenyum; alisnya kereng, jidatnya lebar, dan di sebla atas sedikit pada bibirnya yang mera seperti delima, meski juga ia tiada makan siri, ada satu tai laler, seperti kacang ijo besarnya..  Pendeknya satu orang alim mesti birahi hatinya, bila memandang nona manis ini..

——————-

 (1) Lesung pipit, lekukan pada pipi kala tersenyum.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s