Belajar Menjadi Khotib Jumat

Jika kita bepergian pas pada hari Jumat tentunya kita mencari mesjid yang paling dekat dengan posisi kita berada. Mengikuti sholat jumat di berbagai tempat memberikan pengalaman-pengalaman bahkan kekhusukan tersendiri. Meski secara umum penyelenggaraan sholat jumat adalah sama saja yakni ketika sampai waktunya zuhur khotib naik ke mimbar, khotib mengucapkan salam, lalu dikumandangkan adzan oleh muadzin, khotbah pertama, khotbah kedua, kemudian sholat jumat bersama, selesai sudah.

Di manapun yang menjadi muazin, khotib, dan imam adalah mereka yang sudah mumpuni, bisa dan biasa, dan juga biasanya untuk khotib dan imam adalah yang betul-betul mampu, dipercaya oleh DKM dan lagi biasanya, meski tidak harus, sudah berumur. Akan tetapi pernahkah kita berpikir bahwa muadzin, khotib, dan imam, menjadi mampu mengerjakan tugasnya asal mulanya tidak bisa dan tidak biasa kemudian belajar?

Kalau belajar menjadi muadzin, khotib, dan imam bukan langsung pada pelaksanaan sholat jumat adalah biasa dan itu tidak aneh, pasti ada cara belajarnya terutam tempat belajarnya di pesantren-pesantren. Meski pada saat sholat jumatnya, karena ritual ini harus tertib rukunnya, pasti petugas yang ditunjuk sebelumnya oleh DKM. Bahkan untuk khotib biasanya diundang dari luar tidak melulu setiap jumat mendengarkan ustadz lokal atau si kukut. Jadi kesimpulannya meskipun banyak mencetak kader khotib tapi saatnya sholat jumat tidak diserahkan kepada anak muda yang sedang belajar.

Inilah Mesjid yang asri "Baitul Mutta'allimin" di Cisarua Bandung

Saya pernah melaksanakan sholat jumat di sebuah mesjid di Cisarua Bandung Barat, tepatnya di kompleks Bina Siswa SMA plus, SMA Negeri 1 Cisarua. Mesjidnya bernama Baitul Muta’allimin, yang menjadi muadzin, khotib, dan imam adalah anak-anak SMA yang berusia sekitar 18 tahun. Beberapa kali saya pernah sholat di sini dan memang begitu, bahkan jamaah yang hadirnyapun adalah anak-anak SMA dan para guru yang duduk di bagian belakang dan sama sekali sholat jumat tidak diatur oleh para guru tersebut atau DKM yang umumnya dipegang orang tua dan maaf sudah berjenggot. Mereka adalah anak muda yang masih kelimis dan mereka juga DKM-nya, dan saya saksikan baik penyelenggara maupun jamaahnya tertib dan mengikuti rukun-rukunnya sholat jumat.

Saya kira ini cara yang baik, mereka anak didik sejak masih muda dibiasakan berani tampil memimpin di segala bidang, termasuk dipercaya praktek menjadi muadzin, khotib, dan imam sholat jumat.

Saya juga melihat jamaahnya yang kebanyakan para siswa SMA itu begitu tertib dan disiplin mengikuti sholat jumat. Juga misalnya mereka bersalaman sesama jamaah dan mencium tangan saat bersalaman dengan orang tua termasuk para guru dan jamaah lainnya.

Ternyata mereka itu siswa SMA binaan yang diasramakan di sebuah komplek di lembah yang sejuk yakni Yayasan Darma Loka Bina Siswa SMA Plus Cisarua Prov. Jawa Barat. Mereka adalah anak-anak pintar dan berbakat yang diseleksi dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Barat. Mereka adalah anak-anak pintar dari golongan dhuafa atau tidak mampu membiayai pendidikan SMA-nya. Yayasan Darma Loka ini didirikan oleh Bapak Nuriana saat beliau masih menjabat Gubernur Jabar.

Semoga anak-anak ini kelak ketika terjun di masyarakt tidak ragu lagi untuk menjadi muadzin, khotib dan imam sholat jumat.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s