Perbedaan Sebuah Keniscayaan

Oleh: U.H.M. Sudjak ( Jamaah Al Rahmat)

Di dalam sebuah komunitas, betapapun kecinya komunitas itu, pasti ada perbedaan. Perbedaan ini meliputi berbagai aspek kehidupan termasuk, yang biasanya sangat sensitif, perbedaan dalam keyakinan dan agama. Perbedaan terjadi karena perbedaan latar budaya, pendidikan (formal maupun non formal) dan pengetahuan. Betapapun seseorang berusaha bersikaf obyektif  dalam memandang sesuatu, tetapi kadangkala sedikit banyak, atau setidaknya dipandang orang lain, bias dengan unsur subyektif, karena perbedaan latar belakang tadi. Namun demikian latar belakang budaya pendidikan dan pengetahuan seseorang ini pula yang, sebaliknya, dapat membimbing seseorang untuk dapat memaklumi adanya dan menerima perbedaan.Seseorang yang sejak dini terdidik mengemukakan dan menerima pandangan yang berbeda dengan seseorang yang memperoleh pendidikan secara dogmatis dan otoriter.Perbedaan merupakan sebuah keniscayaan, sesuai dengan sunatullah bahwa manusia diciptakan dalam keadaan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal (QS Al Hujuraat: 13). Sekiranya Allah menghendaki niscaya manusia ini dijadikan satu ummat saja QS Al Maidah: 48). Tetapi, masih merupakan kelanjutan dari dua ayat itu, dengan perbedaan itu Allah tidak menghendaki perpecahan melainkan agar manusia saling mengenal dan ingin menguji atas pemberian-Nya serta diperintahkan untuk berlomba dalam kebajikan. Terhadap perbedaan keyakinan dengan agama lain (non Islam) sikap muslim tegas harus mengacu pada Al Quran, karena kitab ini diturunkan sebagai batu ujian (ukuran kebenaran) terhadap kitab-kitab yang lain (QS Al Maidah: 48). bahkan secara tegas pula dinyatakan bahwa “Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku” (QS Al Kaafirun: 6)

Bagaimana sikap muslim ketika menghadapi perbedaan diantara sesamanya? Kembali mengacu kepada kedua ayat di atas Allah menghendaki untuk saling mengenal dan berlomba dalam kebajikan. Saling mengenal berarti saling memahami perbedaan yang ada, mengapa orang lain berpendapat demikian yang berbeda dengan pendapat kita. Jadi pengetahuan mengenai kenapa terjadi perbedaan merupakan faktor penting didalam memahami adanya perbedaan. Rasanya tidak terlalu keliru pandangan yang mengatakan ketika Islam memberi ruang untuk ber-ijtihad, maka sejak itu pula akan muncul perbedaan pendapat, karena ijtihad adalah medannya akal. Walaupun para ulama didalam ber-ijtihad menggunakan sumber yang sama, yaitu Al Quran dan Sunnah, interpretasi mereka dapat berbeda antara ulama yang satu dengan ulama yang lain. Namun demikian perbedaan semacam ini, menurut Prof. M. Quraish Shihab (Sunnah – Syiah, 2007), bukanlah berkenaan dengan prinsip-prinsip agama (Ushuluddin), sehingga tidak mengakibatkan kekufuran bagi penganutnya.

Perbedaan yang mengarah ke benih-benih perpecahan Islam terjadi sejak paruh kedua kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan (23 H – 35 H) sebagai akibat kebijakan politik dan keuangan negara diwaktu itu. Sebagai puncaknya terjadi pemberontakan terhadap khalifah dan akhirnya Utsman terbunuh. Pertikaian politik diantara faksi-faksi Islam berlanjut pada pemerintahan Ali bib Abi Thalib (35 H – 40 H), adik sepupu sekaligus menantu nabi. Situasi semakin memanas dengan terjadinya perang saudara antara Ali dan Aisyah (istri nabi) dan antara Ali dan Mu’awiyah. Umat Islam mulai terpecah-pecah menjadi berbagai kelompok politik besar, yaitu Khawarij, Syiah, dan Umayyah. Golongan Khawarij lahir dari kelompok yang semula mendukung Khalifah Ali kemudian keluar menarik diri dari dukungan, setelah kekalahan Ali didalam diplomasi politik melawan Mu’awiyah. Golongan yang masih setia mengikuti Ali disebut Syiah dan pendukung Mu’awiyah disebut Umayah. Perbedaan politik diantara tiga “partai besar” ini yang semula memyangkut keabsahan kekuatan politik akhirnya berkembang masuk ke wilayah keagamaan. Selanjutnya aliran keagamaan lain berkembang, seperti Mur’jiah, Jabariah, Kadariah, Muktajilah, Asy’ariah, Maturidiyah, dan Ahlusunah, sebagai kelanjutan dari “tiga partai besar” ini. Dalam perkembangan sejarah berbagai aliran itu masing-masing pecah lagi menjadi aliran-aliran sempalan sebagai akibat dari perbedaan penafsiran rincian keagamaan menyangkut kepemimpinan (kekhalifahan), teologi, fikih, dan berbagai pemikiran yang lain.

Demikian sekilas kajian dari salah satu penyebab munculnya perbedaan yang terjadi dikalangan umat Islam. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa perbedaan akan masih tetap ada, tetapi jangan sampai membawa perpecahan. Sebaliknya dengan perbedaan ini umat Islam dituntut untuk terus mengaji dengan semangat memelihara persatuan. Semoga Allah membimbing kita umat Islam untuk tetap arif didalam menyikapi perbedaan, tulus didalam mendiskusikannya demi kejayaan Islam. Wallahualam bishawab.

Diambil dari Buletin Al Rahmat. Taman Blok – Y, Komp. margahayu Raya, bandung 40286. No. 7 Juli 2008 / Rabiul Awal 1429 H.

Diketik ulang oleh Eman Suherman 21 August 2008 11:29

About these ads

2 responses to “Perbedaan Sebuah Keniscayaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s